Pasca-Pertempuran Amerika vs Toyota


Auto RSS feed from  https://ari3f.wordpress.com

Prolog

Publik Indonesia sudah terbiasa dengan produk otomotif Jepang, seperti Toyota, karena Jepang mengekspor mobil secara agresif tahun 80an. Dekade sebelumnya, Jepang melakukan survey pasar: jenis mobil apakah yang diperlukan Indonesia dalam beberapa dekade.

Meski ada saja yang tidak menyukai mobil Jepang karena terkesan tipis pelat-pelatnya, tapi kebanyakan orang membeli mobil Jepang karena harganya terjangkau. Strategi Jepang adalah membuat pabrik-pabrik perakitan di Indonesia dan pemakaian suku cadang buatan Indonesia atau negara lain yang ongkos buruhnya lebih murah. Ini untuk menekan ongkos produksi.

Bagaimana dengan kualitas? Jika dipakai dengan hati-hati dan rutin diservis, setiap mobil akan bertahan 20 – 30 tahun. Namun, ada juga yang umur pakainya prematur. Ini disebabkan oleh cacat komponen di bagian penting. Secara statistik, jika pabrik mobil membuat sekian juta produk, tentu ada sekian persen produk yang di luar distribusi normalnya. Jika bagian quality assurance tak melihat adanya keganjilan dari mobil itu maka mobil bisa lolos ke pasaran. Yang repot jika pada saat pemeriksaan awal mobil ini tidak menunjukkan gejala yang aneh. Ketika mobil sudah berjalan sekian kilometer, mobil mulai menampakkan malfunction.

Oleh sebab itu, beberapa mobil mengadopsi filosofi (tradisional) desain pesawat seperti safe – life (aman sepanjang hidupnya) atau fail safe (meski gagal, ada backup sistem). Filosofi ini tidak dipakai lagi secara luas di industri pesawat karena ada filosofi baru yang hemat biaya seperti damage tolerance (diperbolehkan ada cacat hingga cacat tertentu teridentifikasi).

Toyota barangkali punya keterbatasan dalam mensimulasikan kondisi mobil sepanjang hidupnya. Skenario-skenario ekstrim perlu diteliti dan disimulasikan untuk melihat apakah mobil Toyota masih dapat berjalan baik.

Meski begitu setelah tahun 1999 mendaftarkan dirinya ke bursa efek New York, dengan cepat Toyota naik ke urutan ke-8 versi Forbes tahun 2006. Sempat rugi di tahun 2008, namun bangkit lagi hingga mengalahkan Ford dan General Motors. Toyota menjadi pembuat mobil terbesar di Amerika dan dunia dalam 10 tahun. Sebabnya? Toyota relatif cepat mengadopsi teknologi baru, functional, mungkin juga relatif lebih murah, pandai mengimplementasikan teknologi (transfer teknologi, transfer sistem manajemen), strategi bisnis yang “menyayangi” karyawan sehingga minim PHK, aktif bekerjasama dengan organisasi di pemerintah & lingkungan, dan agresif dalam iklan.

Tapi mengapa ‘manajemen risiko’ nya tak bekerja baik baru-baru ini?

Masalah Teknis Toyota di AS

Pada mulanya adalah perangkat lunak (software), pedal gas (accelerator pedal) dan alas lantai (floor mat). Itulah tiga masalah teknis yang dialami mobil Toyota di Eropa, Amerika dan Jepang sehingga recall besar-besaran dilakukan.

Software sistem pengereman mobil hibrid, seperti Toyota Prius dan Lexus HS 250h, dilaporkan tak berfungsi ketika ban mobil masuk kubangan. Solusinya: meng-upgrade software dalam anti-lock brake system (ABS) dan regenerative braking.

Pedal gas dilaporkan tak kembali ke posisi semula ketika diinjak. Gesekan menyebabkan pedal ‘melekat’. Solusinya: memasukkan batangan kecil terbuat dari baja supaya gesekan berkurang. Pedal gas yang dipakai di Amerika dan Jepang berbeda. Desain di Amerika sedikit lebih rumit, dan beberapa materialnya diharuskan dibuat di Amerika.

Alas lantai dilaporkan menganggu gerakan pedal gas. Toyota belum memberikan solusi untuk masalah ini, kecuali menyarankan pemasangan alas dengan baik. Nampaknya, desain pedal gas dan clearance (jarak) perlu sedikit dimodifikasi.

Masalah pedal gas yang melekat telah merenggut korban jiwa. Mobil Lexus ES350 sewaan yang dikendarai Mark Saylor, istri, anak dan adik iparnya tergelincir di Mission Gorge Rd. dan terjungkal ke dalam sungai San Diego. Mobilnya hangus terbakar. Keempat penumpang meninggal seketika.

Kecelakaan ini salah satu pemicu National Highway Traffic Safety Administration (NHTSA) untuk menyelidiki masalah pedal gas di beberapa model buatan Toyota. Di samping itu, Toyota juga punya daftar buruk masalah recall sejak 2007. 124 laporan (empat di antaranya kecelakaan) diterima oleh NHTSA mengenai macetnya pedal gas.

Masalah Non-Teknis

Masalah cacat teknis Toyota diperburuk dengan ‘cacat’ non-teknis. Dokumen internal Toyota yang dipresentasikan oleh Yoshi Inaba (presiden Toyota Motor North America Inc.) bertajuk Wins for Toyota – Safety Group bocor ke khalayak. Dokumen yang seharusnya rahasia internal ini mengatakan bahwa Toyota dapat menghemat 100 juta dolar AS dengan menghindari investigasi terhadap cacat produk. Tentu saja hal ini membuat publik AS berang. Juri federal New York dan pengawas Komisi Sekuritas dan Pertukaran mengeluarkan subpoena (surat meminta kesaksian) untuk Toyota sehubungan dengan dokumen ini. Ini berujung pada pemanggilan Akio Toyoda, presiden Toyota, ke kongres untuk dengar pendapat 23 Februari.

Tekanan publik juga membuat 8.5 juta mobil buatan Toyota harus di-recall dalam tiga tahun terakhir di seluruh dunia. Recall ini menyebabkan Toyota rugi 2 billion AS.

Kongres Amerika vs Presiden Toyota

Di Jepang, presiden perusahaan jarang sekali ‘turun gunung’ untuk menjelaskan masalah cacat produk. Recall dipersepsi sebagai cela. “Recall is evil”, demikian pepatahnya. Sebaliknya, di Amerika, penarikan produk adalah usaha membendung perluasan kegagalan produk. Dengan adanya sistem penarikan ini, orang dapat mengemudi mobil tanpa kuatir. Hideo Kobayashi dari Pusat Manajemen Risiko dan Ilmu Keselamatan, Universitas Nasional Yokohama, mengatakan bahwa perbedaan persepsi ini membuat masalah Toyota tak cepat selesai.

Pada 23 Februari 2010, dengar pendapat (hearing) berlangsung selama tiga setengah jam. Kongres, utamanya US Transport Secretary Ray LaHood, meminta keterangan dari Toyoda. Sebelumnya seorang gubernur AS yang pro-Toyota menuduh Ray LaHood akan berat sebelah (bias). Pasalnya, 61% saham General Motors, kompetitor berat Toyota, dimiliki pemerintah Amerika. Ternyata di luar dugaan, Ray LaHood berposisi netral, dan oleh BBC LaHood dianggap ‘Toyota’s best friend’.

Dari dengar pendapat ini, ada beberapa hal penting yang akan mengubah wajah industri dan peraturan otomotif Amerika sekaligus cara kerja Toyota:

  • Sistem elektronik yang dipasang di semua mobil, tidak hanya buatan Toyota saja, akan diperiksa secara komprehensif. Dalam tiga tahun terakhir, ada 23 juta recall masalah sistem dan ini juga terjadi di mobil hibrid lain, seperti Ford Fusion dan Mercury Milan.
  • “Black box” kemungkinan akan dipasang di seluruh mobil. Saat ini, 80% mobil di Amerika dipasangi black box (mirip cockpit data recorder di pesawat) yang dapat memberikan informasi apa yang terjadi pada sistem mobil dalam perjalanannya. NHTSA kesulitan membaca data dalam black box mobil Toyota karena enkripsinya rahasia perusahaan. Namun, Toyota akhirnya setuju mengirimkan software untuk membacanya.
  • Toyota akan mengubah cara mengatasi recall. Umumnya, keputusan recall ada di tangan engineer, kemungkinan dari Jepang. Di masa depan, komite independen akan dibentuk untuk memutuskan recall.
  • Manajer Toyota diharuskan mengendarai mobil Toyota dan Lexus agar filosofi Genchi Genbutsu (lihat dengan mata kepala sendiri) dapat mempercepat identifikasi masalah
  • Sistem keamanan ganda (sistem fail safe) akan diterapkan di Toyota
  • Information sharing dan komunikasi akan lebih ditingkatkan di internal perusahaan Toyota

Toyota dan Amerika Setelah ‘Pertempuran’

Bagi Toyota, insiden ini membuat keamanan dan kontrol kualitas produk menjadi agenda utama. Simulasi kejadian-kejadian sepanjang hidup mobil perlu diteliti lebih baik. Di level yang lebih tinggi, kesan lambat dalam mengambil keputusan di dalam hirarki kepemimpinan Toyota perlu dikurangi. Japanese Way (akar dari birokrasi perusahaan Jepang), atau spesifiknya Toyota Way, perlu disesuaikan dengan kebiasaan lokal untuk mempercepat identifikasi masalah dan pemberian solusi. Kurang jelas pula apakah sikap lambat memutuskan ini ‘strategi’ bisnis Toyota untuk meraup keuntungan 100 juta dolar AS.

Bagi Amerika, kasus Toyota memang masalah regulasi otomotif dan keselamatan publik. Namun, ia boleh jadi kemenangan bisnis dua perusahaan otomotif Ford Motor Co. dan General Motors pada Februari 2010. Bayangkan, ketika penjualan Toyota jatuh di bawah angka 100 ribu, penjualan Ford meningkat hingga 142 ribu dan GM sedikit di bawahnya, yaitu 141 ribu mobil.

Dunia makin berubah: ujung-ujungnya duit. Dan, Steve Wozniak (Apple co-founder) tetap akan membeli beberapa Prius🙂

*Kolom E-mail dari Tokyo, Berita Harian, Singapura, 8 Maret 2010

3 thoughts on “Pasca-Pertempuran Amerika vs Toyota

  1. Tak tambahi yo Srip… Sebenarnya penarikan produk mobil adalah solusi yang paling murah yang bisa ditempuh oleh pabrikan mobil. Di negara-negara yang perlindungan konsumennya kuat – seperti di Amerika Serikat – tuntutan hukum terhadap produsen mobil yang memproduksi mobil yang tidak aman bisa jauh lebih mahal daripada mengganti mobil secara cuma-cuma kepada pembeli. Belum lagi kehancuran citra perusahaan akibat proses hukum yang berlarut-larut, butuh waktu lama & biaya tidak sedikit untuk membangun citra perusahaan kembali. Ujung-ujungnya pemilihan alternatif yang paling ekonomis… alias duit! hehehe.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s