Lomba Makan Kari India di Tokyo


Auto RSS feed from https://ari3f.wordpress.com

Untuk urusan kuliner, Jepang punya kekhasan sendiri. Sushi, tempura, sashimi, takoyaki (bolu isi cumi-cumi), yakitori (semacam sate) dan pelbagai jenis mie, seperti soba, ramen, udon berasal dari Jepang. Tapi, yang lebih menarik, jika kita mencoba makanan negeri lain di Jepang. Makanan India, misalnya. Di Jepang, makanan India cukup terkenal. Orang Jepang memang punya makanan jenis curry (hasil perkawinan antara nasi Jepang dengan curry India), namun rasanya tidak sekaya curry India. Curry Jepang juga tidak terlalu pedas. Jadi, bagi orang Jepang yang gemar makanan lebih pedas, mereka biasanya pergi ke restoran India.

Di prefektur Tokyo, banyak sekali ditemukan restoran India. Makanannya campuran antara India Utara dan Selatan. Mereka menyediakan naan, butter chicken, chicken masala, mutton curry, tandoori chicken, seafood curry, serta minuman lassi dengan bermacam-macam rasa.

Minggu lalu, saya dan seorang kawan pergi ke sebuah restoran India. Restoran ini kecil namun cukup ramai ketika jam makan siang. Harga jam makan siang biasanya relatif lebih murah, sekitar 600 yen (SGD 9). Restoran ini memiliki manajer, pelayan dan chef dari India. Mereka semua fasih berbahasa Jepang. Untuk menarik pelanggannya, mereka memiliki cara yang unik: lomba makan.

Makanannya pun tidak sembarang makanan. Makanannya ekstra-pedas. Jika rata-rata menu punya level kepedasan 1, maka makanan yang dilombakan adalah 12 kali lipat pedasnya. Kita bisa memilih satu dari dua set yang disediakan:

  • Normal size – terdiri dari 1 mangkuk super hot chicken curry dan 4 super hot masala naan yang harus dihabiskan dalam waktu 15 menit. Jika tidak berhasil kita harus membayar 1000 yen (SGD 15)
  • Super large size – terdiri dari 1.2 kg nasi, 1 liter super hot chicken curry yang harus dihabiskan dalam waktu 30 menit. Jika tidak berhasil kita harus membayar 2500 yen (SGD 37.5)

Pengumuman lomba makan kari ekstra pedas (courtesy: Tan Kwek-Tze)

Ketika memakannya, kita hanya disediakan satu gelas air dingin saja. Tidak bisa isi ulang. Jadi harus berhemat air. Kami pun memesan yang ukuran normal.

Setelah 10 menit, pesanan datang dan pelayan bertanya lagi (sembari tersenyum): “Daijobu desu ka?” (Tidak apa-apa kan?). Hal ini ditanyakan beberapa kali, karena pelayan kuatir kita tidak sanggup memakannya. Tapi restoran ini sudah siap menelpon ambulan jika kita mengalami gangguan lambung (seperti ditulis dalam pengumuman di foto di atas – tulisannya kecil sekali).

Setelah kami mengiyakan, dan cukup cemas memang, pelayan menaruh stop watch besar dan mempersilakan makan. Kami pun makan dengan lahap, sambil (tentu saja) berpeluh dan kepedasan. Setelah 14 menit kami berdua berhasil menghabiskannya. Pelayan, manajer dan chef semua bertepuk tangan, sambil mengucapkan: “Omedetou gozaimasu!” (Selamat!). Pelayan segera mengambil foto kami untuk dipasang di “hall of fame” restoran mereka.

Hall of fame pemenang lomba makan pedas (courtesy: Tan Kwek-Tze)

Termasuk kami, ada sekitar 14 16 orang yang berhasil memenangkan lomba makan set normal. Dan hanya satu orang saja yang berhasil menghabiskan 1 set super large size. Kami pun pulang dengan hati senang karena dapat makan siang gratis. Yang kurang “senang” barangkali perut kami, karena makanan tadi benar-benar pedas dan menyiksa perut! Manajer restoran ini mengatakan bahwa di India sendiri, tidak ada orang yang berani makan makanan pedas itu. Abnormal, katanya!

Info: DIL KHUSH Restaurant. 1-10 Takakuramachi, Hachioji, Tokyo Prefecture 192-0033, Japan. Tel: +81 42-648-5227

Orang India di Jepang

Menurut catatan sejarah, orang India yang datang pertama kali ke Jepang membawa misi agama Buddha. Ini terjadi pada abad ke-6 masehi. Pada abad ke-8, seorang pendeta Buddha, bernama Bodhisena, meresmikan patung Buddha di Todaiji Temple, Nara. Di era modern, persahabatan juga terjalin antara sastrawan Rabindranath Tagore dan pemikir Jepang, Okakura Tenshiin. Pada era Meiji, Jepang mengimpor kapas dari India. Setelah perang dunia II, PM India Jawaharlal Nehru menghadiahkan seekor gajah yang dinamai “Indira” kepada kebun binatang Ueno, Tokyo, tahun 1949. Gajah ini sangat populer di Jepang, terutama bagi anak-anak Jepang.

Setelah beberapa tahun berbenah, Jepang membuka kembali hubungan diplomatik dengan India, tepatnya tahun 1952. Jepang mengimpor bijih besi dan mengekspor mesin berat, otomotif dan elektronik. Jepang juga mulai memberikan pinjaman kapital kepada India sejak 1958. Hubungan ini berlanjut terus dalam bidang kebudayaan, pendidikan, banking, riset dan industri.   

*Kolom “Email dari Tokyo”, Berita Harian, Singapura, 1 Feb 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s