Gaijin di Jepang


Auto RSS feed from: https://ari3f.wordpress.com  

Di Jepang, orang asing disebut gaijin (外人). ‘Gai’ artinya luar dan ‘jin’ artinya orang. Gaijin adalah kependekan dari gaikoku (外国) atau ‘negara lain’ dan jin berasal dari hitojin (人) atau ‘orang’. Tidak ada orang asing yang memilih untuk dipanggil gaijin, tetapi ini sudah umum, meski masih mengandung ketidakpantasan. Konon, kata gaijin dipopulerkan epik Heike Monogatari pada abad ke-13.

Dalam bahasa Inggris, terjemahan langsungnya adalah alien. Dunia keimigrasian menggunakan kata ini, yang artinya non-citizen atau foreigner. Namun, fiksi-sains mengubah citra alien menjadi ‘makhluk asing’ (yang barangkali berkepala lonjong, mata hanya pupil – hitam saja, ceking – cenderung kerempeng, mengendarai piring terbang dan berbahasa aneh). Meski demikian, gambaran makhluk asing itu masih antropomorfik, menyerupai karakteristik manusia juga. Entah karena hal ini, apakah gaijin jadi istilah yang kurang pantas ^_^ 

Gaijin punya perbedaan cukup jelas dengan orang Jepang. Mereka bukan warga negara Jepang, tidak mengikuti tradisi Jepang, tidak berbahasa Jepang (meski pada akhirnya, banyak juga yang fasih berbahasa Jepang). Gaijin juga wajib membawa kartu khusus alien-nya (gaikokujin toroku shumeisho) ke mana pun ia pergi; jika tidak, bisa ditahan polisi. Padahal orang Jepang sendiri tidak punya KTP! Mereka hanya punya kartu asuransi, paspor atau kartu pegawai. Tapi KTP tidak. Jadi, orang luar ini diberi label. Tapi untungnya bukan David’s Star yang disematkan di lengan warga Yahudi jaman dulu …

Saya jadi bertanya-tanya, mengapa Jepang ‘nampak’ mengisolasi diri, meski di luarnya ramah dan sopan. Setidaknya, ada dua fase sejarah yang mendasari isolationism ini:

Continue reading