Efek Debu Vulkanik Islandia di Jepang


Auto RSS feed from https://ari3f.wordpress.com

Pada April ini ribuan wisatawan mengunjungi Jepang untuk menikmati mekarnya Sakura. Sakura merupakan bunga dari pohon ceri yang hanya mekar kira-kira 2 minggu saja. Selanjutnya, ia gugur dan digantikan dedaunan hijau. Perayaan musim semi ini selalu disambut dengan berhanami. ‘Hanami’ berasal dari kata Jepang yang berarti ‘melihat keindahan Sakura’. Penduduk Jepang biasa berhanami sambil menikmati hidangan di bawah pohon ceri.

Di belahan bumi lain, tepatnya di Islandia yang berada 8700 km dari Tokyo, Gunung Eyjafjallajökull (dieja: ey-yah-fyah-tlah-yer-kah-dal) meletus. Letusannya terjadi pada 14 April 2010. Lahar keluar dan debu vulkanik terbawa angin menuju Eropa Barat. Debu vulkanik ini berbahaya. Ia mengandung silikon dioksia (bahan baku kaca dan gelas), alumina (bahan baku amplas dan CD/DVD polishing) dan partikel halus lainnya.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyarankan orang yang menderita asma atau emfisema untuk tinggal di rumah. Bagi mereka yang sehat diwajibkan memakai masker ketika keluar rumah karena debu ini akan menyebabkan iritasi mata, hidung dan tenggorokan.

Debu vulkanik ini dapat menyebabkan mesin pesawat rusak. Partikel-partikel silikat dan alumina ini akan mencair ketika terkena panas tinggi dalam mesin. Tapi partikel yang mencapai bagian pengeluaran (exhaust nozzle) dapat membeku dan membuat kerak. Debu ini mengganggu jarak pandang (visibility) pilot karena pada hari pertamanya saja ia akan mencapai 11 km. Setelah terbawa angin dan jatuh oleh beratnya sendiri, ketinggian rata-rata debu vulkanik menjadi 3 km. Pun di ketinggian ini, jarak pandang pilot jadi terganggu ketika melakukan pendaratan (landing).

Karena perusahaan penerbangan ingin penumpangnya selamat, maka solusinya adalah pelarangan terbang di kawasan-kawasan yang tercemari debu vulkanik, seperti Inggris, Belanda, Jerman, Perancis, dan wilayah Eropa lainnya. Pelarangan terbang ini berlaku sejak 15 April 2010 silam.

Di Jepang, sekurang-kurangnya 94 wisatawan Eropa terpaksa menginap di Narita pada Minggu malam (18 April). Bandara Narita menyediakan kantung tidur, camilan, air minum, kupon makan dan kupon mandi. Jumlah ini tak banyak karena beberapa perusahaan penerbangan menyediakan hotel di luar Narita beberapa hari. Japan Airlines (JAL), yang mengalami krisis finansial, terpaksa membayar hotel bagi semua penumpang yang batal terbang ke London dan Amsterdam.

Sistem Penerbangan Skandinavia Internasional (SASI) juga menyediakan hotel bagi penumpangnya. Namun SASI hanya membayar hotel sehingga Senin lalu (19 April 2010). Selanjutnya, penumpang harus membayar sendiri hotelnya. Karena banyak wisatawan yang berlibur secara ekonomis (budget) maka sebagian besar menginap di Narita. Debu vulkanik ini juga membatalkan penerbangan Air Nippon Airways (ANA) tujuan Frankfurt, London dan Paris dari Jumat sehingga Senin (16 – 18 April). Pembatalan ini mempengaruhi sekitar 7200 penumpang.

Total jumlah penerbangan yang ditunda dari Narita ke Eropa adalah 40 per hari. Ini jauh lebih kecil dari pembatalan di Eropa, yaitu 10000 pembatalan seharinya. Tak semua penumpang untuk tujuan Eropa menunggu lama. Penerbangan ke Roma dan Milan, Italia, akhirnya dibuka Senin lalu (19 April), menandai penerbangan pertama ke Eropa menyusul krisis debu vulkanik. Penerbangan dari Eropa pertama adalah Moskow – Tokyo di mana pesawat JAL mendarat di Narita pada Selasa pagi, 20 April.

Meski minggu lalu penerbangan Eropa sudah mulai dibuka, namun perusahaan penerbangan Eropa mesti menanggung rugi lebih 1 billion dollar AS.

Sampai kapan debu vulkanik ini berlangsung?

Cukup sulit memperkirakan kapan debu vulkanik ini akan hilang. Departemen Meteorologi Islandia mengatakan bahawa Gunung Eyjafjallajökull pernah mengeluarkan debu tahun 1612 dan hanya berlangsung 3 hari saja. Namun, pada Desember 1821, gunung ini meletus lagi, dan debunya membumbung kurang lebih 1 tahun. Debunya kadang surut, namun kadang juga naik lagi. Sulit diperkirakan.

Hingga sekarang, perkembangan debu vulkanik hanya dapat dimonitor lewat

  • satelit meteorologi
  • radar pesawat
  • observasi langsung.

Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO) dan Organisasi Meteorologi Internasional (WMO) mendirikan pusat-pusat pengawasan debu vulkanik (VAAC). Tugas VAAC ialah memonitor letusan gunung berapi dan memberi informasi tentang pergerakan debu vulkanik.

VAAC dibagi menjadi sembilan tempat di seluruh dunia, yaitu Anchorage, Buenos Aires, Darwin, London, Montreal, Tokyo, Toulouse, Washington dan Wellington.

VAAC Tokyo berada di bawah Departemen Meteorologi Jepang. Ada empat tempat monitoring, yaitu di Sapporo, Sendai, Tokyo dan Fukuoka. VAAC Tokyo mencatat debu vulkanik cukup besar yang dikeluarkan Gunung Miyakejima pada 18 Agustus 2000. Baru-baru ini, 10 Maret 2009, Gunung Sakurajima juga meletus dan mengirimkan debu sejauh 2 km.

VAAC yang memonitor Asia Tenggara dan Australia terletak di Darwin. Data – data yang dihasilkan VAAC ini sangat penting untuk menghindari kecelakaan pesawat.

*Kolom ‘Email dari Tokyo’, Berita Harian, Singapura. 26 Apr 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s