Tragicomedy Masalah Pakta Nuklir


Auto RSS feed from https://ari3f.wordpress.com

Teknologi nuklir bermuka dua: menjadi reaktor penghasil energi listrik yang bermanfaat, atau menjadi bom atom yang membunuh.

Lima belas persen pasokan listrik dunia berasal dari reaktor nuklir di Amerika Serikat (AS), Perancis dan Jepang. Tetapi, kata ‘nuklir’ juga sebuah kenangan buruk, seperti meledaknya reaktor Chernobyl di Pripyat, Ukraina (dulunya masih bagian Uni Sovyet) dan jatuhnya bom atom di Hiroshima dan Nagasaki.

Pada 1971, Jepang mengesahkan tiga prinsip bebas senjata nuklir (Hikaku San Gensoku) terhadap negerinya: tidak membuat senjata nuklir, tidak memiliki senjata nuklir dan tidak mengijinkan masuknya senjata nuklir ke Jepang. Tiga prinsip ini yang kemudian membawa bekas perdana menteri Jepang (1964 – 1972), Eisaku Sato, mendapat hadiah Nobel Perdamaian tahun 1974. Prinsip ini dianggap memperkuat Traktat Non-Proliferasi Senjata Nuklir yang ditandatangani 189 negara pada 5 Maret 1970.

Namun siapa sangka bahwa Jepang juga punya pakta ‘rahasia’ dengan Amerika tentang senjata nuklir. Pakta tahun 1964 ini mengijinkan kapal militer bersenjata nuklir AS masuk perairan Jepang.

Pakta ‘rahasia’ ini berawal dari sikap paranoid Amerika terhadap Jepang. Pada 19 September 1964, sebuah telegram dikirim oleh Departemen Dalam Negeri Amerika kepada duta besar AS Edwin Reischauer di Tokyo. Isinya: “Pendekatan terhadap Ohira diperlukan untuk memastikan bahwa Jepang memahami substansi pembicaraan pada 1963”. Pembicaraan pada 1963 merujuk pada pertemuan Reischauer dengan menteri luar negeri Masayoshi Ohira mengenai transitnya kapal militer AS yang berisi nuklir di Jepang. Tekanan AS ini membuat Ohira menyerahkan surat perjanjian kepada Reischauer pada 26 September 1964. Saat itu Ohira bukan lagi menteri luar negeri. Ia mewakili Partai Demokrasi Liberal.

Pakta ini tentu sangat kontradiktif dengan Hikaku San Gensoku. Namun, agar masyarakat tidak marah, pemerintah Jepang menutup-nutupi keberadaan pakta ini selama hampir empat dekade. Kerahasiaannya dijaga sejak 27 Januari 1968 ketika Kepala Biro Amerika, Kementerian Luar Negeri Jepang, Fumihiko Togo menulis: “Tak ada pilihan lain kecuali melanjutkan apa yang sudah disepakati.”

Sejak saat itu, petinggi Jepang yang mengetahui keberadaan pakta ini tidak pernah membukanya kepada publik. Bahkan, mereka selalu menyangkal ketika ditanya Diet (parlemen). Salah satu petinggi Jepang, bekas wakil menteri luar negeri (1987 – 1989), Ryohei Murata, mengatakan: “Ini adalah rahasia besar. Pemerintah Jepang telah berbohong kepada masyarakatnya.”

Keberadaan pakta rahasia ini sebenarnya sudah dibuka di AS pada 2005. Shoji Niihara, sejarawan Jepang spesialis hubungan Jepang – AS, yang menemukan dokumen pendukungnya di National Security Archives, AS. Salah satu dokumennya berjudul “Negosiasi Rahasia dengan Jepang mengenai Akses Nuklir Amerika Serikat atas Pasca-Pengembalian Okinawa” yang ditulis Henry Kissinger (penasihat Gedung Putih) kepada Presiden Richard Nixon pada 12 dan 13 November.

Penemuan ini mendorong sekelompok ilmuwan dan penulis untuk menuntut pemerintah secara hukum lewat Pengadilan Distrik Tokyo agar mengakui keberadaan pakta rahasia Jepang – AS pada 16 Maret 2009. Menurut kelompok ini, sudah tidak ada gunanya lagi pemerintah menutup-nutupi keberadaan tiga dokumen rahasia (1969 – 1971) yang sudah dipublikasikan di Amerika.

Tuntutan ini tentu dimanfaatkan oleh partai oposisi Partai Demokratik Jepang, pimpinan Yukio Hatoyama. Ia pun berjanji akan mengusut tuntas masalah pakta ini dan mengumumkan kepada publik jika ia terpilih menjadi perdana menteri. Benar saja, setelah Hatoyama terpilih September lalu, menteri luar negerinya Katsuya Okada diutus membentuk panel ahli dan melakukan investigasi.

Setelah tiga bulan bekerja, panel ahli menyimpulkan bahwa ada tiga ‘pakta rahasia dalam arti luas’ telah dibuat oleh Amerika dan Jepang pada 1960an, dan senjata nuklir barangkali pernah dibawa ke Jepang meski bertentangan dengan tiga prinsip non-nuklirnya. Di bawah perjanjian ini, kapan nuklir AS boleh merapat di pelabuhan Jepang tanpa pemberitahuan sebelumnya.

Interogasi juga dilakukan terhadap 27 bekas pejabat tinggi. Ada setidaknya tiga pejabat tinggi Jepang mengakui keberadaan pakta rahasia ini. Mereka adalah bekas perdana menteri Toshiki Kaifu, bekas wakil menteri luar negeri Ryohei Murata dan dutabesar Jepang untuk AS Kunihiko Saito. Tiga orang lainnya menyatakan tidak tahu dan 21 orang menolak berkomentar.

(Japan Times cartoon by Robert Dahl, 2010)

Menlu Okada menyebut pakta ini sebagai perjanjian tak tertulis (tacit agreement) bukan pakta rahasia seperti yang diyakini. Pakta ini tidak berlaku lagi sejak berakhirnya perang dingin pada 1991. Okada mengatakan bahwa Jepang akan terus mengusung tiga prinsip non senjata nuklirnya dan tidak akan mengijinkan senjata nuklir masuk ke perairan Jepang.

Beberapa kalangan menilai bahwa pakta rahasia ini ‘bermanfaat’ secara historis selama beberapa dekade: mempercepat pengembalian Okinawa tahun 1972 dan memproteksi Jepang selama perang dingin AS – Uni Soviet.

Lalu, apa manfaat pengakuan atas keberadaan pakta rahasia ini? Pengakuan resmi tentang adanya pakta rahasia ini menepis keraguan Amerika terhadap lahirnya demokrasi di Jepang. Jepang sudah transparan.

Namun, permainan belum selesai. Apa sebenarnya tujuan akhir dari transparansi ini? Apakah untuk mempengaruhi India, Pakistan, Korea Utara dan Israel untuk melucuti senjata nuklirnya? Media Jepang menyebutnya ‘tragicomedy’. Dan, ia belum berakhir.

*Kolom ‘E-mail dari Tokyo’, Berita Harian Singapura, 23 Mar 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s