Kebangkrutan JAL


Auto RSS feed from: https://ari3f.wordpress.com

Japan Airlines (JAL), firma penerbangan terbesar Asia, memohon perlindungan kebangkrutan (bankruptcy protection) di Pengadilan Distrik Tokyo, pada 19 Januari 2010. Pada hari yang sama, JAL juga minta perlindungan dari pengadilan New York di bawah Chapter 15 US Bankruptcy Code. Langkah ini ditempuh supaya kreditor yang berasal dari luar (dengan sistem hukum berbeda) mengetahui bahwa hutang-hutang JAL telah dilindungi oleh sistem hukum Jepang.

Mengapa JAL rugi?

Memiliki banyak rute penerbangan internasional tak selamanya menguntungkan. JAL mengoperasikan 70 rute internasional, dan ini dijawabnya dengan berekspansi secara impulsif: cabang dibuka di pelbagai negara, jumlah pekerja dinaikkan, perks untuk pekerja diperbanyak. Ekspansi ini penting, namun strateginya dinilai tidak kompetitif menghadapi kebijakan open-sky, resesi global yang tak terduga dan perang tarif (era penerbangan murah). Sehingga pada September 2009, laporan fiskal interim-nya mencatat bahwa pendapatan JAL turun 43% menjadi 225.4 milyar yen jika dibandingkan tahun 2008.

Rute internasional JAL

Dua anak perusahaannya, Japan Airlines International Co. dan JAL Capital Co. pun terlilit hutang. Total hutang JAL dan dua anak perusahaannya itu jadi sebesar 2.3 trillion yen. Angka yang melewati level hutang 22 Sogo Group yang runtuh tahun 2000.

Harga saham JAL pun menukik tajam, ibarat menunggu pilot (baca: pemerintah) menaikkan kembali level pitch-nya.

Sejarah JAL

Membicarakan JAL berarti juga membicarakan maskapai penerbangan milik pemerintah Jepang. Dua tahun setelah dibentuk pada 1951, JAL menjadi flag carrier. Sampai pada tahun 1987, JAL kemudian diprivatisasi agar lebih mandiri dan kompetitif. Mungkin karena kultur yang terbentuk selama 34 tahun, JAL melakukan praktik ‘amakudari’. Meski artinya “turun dari surga”, namun ini berarti bahwa JAL memberikan posisi penting dalam JAL kepada para birokrat yang sudah pensiun sebelum umur 60 tahun. Praktik ini dinilai korup, sehingga dihentikan ketika Isao Kaneko memegang jabatan Presiden Direktur dan CEO JAL tahun 1998, di mana sebelumnya dua jabatan ini selalu dipisah.

Selama 34 tahun itu, JAL juga diberi keistimewaan oleh pemerintah untuk menetapkan regulasi tarif, slot pendaratan rute internasional, dan menjadi subkontraktor pemerintah. Sehingga publik Jepang menyamakan kantor JAL di distrik Marunouchi, Tokyo, mirip “kantor cabang Kementerian Transportasi” karena campur tangannya dalam kebijakan penerbangan. Sejak 2008, pengurusan slot pendaratan dipegang oleh perusahaan swasta.

Hatoyama dan JAL

Sinar keistimewaan bagi JAL sepertinya redup ketika Perdana Menteri Yukio Hatoyama menjabat Perdana Menteri September 2009 lalu. JAL hanya dekat dengan Liberal Democratic Party (LDP) yang sebelumnya berkuasa. Sedangkan Hatoyama berasal dari Democratic Party of Japan (DPJ), partai oposisi yang kini berkuasa. Meski demikian, Hatoyama tetap berkomitmen untuk menyelamatkan JAL dari kebangkrutan karena ini menyangkut citra flag carrier, kemaslahatan publik dan aspek politis lainnya.

Apa Strategi Pemerintah untuk JAL?

Selain meminta JAL untuk memohon perlindungan kebangkrutan, pemerintah mengambil langkah berikut

  • Membentuk Enterprise Turnaround Initiative Corporation of Japan (ETIC)
  • Meminta ETIC dan Development Bank of Japan (DBJ) masing-masing memberi 358.5 billion yen
  • Mengamankan kebutuhan bahan bakar, in-flight meals, sewa pesawat, tiket, mileage point dan tiket untuk pemegang saham
  • Mewajibkan DBJ, Mizuho, Tokyo-Mitsubishi  dan Sumitomo-Mitsui untuk melepas klaim (waive) 358.5 billion yen dari total 710.3 billion yen yang mereka pinjamkan kepada JAL
  • Menyatakan bahwa saham Sumitomo, Norinchukin Bank dan Shinsei Bank tidak berharga lagi
  • Memberi Yokohama, Higo dan Hyakujushi Bank keleluasaan untuk menagih hutang JAL karena pinjamannya bersifat kolateral

Apa Strategi JAL Sendiri?

JAL akan menempuh langkah berikut:

  • Memberhentikan sekitar 15000 pekerjanya antara April 2010 – Maret 2011 (530 kru kokpit, 1320 pramugari, 8800 pekerja firma, 1080 pekerja headquarter, 1050 pekerja divisi aircraft mechanics, 2700 pekerja pensiun dini)
  • Mengembalikan 37 pesawat jumbo dan berpindah ke pesawat kecil dan menengah
  • Menutup 27 kantor penjualan dan pemasaran di luar negeri
  • Memotong dana pensiun sampai 53% untuk pekerja, dan 30% untuk pensiunan JAL. Implementasinya akan dirilis Agustus 2010
  • Berpindah dari aliansi Oneworld ke grup SkyTeam, agar bisa kerjasama dengan Delta Air Lines. Delta adalah pemegang rute terbesar dari Jepang ke Amerika (32%), Seoul, Singapura
  • Berdasarkan kebijakan open-sky JAL dan Delta akan memohon kekebalan antitrust dari pemerintah Amerika akhir Februari nanti

Masa Depan JAL

Kini JAL berada di posisi yang menguntungkan. Shinichiro Ito, CEO All Nippon Airways (saingan JAL), memprediksi bahwa JAL akan menjual tiket semurah-murahnya karena sebagian hutangnya tanpa ikatan pengembalian. Namun, cukup sulit memprediksi apakah JAL akan untung tahun ini jika hanya berdasar strategi jual tiket murah. JAL sendiri optimistik. Ia memproyeksikan penjualan 1.36 trillion yen pada Maret 2013. Ini berarti JAL akan meraup untung 49.7 billion yen pada Maret 2012, dan 115.7 billion yen pada Maret 2013.

Sekarang, tanggung jawab terberat ada pada CEO JAL yang baru, yaitu Kazuo Inamori. Ia baru dilantik 1 Februari 2010 nanti. Inamori adalah pendiri Kyocera Corp. dan sahabat Ichiro Ozawa (Sekjen DPJ). Kita lihat nanti apakah hubungan mesra JAL dan pemerintah bisa membawanya keluar dari kebangkrutan.

*Kolom “Email dari Tokyo”, Berita Harian, Singapura, 26 Jan 2010

One thought on “Kebangkrutan JAL

  1. Thank you a lot for your interesting post. I have been searching for such post for a very long time. Not all your content is completely easy to understand to me, even though it is definitely interesting and worth reading.

    ari3f:
    You’re welcome. JAL is currently managed by the CEO of Kyocera, big company in Japan. It’s easy to understand why Hatoyama administration chose the CEO: to inject more cash (from a healthy company) when the government has only a penny to help JAL. JAL is widely known as a symbol, but today’s airline competition is tight: customers do not buy symbol, they buy cheaper ticket, modern aircraft, excellent service. One strategy is to tie up with Southeast Asian airlines in one alliance. Rule the regional market, remove the perks and amakudari.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s