Cerita dari Eropa


Auto RSS feed from https://ari3f.wordpress.com

Masa ngelmu yang berkesan terjadi antara Januari – Juni 2002. Di lantai-4 jurusan, saya pergi pagi  (7.30) pulang malam (12.00), setiap hari, untuk mengerjakan tugas akhir. Karena sering mangkal di sana, pembimbing sering datang ke ruangan untuk ngasih konsultasi. Konsultasinya bisa tiap hari karena masalah yang dipecahkan waktu itu cukup bikin pusing. Sekarang mungkin sudah banyak yang bisa karena teori makin matang, software dan hardware performanya makin bagus. Waktu itu, satu kasus model finite element yang jumlah elemennya ‘hanya’ 40 ribu dipecahkan dalam waktu 20 jam (dengan PC prosesor AMD 1+ GHz, memori 512MB, dan software MSC.Nastran v4.5). Tiga tahun kemudian, problem yang sama dapat dipecahkan dalam waktu ½ jam saja! Kalau hari ini saya coba lagi, mungkin hanya perlu 2 menit!

Omong-omong … di sela-sela konsultasi, pembimbing sering bercerita tentang pengalamannya di luar negeri; khususnya di Eropa tempatnya ngelmu (1990 – 1996). Ada dua kisah sedih yang diceritakannya:

Praha, Chekoslowakia. Dari London, dia naik kereta ke Praha. Di Praha, dia mampir ke sebuah restoran Indonesia atas rekomendasi seorang kenalan. Restoran ini dimiliki oleh orang Indonesia juga. Di sana, dia dijamu dengan baik. Padahal, katanya, dia gak ada hubungan apa-apa dengan kenalan itu. Lebih dari itu, kehangatan khas Indonesia ada di sana. Rasanya seperti  tidak berada di negeri asing. Di meja makan, pemiliki restoran yang sudah agak tua menceritakan masa lalunya. Pada 60an, dia pergi ke sana untuk melanjutkan kuliah. Ketika menikmati perkuliahan, pemberontakan PKI terjadi tahun 1965. Tahun 66 PKI dilarang oleh pemerintah. Para mahasiswa yang bersekolah di negeri-negeri berhaluan ‘kiri’, termasuk yang di Cheko, dilarang pulang (atau tidak bisa pulang). Kalau pulang tahu sendiri akibatnya. Karena beasiswanya juga terhenti, akhirnya mahasiswa ini drop out.  Untuk makan, mereka harus cari nafkah dengan bekerja seadanya. Apa saja yang penting bisa dapat uang. Pemerintah Cheko juga tidak bisa membantu mereka dengan memberi status pekerja profesional. Ketika tabungan dari hasil kerja serabutan itu sudah mencukupi, mereka membuka toko atau bisnis kecil-kecilan. Kalau tabungan lebih banyak lagi, mereka bisa buka restoran. Mereka kangen sekali dengan Indonesia, tapi mau pulang takut. Lagipula, anak-anak bahkan cucu mereka sudah warga negara sana; dan sanak famili di Indonesia sudah tak pernah dihubungi lagi. Status mereka seperti tanpa kewarganegaraan – di sana tidak diakui seperti warganegara, di negeri sendiri dikejar-kejar. Itu dulu. Kini, Indonesia sudah berubah; namun semuanya sudah terlambat; sakit hatinya lewat tertelan waktu dan menjadi sejarah. Namun yang paling berkesan bagi pembimbing saya itu adalah keramahtamahan, kehangatan dan cerita-cerita yang akrab di meja makan itu. Sikap hangat ini menjadi added-value mengingat masa lalunya cukup pahit.

London, UK. Ini bukan cerita, tapi memperpanjang (leverage) sebuah geremengan pembimbing saya. Geremengannya pedih, dan hari ini masih relevan serta makin terkuak. Pagi ini saya membaca berita bahwa pejabat migas RI disuap. Entah bagaimana kelanjutan kisahnya atau keputusan pengadilannya, tapi jika hal itu terbukti benar maka pembimbing saya ini tidak berbohong. Mungkin 15 – 20 tahun lalu, dia berjalan-jalan di London. Dia melihat sebuah rumah mewah. Rumah ini besar sekali seperti istana dan punya kolam renang. Megah! Siapa yang punya? Dia cerita bahwa yang punya adalah pegawai migas Indonesia. Levelnya belum direktur, ‘hanya’ kepala bagian. Bayangkan kalau yang direktur? Hari itu hatinya pedih. Dari mana mereka mendapatkan uang sebanyak itu untuk membeli rumah mewah di tengah kota London! Gaji mungkin kecil, tapi (pinjam istilah bapak saya) sabetanne akeh! Entah darimana uang sebanyak itu berasal …

Oh bangsaku…

Kemarin dan hari ini pun saya sedih membaca bahwa makin banyak pegawai (negeri) yang terlibat kasus korupsi. Mudah-mudahan tidak terjadi pada saudara atau kawan-kawan saya. Kalaupun terjadi, jadikan itu pelajaran dan diambil hikmahnya, terutama jika sudah masuk ‘pesantren berjeruji’ alias penjara. Menaikkan gaji memang bisa menahan orang untuk tidak korupsi, tapi ini solusi sementara. Karena dua-duanya masih berhubungan dengan uang dan ini selalu relatif. Kata ‘duit cukup’ itu perspective-dependent dan stomach-driven matter! Korupsi hanya bisa dilawan oleh hukum yang adil, sikap idealis (kalau sudah konsekuen menandatangani kontrak kantor dengan gaji segitu ya terima saja, jangan minta lebih, jangan cari-cari supaya lebih – kalau tidak suka kenapa dulu ditandatangani kontrak kerjanya??), ketaatan terhadap agamanya dan ketabahan dalam melihat gemerlapnya kekayaan orang lain. Dalam hal harta, lihatlah ke bawah (masih banyak yang hidup dengan Rp 5000/hari); dalam hal pengetahuan lihatlah ke atas (PhD is never enough!).    

Setelah hampir 10 tahun berpuasa misuh, dengan terpaksa saya harus ngomong JANCUK kepada orang-orang itu!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s