Econocides


Auto RSS feed from https://ari3f.wordpress.com

Di desa Shinjo yang sepi, anak seorang polisi “meminjam” revolver ayahnya. Ia lalu bunuh diri. Prefektur Okayama, provinsi desa itu berada, gempar. Ia baru 16 tahun, namun ia mengakhiri hidupnya di Kamis yang murung itu  (21 Januari 2010). Sebuah suicide note ditemukan di mejanya yang rapi. Intinya: ia tak ingin hidup lagi.

Kematiannya mengisi daftar bunuh diri bulan Januari 2010 di Jepang. Badan Nasional Kepolisian Jepang (Keisatsu-chou) mengatakan bahwa angka bunuh diri naik 1.6% menjadi 32753 jiwa. Ini berarti bahwa dalam kurun waktu 12 tahun angka bunuh diri Jepang tetap di atas 30000. Dua puluh delapan persen di antaranya adalah perempuan. Angka bunuh diri Jepang dua kali lipat dibanding Amerika Serikat. Ini menyebabkan stereotip ‘negara bunuh – diri’ tambah melekat. Tradisi samurai (hara-kiri) dan pilot kamikaze (nikudan, human bullet) juga makin memperkuat stigma.

Stereotip ini kurang benar karena angka bunuh diri Jepang meningkat 12 tahun belakangan, sejak krisis moneter tahun 1998. Media Jepang bertanggung jawab atas sensasionalisasi berita bunuh diri sehingga Jepang dianggap memiliki suicide culture. Padahal bisa jadi bunuh diri ini disebabkan motif ekonomi.

Motif

Penelitian menyebutkan bahwa faktor ‘ekonomi’ merupakan motif utama kenapa seseorang bunuh diri. Misal: gagal dalam mendapatkan pekerjaan (angkanya naik 40%) dan kehilangan pekerjaan (naik 20%). Motif ini kemudian disebut “econocides” atau economic – suicides, dan banyak dialami oleh orang Jepang berusia 20an hingga 30an tahun.

Ada juga motif tanggung jawab sosial. Bunuh diri ini disebut inseki jisatsu. Lelaki berusia 50an tahun berada di kelompok yang paling banyak melakukan inseki jisatsu. Ada dugaan bahwa mereka mengorbankan dirinya agak dapat meninggalkan klaim asuransi untuk keluarganya.

Motif lainnya adalah rasa bersalah dan ketergantungan terhadap minuman keras (alkohol).

Depresi

Motif-motif di atas sepertinya disebabkan oleh lemahnya seseorang mengatasi depresi. Depresi di Jepang meningkat 2.4 kali lipat dalam satu dekade terakhir. Angkanya mencapai 1 juta orang. Penyebab depresi diantaranya:

  • Resesi ekonomi yang menyebabkan bangkrutnya perusahaan dan kerja berlebihan (overworked) karena banyak pegawai yang dipecat
  • Masalah keluarga seperti perceraian dan meninggalnya orang yang dicintai
  • Kampanye yang meyakinkan perusahaan supaya mencutikan orang-orang yang mengalami depresi (alih-alih menyemangati, meliburkan mereka justru menambah tingkat depresi)
  • Obat anti-depresan jenis baru, yaitu selective serotonin reuptake inhibitor (SSRI). Meski belum ada pembuktian klinis, psikiatris Shinichiro Tomitaka dari divisi asuransi kesehatan Panasonic Corp. menyebutkan bahwa angka depresi di Barat meningkat ketika SSRI mulai dipasarkan

Psikiatris menyebutkan bahwa depresi biasanya terjadi pada orang-orang yang memiliki rasa tanggung jawab besar terhadap pekerjaan. Mereka menyarankan untuk menyembuhkan depresi dengan berolahraga. Obat antidepresan akan dikontrol lebih ketat.

Solusi

Kurihara, kota di utara Jepang, memiliki cara efektif untuk menurunkan angka bunuh diri. Pemerintah setempat menyadari bahwa setelah krisis ekonomi tahun 1998, angka bunuh diri meningkat dan tak pernah turun. Di samping menangani masalah depresi, pemerintah Kurihara juga memberikan pinjaman lunak disebut nozomi (hope loans) untuk membantu orang miskin yang terlilit hutang. Meski ada yang menganggap hal ini tidak menyelesaikan akar masalahnya, tapi cara ini cukup efektif.

Tahun 2009, pemerintah mengucurkan dana 15.9 milyar yen untuk proyek mengatasi bunuh diri. Dana ini digunakan untuk pelayanan kesehatan mental, pelatihan bagi pengangguran, pendidikan, aktivitas sosial, riset sosial, konsultasi masalah hutang, help lines, memonitor website dan membuat pembatas keselamatan (safety barrier) di stasiun kereta api.

Beberapa psikiatir mengusulkan untuk membangun awareness masyarakat mengenai depresi dengan kampanye atau iklan. Hal ini disebabkan bahwa depresi dan konflik kehidupan belum menjadi topik yang terbuka di Jepang; topik ini masih dianggap memalukan. Padahal, mendiskusikannya berarti usaha mencari solusi. Kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai depresi menyebabkan depresi itu sendiri tidak bisa diatasi.

*Kolom “Email dari Tokyo”, Berita Harian, Singapura, 16 Feb 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s