Pensiunnya Sang Yokozuna: Asashoryu


Auto RSS feed from https://ari3f.wordpress.com

Sumo: more than just fat guys in diapers …

Barangkali olahraga klasik yang terkenal di luar Jepang adalah sumo. Sumo identik dengan kontak fisik dua pemain bertubuh gemuk, yang hanya memakai cawat dan berambut panjang terikat. Sumo juga diwarnai ritual yang khidmat, di mana penonton kontan terdiam melihat pesumo memberi hormat, bertepuk, berkumur dan melempar garam (shiomaki). Kemudian aksi dorong di dalam dohyou (ring) atau menjatuhkan tubuh lawan terjadi. Pesumo (rikishi) yang menang diberi setumpuk amplop oleh wasit.

Sumo lahir 1500 tahun lalu di Jepang dan merupakan bagian dari ritual agama Shinto. Ia merupakan hiburan di samping drama dan tarian yang mengiringi ucapan terima kasih kepada dewa-dewa karena hasil panen yang berlimpah. Pada periode Nara (abad ke-8), sumo diperkenalkan ke keluarga kerajaan. Sumo yang awalnya hanya gulat kasar dibimbing oleh kerajaan agar memuat seni, tradisi, strategi dan sikap khidmat. Sumo yang dilihat hari ini adalah sinkretisme dari dua dunia ini.

Januari lalu, Grand Sumo Tournament berlangsung di Tokyo. Turnamen ini dimenangkan oleh pesumo kawakan, Asashoryu Akinori. Asashoryu, yang sebenarnya gaijin (orang asing) dari Mongolia dengan nama asli Dolgorsuren Dagvadorj, berhasil mengalahkan pesumo Estonia bertubuh menjulang hampir 2 meter, Baruto (nama aslinya Kaido Hoovelson).

Tetapi tak lama, Asashoryu mendadak mengumumkan pensiun dininya sebagai pesumo. Konferensi pers pada 4 Februari lalu sungguh mengejutkan dan menyedihkan bagi dunia sumo. Sumo kehilangan seorang yokozuna (ranking tertinggi di dunia sumo) yang gulat singkatnya memikat. Asashoryu dikenal lebih menonjolkan strategi daripada fisik belaka.

Mengapa Asashoryu mengundurkan diri dari jagad per-sumo-an?

Skandal terjadi di luar dohyou.

Asashoryu, yang datang ke Jepang sebagai exchange student ini, diduga memukul seseorang ketika mabuk. Pelatihnya, Takasago, mengatakan bahwa yang dipukul adalah manajernya sendiri. Namun, karena berita di media massa simpang siur, sebuah komite penyelidikan dibentuk oleh Asosiasi Sumo Jepang (JSO). Setelah menginterogasi pelatih dan sopir Asashoryu, ketua komite tetap tak dapat mengkonfirmasi adanya aksi kekerasan.

Komite kemudian menginterogasi Asashoryu dan pelatihnya secara tertutup. Setelah keluar dari ruang komite, Asashoryu mengumumkan pensiun dininya. Dalam jumpa persnya, Asashoryu secara diplomatis mengatakan bahwa ia merasakan tanggung jawabnya sebagai yokozuna dan meminta maaf atas kesulitan yang dialami berbagai pihak karena dirinya.

Terakhir diberitakan bahwa berita tersebut benar adanya dan seseorang yang dipukul adalah teman yang tidak ada hubungan dengan dunia sumo.

Asashoryu sendiri dikritisi sebagai pesumo yang sering melanggar tradisi dan kurang mampu membawa nama baik yokozuna. Yokozuna memiliki tiga kriteria: tenaga (power), keahlian (skill) dan martabat (dignity). Tenaga dan keahlian sangat dimiliki oleh Asashoryu, namun seiring berjalannya waktu martabat Asashoryu makin dipertanyakan.

Ia kerap kali terlibat skandal di luar dohyou. Tahun 2003 ia didiskualifikasi karena menarik cawat lawan. Ia juga dikenal bertemperamen tinggi dan pernah bersitegang di atas dohyou. Tahun 2007, dia dilarang main dua turnamen setelah ketahuan bermain bola di Mongolia. Dia juga pernah diperingatkan karena bermain golf sebelum turnamen dimulai. Cukup ketat memang. Pesumo biasanya dilarang bermain olahraga apapun selain sumo.

Namun demikian, Asashoryu adalah yokozuna yang paling digemari di Jepang. Karirnya cukup pesat, total dia memenangkan 25 Piala Kaisar (Emperor’s Cup) sepanjang karirnya. Tahun 2005 saja ia memenangkan enam grand turnamen setahun itu (satu tahun ada enam turnamen). Setiap turnamen dilakukan selama 15 hari di kota yang berbeda (tiga turnamen di Tokyo, masing-masing satu di Nagoya, Osaka dan Kyushu). Dan, pesumo akan bertanding setiap hari melawan pesumo yang berbeda. Tidak ada pembagian kelas berat, seperti tinju, di dalam sumo. Jadi, seseorang bisa saja melawan pesumo lain yang beratnya dua kali lipat dirinya.

JSA berencana memberikan dana pensiun bagi Asashoryu sebesar 107 juta yen (Rp 10.9 miliar). Namun kurang jelas apa rencana Asashoryu selanjutnya. Yang jelas, Asashoryu tidak bisa menjadi pelatih sumo atau punya hak suara di dalam JSA karena ia tak memiliki kewarganegaraan Jepang.

Hal ini menjadi kontroversi. Uang pensiun yang besar ini dilihat sebagai ‘penghibur’ (consolation) karena JSA sebenarnya terlalu ekslusif. JSA tidak bisa menerima Asashoryu yang non-Jepang. JSA melihat bahwa pesumo gaijin kurang bisa memahami tradisi sumo, yang bagi orang Jepang sendiri cukup rumit. Padahal motor penggerak sumo adalah gaijin juga. Dalam sebuah divisi senior sumo, 40% nya adalah gaijin. Pesumo gaijin ada yang berasal dari Mongolia, Hawaii, Georgia, Rusia, Bulgaria dan Tonga.

Meski agak dilematis, keluwesan dalam menerima ‘keterbatasan’ pesumo non-Jepang diperlukan. Mengasimilasi tradisi sumo Jepang memang rumit bagi orang asing, apalagi masuk ke dalam karantina bertahun-tahun. Diperlukan waktu, diperlukan sikap pragmatis. Mana yang lebih dulu muncul, mengingat ekonomi Jepang juga meningkat dengan turnamen dan event-event seperti ini.

*Kolom E-mail dari Tokyo, Berita Harian Singapura, 22 Feb 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s