Manga


Auto RSS feed from https://ari3f.wordpress.com

Manga, sebutan untuk komik Jepang, adalah jantungnya kultur pop, selain anime dan permainan komputer (computer games). Detektif Conan, Doraemon, Dragon Ball, Candy – Candy, Kungfu Boy, City Hunter adalah sedikit dari ratusan, bahkan mungkin ribuan, manga yang populer. Di dalamnya ada cerita yang menarik dan watak yang kuat.

Namun, isinya tak melulu membawa kebaikan; ada juga unsur pornografi dan kekerasan. Ini disebut yugai komikku (komik berbahaya) dan menjadi kontroversial tahun 90-an.

Di Jepang, ada beberapa karakteristik manga:

  • Punya tokoh utama
  • Alur ceritanya jelas, gambar dibagi-bagi menjadi beberapa bingkai dalam satu halaman, ada ‘onomatopoeia’ (efek suara, misal: “boooom” untuk letusan) dan dibaca dari kanan ke kiri
  • Tema yang bervariasi: olahraga, bisnis, percintaan, laga, politik, ekonomi, kesehatan, fiksi ilmiah, fantasi, sejarah, keseharian, binatang dan lainnya
  • Terbagi beberapa segmen pasar: manga untuk anak laki-laki atau perempuan (shonen/shojo manga zasshi); remaja (seinen-shi) dan dewasa
  • Majalah manga mingguan terbit 500 halaman dan dijual 250 yen; sampul dan 10 halaman pertama berwarna, sisanya hitam putih

Manga tak hanya digemari anak-anak. Sarariman (salaryman; sebutan untuk pegawai gajian) hingga profesor ada yang membaca manga ini. Bekas perdana menteri Jepang yang menyukai manga ialah Taro Aso. Hobinya membaca 20 komik per minggu. Aso pernah berjanji akan menciptakan 4 juta lowongan kerja, di mana 500 ribu lowongan berhubungan dengan ‘soft power’ berbentuk anime dan manga. Dia memprediksi bahwa GDP Jepang dapat mencapai 120 triliun yen pada 2020.

Industri manga tak hanya subur di Jepang: ia pun populer di Eropa, Amerika dan Asia.  Toko buku besar pun menyediakan ruang khusus untuk manga. Untuk mempercepat pemindahan ‘ilmu’, manga diterjemahkan ke dalam bahasa lokal.

Asal mula manga

Manga pertama muncul pada abad 12. Ia didefinisikan sebagai deretan gambar katak, kelinci dan hewan lain dan diterbitkan dengan nama Choju Giga (gulungan kertas berisi gambar hewan yang tengah bergembira ria).

Seperti yang ditulis dalam artikel pendeknya “Manga: a heart of pop culture” (2009), Minoru Matsutani melihat bahwa kemunculannya diperdebatkan. Jika dikaitkan dengan ‘penerbitan karya secara massal’ maka manga baru dimulai pada abad 18.

Bahkan manga yang diterbitkan dalam bentuk majalah bulanan baru muncul di Jepang pada 1950an. Manga masuk ke kampus-kampus pada 60an, dan mengalami krisis tahun 1973 karena keterbatasan kertas.

Penjualan manga

Menurut Institut Komunikasi Dentsu, puncak penjualan manga terjadi pada 1994, yaitu mencapai 586.4 milyar yen. Setelahnya, penjualan manga jatuh perlahan-lahan. Pada 2009, penjualannya merosot ke angka 418.7 milyar yen.

Meski penjualannya merosot, dari segi volume, penjualan manga tetap yang terbesar. Tahun 2008 saja komik “One Piece” Volume 52 yang menceritakan petualangan seorang anak yang ingin jadi bajak laut terjual 2.5 juta buku. Komik “Naruto” Volume 44 (kisah ninja) terjual 1.55 juta buku. Sebagai perbandingan, buku “Harry Potter and the Deadly Hallows” ‘hanya’ terjual 1.8 juta buah.

Kejatuhan pada 1995 disebabkan berakhirnya komik “Dragon Ball”. Selanjutnya ini disebabkan karena orang berpaling pada internet, video games dan handphone. Angka kelahiran (baca: jumlah anak-anak) yang menurun menyebabkan penjualan menurun. Krisis ekonomi juga menahan orang Jepang membeli kebutuhan sekunder atau tersier seperti komik. Cerita manga tidak sekaya dulu karena perusahaan berkonsentrasi pada ekspansi bisnis, bukan isi cerita lagi.

Pelaku bisnis manga tak kekurangan akal. Untuk meningkatkan penjualan, mereka memproduksi manga bagi orang dewasa dan lajang. Ini adalah segmen yang masih rajin memenuhi kebutuhan sekunder. Penerbit memasukkan unsur-unsur yang memikat, seperti bisnis, sejarah, politik, judi dan pornografi. Tak heran, di kereta yang penuh sesak pun, seorang yang memakai jas rapi juga membaca manga dengan penuh konsentrasi!

Apa efek manga?

Dalam bukunya yang berjudul Seduction of the Innocent, Dr Frederick Wertham yang mengetuai gerakan anti-komik di Amerika melihat efek manga terasa pada anak-anak. Anak-anak cenderung melakukan hal yang berbahaya karena berusaha meniru pahlawan komik mereka. Anak-anak juga cenderung kesulitan membedakan antara khayalan dan realitas. Dr Wertham juga merasa bahwa manga turut mempengaruhi perilaku juvenile delinquency (pelanggaran hukum oleh anak-anak), meski hal ini belum terbukti secara klinis.

Manga yang dibaca ketika seseorang tengah mencari jati diri atau eksistensi memberikan cerminan tokoh yang ideal. Tokoh ini tervisualisasikan dalam genre manga bishojo (perempuan yang cantik) atau bishonen (lelaki yang tampan, namun feminin). Ketika sikap escapism muncul, ia kemudian dimanifestasikan dalam bentuk penampilan yang mirip salah satu genre tadi. Di Jepang, gaya rambut dan berpakaian remaja cenderung meniru tokoh-tokoh dalam manga. Ini tentu fenomena dialektika, kerana mungkin tokoh manga dibuat berdasarkan kenyataan di Jepang atau sebaliknya.

*Kolom Email dari Tokyo, Berita Harian Singapura, 3 Apr 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s