Menulis


Auto feed RSS from here

Di Bandung yang (dulunya) dingin, tahun 1997, saya mendengarkan radio (mungkin Rase FM). Radio ini mengundang seorang penulis dan menanyakan suatu yang lumrah, namun mendasar: bagaimana caranya menulis? Jawabannya “lucu”: setiap orang pasti bisa menulis; yang dia perlukan adalah diam, tutup mulut, dan mulai menggoreskan pena atau mengetik di komputer. Menulis, singkatnya, adalah aktivitas tutup mulut, tangan menulis. Yang dilupakan adalah bagaimana membuat otak bekerja sehingga bisa “tumpah” semua ide-ide atau keinginan menulis. Yang dilupakan adalah interface antara otak dan kertas/komputer. Tapi acara di radio itu berkesan hingga hari ini. Saya tidak bisa menulis sambil ngomong.

Goenawan Mohamad, seorang penyair dan esais “Catatan Pinggir” – TEMPO, pernah menulis dalam pengantarnya

Seperti halnya membentuk cawan yang tak habis untuk dipakai, menulis pada dasarnya adalah pekerjaan yang resah.

Read More