Kontroversi Perburuan Ikan Paus


Auto RSS feed from https://ari3f.wordpress.com

Kematian satu orang adalah tragedi. Kematian seribu orang adalah statistik. – Joseph Stalin

Nampaknya Perdana Menteri Australia, Kevin Rudd, jengkel dengan kajian (atau diduga perburuan!) Ikan paus yang dilakukan Jepang. Rudd mengirim ultimatum: November 2010 adalah batas waktu bagi Jepang untuk menghentikan program penelitian ikan paus yang membunuh ratusan ekor per tahun di perairan Antartika. Jika dilanggar, Australia akan berjuang lewat pengadilan internasional di The Hague. Hal ini disampaikan Rudd sehari sebelum bertemu menteri luar negeri Jepang Katsuya Okada di Australia. Sepulang dari Australia, ultimatum Rudd ini dianggap regrettable oleh Okada.

Paus jenis minke

Bagaimanakah rasa daging ikan paus? Saya pun tak tahu. Barangkali rasanya sama dengan ikan laut lainnya. Makanan eksotik ini mahal. Harga dagingnya mencapai 6300 yen/kg (Rp 630000), sedangkan kulitnya 9450 yen.

Asal Mula Perburuan Ikan Paus

Konon, perburuan ikan paus di Jepang dimulai pada abad ke-12. Namun, Juro Oka lah yang dikenal sebagai bapa pemburu ikan paus terkemuka. Menurut Eldrid Mageli dalam makalahnya “Norwegian – Japanese whaling relations in the Early 20th Century” (2006), Oka belajar teknik modern memburu ikan paus di Norwegia selatan. Oka belajar memakai harpun, meriam dan mempergunakan kapal tongkang bermesin dengan menyewa pemburu kawakan Morten Pedersen asal Norwegia. Pada 20 Juli 1899 Oka mendirikan perusahaan ikan paus bernama Nihon Enyo Gyogyo KK di Yamaguchi, dan menangkap ikan paus pertama pada 4 Februari 1900.

Pertikaian antara Kapal Jepang dan Aktivis Lingkungan

Pada April 2008, polisi Jepang menahan dua aktivis Greenpeace, Junichi Sato dan Toru Suzuki, yang mencuri 23,1 kg daging ikan paus dari Seino Transportation Co. Daging yang terbungkus kotak hadiah itu akan digunakan sebagai bukti bahwa ikan paus yang diperdagangkan, bukan untuk penelitian tetapi untuk dimakan. Karena tuntutan bukti-bukti kurang kuat, maka dua tersangka dibebaskan Pengadilan Distrik Aomori pada 15 Februari 2010 lalu.

Greenpeace menganggap aktivitas mereka berbeda dengan Sea Shepherd yang cenderung keras. Greenpeace lebih memilih jalan hukum dan damai. Berikut aksi yang dilakukan Sea Shepherd baru-baru ini:

  • 6 Januari 2010. Kapal Jepang Shonan Maru 2 tabrakan dengan kapal Ady Gil milik Sea Shepherd, organisasi lingkungan hidup asal Amerika Serikat. Esoknya, Ady Gil karam.
  • 6 Februari 2010. Kapal lain Sea Shepherd bernama Bob Barker dihantam kapal Jepang, Yushin Maru No 3. Tabrakan terjadi di perairan Antartika, wilayah teritorial Australia.
  • 15 Februari 2010. Aktivis Sea Shepherd, Peter Bethune, loncat ke kapal Shonan Maru 2 dari jet ski yang dikendarainya. Tujuan Bethune hanyalah menyodorkan tagihan 3 juta dolar atas kerusakan Ady Gil. Dari lautan Antartika itu, Shonan Maru 2 akhirnya membawa Bethune ke Jepang untuk diadili atas tuduhan penerobosan (trespassing) dan tindak kekerasan.

Modus operandi Sea Shepherd adalah mengikat baling-baling kapal Jepang dengan tali tampar, melempar cat atau cairan asam (butyric acid) ke kapal Jepang. Cairan ini diduga membuat perih mata pelaut Jepang. Jepang kemudian membalas dengan menyemprot aktivis dengan water cannon.

Perspektif Internasional

Pada 1986, Komisi Internasional Ikan Paus (International Whaling Commission) mengizinkan beberapa negara, termasuk Jepang, untuk memburu ikan paus jenis minke. Article 8 dari Konvensi Internasional Regulasi Ikan Paus bahkan secara khusus mengizinkan membunuh 400 hingga 500 ekor ikan paus setiap tahun untuk tujuan penelitian ilmiah.

Perspektif Jepang

Menurut Jepang, protes internasional terhadap perburuan ikan paus bersifat kultural dan emosional belaka. Jepang jelas-jelas tidak melanggar peraturan jika merujuk Article 8 di atas. Negara-negara donor seperti Amerika sedang berebut pengaruh politik dengan Jepang dalam forum IWC. Di Jepang, survey terbatas menemukan bahwa masyarakat Jepang tidak antipati terhadap perburuan ikan paus. Meski bukan makanan sehari-hari, penduduk Jepang kadang menikmati daging ikan paus di beberapa perayaan.


Namun tak semua orang Jepang setuju dengan perburuan ikan paus.

Shohei Yonemoto dari Universitas Tokyo merasa bahwa penelitian ikan paus harus dihentikan. Di tengah resesi ekonomi, 500 juta yen per tahun untuk Institut Penelitian Mamalia Laut (ICR) terbuang sia-sia. Alasannya, ikan paus sebanyak 9000 ekor telah dibunuh untuk keperluan riset ini sejak 1988, padahal penelitian dapat dilakukan tanpa membunuh ikan paus.

Yonemoto menilai bahwa memakan daging ikan paus adalah mitos belaka: ia bukan tradisi budaya Jepang. Ini hanyalah usaha komersialisasi daging ikan paus oleh anggota Diet (parlemen) dari Partai Demokrat Jepang (DPJ) dan kementerian perikanan agar penjualan meningkat. Penjualan daging ikan paus anjlok beberapa waktu terakhir dibuktikan dengan stok yang surplus.

Di Jepang, daging ikan paus tak dijual di supermarket. Di pasar ikan terkenal, Tsukiji, daging paus jarang dijumpai. Ia memang bukan konsumsi keseharian meski ada beberapa restoran yang menyediakan daging paus ini.

Sushi ikan paus

Meski jumlah paus minke nampaknya berlimpah, sebaiknya Jepang lebih memperhatikan siklus kehidupan yang lebih alami: biarlah paus berkembang biak dan mati secara alami. Toh, lautan sungguh luas dan paus tak mengganggu. Penelitian (tes, sampling, eksperimen lain) juga dapat dilakukan tanpa membunuh paus: perlu dicari metode untuk mengambil data tanpa membunuhnya.

Jadi teringat pepatah diktator Joseph Stalin: “Kematian satu orang adalah tragedi, kematian seribu orang adalah statistik”. Pada akhirnya, paus yang terbunuh hanyalah data statistik dalam makalah ilmiah. Adilkah ini?

*Kolom E-mail dari Tokyo, Berita Harian Singapura, 1 Maret 2010

2 thoughts on “Kontroversi Perburuan Ikan Paus

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s