Perempuan di Titik Nol


Auto RSS feed from https://ari3f.wordpress.com

Pertama kali ditulis tahun 2000

Apa yang muncul dalam benak Anda ketika kata “Mesir” disebut? Piramid di Giza? Universitas Al-Azhar? Anwar Sadat? Hassan Hanafi dan Kiri Islam-nya? Seseorang memiliki imaji dan pengalaman yang privat tentang Mesir.

Mesir mengingatkan saya pada nama Firdaus: seorang perempuan dengan hidup yang ganjil. Filosofinya sederhana:

Seorang pelacur yang sukses lebih baik daripada seorang alim yang sesat

Sebelum umur 25, Firdaus telah menjadi pelacur (yang sukses). Tetapi, pernahkah ia menjadi orang alim yang kemudian sesat? Entahlah. Namun, buku Woman at Point Zero (Perempuan di Titik Nol) yang ditulis Nawal el-Saadawi tahun 1979 membuka mata kita mengenai kehidupan opresif dan kontemporer di Mesir. Nama ‘Firdaus’ adalah rekaan belaka dalam buku itu.

Entah mengapa saya terkesan dengan buku ini 10 tahun lalu. Kisah nyata Firdaus ditulis oleh Dr Nawaal el-Saadawi, seorang penulis-psikiatris, beberapa hari menjelang kematiannya. Dr el-Saadawi menulis kisah Firdaus dengan lugas namun liris.

Hidupnya keras. Firdaus, ibu dan adik-adiknya baru diperbolehkan makan setelah ayahnya selesai. Padahal anak-anak Ketika salah seorang anak perempuan meninggal, ayahnya bisa makan dengan lahap. Ayahnya tak segan menyalahkan dan memukuli ibunya ketika anak lelakinya meninggal.

Ketika umurnya 18, Firdaus dikawinkan dengan seorang syeikh berusia 60 tahun. Syeikh ini mempunyai bisul bernanah di dagu. Bisa dibayangkan, malam pertamanya tentu bukan sesuatu yang romantis dan sakral.

Hari-hari berlalu. Selain Firdaus harus taat tak membantah, ia pun harus bekerja keras hingga malam. Kadang ia dipukul suaminya hingga berdarah. “Adalah biasa suami memukul istri,” kata pamannya ketika Firdaus mengadu telah dianiaya suaminya.

Karena tak tahan, Firdaus melarikan diri. Ia bertemu seorang perempuan di tepi sungai Nil. Perempuan inilah yang memperkenalkan profesi pelacur kepada Firdaus.

Sebelum umur 25, Firdaus telah memiliki apartemen mewah dan pelayan pribadi. Saat itulah ia menyadari arti kebebasan: terbebas dari despotisme lelaki di dalam rumah tangga. Namun lelaki tetaplah sumber kengerian. Dan, kengerian mesti dimusnahkan.

Dalam sebuah janji kencan, seorang lelaki mulai menggerayangi Firdaus. Firdaus bergeming. Tak menikmati. Diam-diam ia meraih pisau, dan menancapkannya ke seluruh tubuh lelaki itu. Ke dada, ke perut, ke leher. Darah menyembur.

Firdaus pergi. Tak lama, seorang pangeran Arab menawarkan sejumlah uang untuk seks. Ketika selesai transaksi, Firdaus mengaku telah membunuh seseorang. Pangeran Arab tak percaya. Tapi setelah diyakinkan, ia segera memanggil polisi.

Firdaus ditangkap dan dibawa ke pengadilan. Ia didakwa melakukan pembunuhan, dan dijatuhi hukuman mati. Ketika beberapa orang menyarankan untuk menerima grasi, Firdaus menampiknya. Dengan kematian, Firdaus merasa terbebas dari kejamnya dunia. Dalam hidupnya, 10 hari di penjara yang diakhiri kematian adalah pembebas yang subtil. Apakah ini absurd?

2 thoughts on “Perempuan di Titik Nol

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s