Gempa Tokai di Jepang: 2010?


Auto RSS feed from my BLOG

Setiap hari saya membuka website Badan Meteorologi Jepang (Japan Meterological Agency). Tujuannya: ingin tahu ramalan cuaca esok hari. Jika hujan maka jas hujan atau payung perlu dibawa. Akhir-akhir ini cuaca sulit ditebak. Saat musim semi pun, hujan es dengan anehnya turun pada 17 April 2010. Hujan es ini mengulang anomali pada 17 April 1969.

Di Jepang yang tak perlu ditebak barangkali gempa bumi. Gempa terjadi hampir setiap hari. Dalam seminggu terakhir saja (22 – 29 April 2010), sekitar 24 gempa tercatat dengan kekuatan antara 2.4 hingga 6.5. Lokasinya di sekitar pulau Honshu, di mana ibukota Tokyo berada.

Di antara gempa-gempa ‘kecil’ itu, ada satu gempa yang paling “ditunggu”, yaitu gempa Tokai. Gempa ini terjadi pada 1498, 1605 dan 1854 dengan kekuatan antara 6.7 hingga 8.2. Setelah melakukan perhitungan pada 1976, ahli gempa Katsuhiko Ishibashi mengusulkan keterjadian gempa Tokai, yaitu sekali dalam 100 hingga 150 tahun.

Penduduk Jepang, khususnya yang tinggal di selatan prefektur Shizuoka, cemas. Karena 156 tahun berlalu, gempa Tokai belum juga terjadi di Teluk Suruga dan perairan Omaezaki. Dipercayai bahwa energi gempa sedang terbentuk di kawasan ini. Beberapa kawan mengatakan: ‘Bersiaplah, meski sudah diprediksi, tak ada yang tahu kapan gempa Tokai akan terjadi.’

Kadang saya memeriksa informasi Prediksi Gempa Tokai dalam website JMA. Informasinya pendek: ‘Tak ada anomali pada aktivitas lempeng yang berhubungan dengan gempa Tokai’. Setelahnya, saya dapat bernafas lega. Pusat gempa Tokai berada sekitar 200 km barat daya Tokyo.

Gempa Tokai adalah satu dari tiga gempa besar yang terjadi di selatan pulau Honshu. Dua lainnya adalah Nankai dan Tonankai. Tiga gempa ini disebut Gempa Ansei Besar (berasal dari bahasa Jepang, Ansei no Dai Jishin). Gempa ini terbentang antara Tokai dan Shikoku.

Menurut Mitsuyuki Hoshiba dari JMA, gempa ini masih sulit diprediksi dengan teknologi yang ada sekarang ini. Namun, pemerintah Jepang menugaskan ahli gempa terkenal Profesor Tsuneji Rikitake dari Asosiasi Pengembangan Prediksi Gempa Bumi untuk memprediksi gempa Tokai. Dalam makalahnya pada 1999, Rikitake memperkirakan Gempa Tokai akan terjadi tahun 2010 dengan probabilitas 35 – 45%. Kekuatan gempa lebih dari 8.

Profesor Rikitake merekomendasikan pemerintah untuk membangun infrastruktur untuk memantau pergerakan gempa kecil. Jepang kemudian membangun 21 stasiun observasi aktivitas lempeng-lempeng sepanjang 200 km di selatan Honshu. Yang dimonitor adalah pergeseran awal atau “pre-slip”. Pre-slip juga disebut sebagai gempa kecil. Jepang kurang beruntung karena ia berada di pertemuan empat lempeng besar, yaitu lempeng Eropa, Filipina, Amerika Utara dan Pasifik, yang dapat bergeser setiap saat. Jaringan observasi jepang tersebut dapat menghitung regangan, kecepatan dan percepatan pre-slip secara bersamaan. Data terakhir menyebutkan bahwa tanah wilayah Shizuoka anjlok 5 mm per tahun.

Jepang berada di pertemuan empat lempeng tektonik, yaitu lempeng Eurasia, Laut Filipina, Amerika Utara dan Pasifik, yang bergerak setiap saat

Jepang juga membentuk Central Disaster Management Council pada 29 Agustus 2002. Tugasnya adalah memperkirakan kerusakan akibat gempa Tokai. Menurut badan penasihat ini, gempa Tokai diperkirakan lebih dahsyat dibandingkan gempa Hanshin Besar yang membunuh lebih dari 6000 jiwa pada Januari 1995.

Gempa Tokai akan memakan 8100 jiwa dan menghancurkan 230000 rumah. Kerugian yang dialami Jepang adalah 345.1 billion yen per hari. Tanah longsor juga diperkirakan terjadi di 6500 tempat. Akibat gempa Tokai, tsunami besar akan terjadi di sepanjang pantai prefektur Shizuoka. Ombak tertinggi akan mencapai 9.3 meter dan menghantam pantai dalam waktu kurang dari 5 menit. Gempa Tokai juga mengancam keberadaan pembangkit listrik tenaga nuklir Hamaoka di pantai Shizuoka. Namun laporan terakhir menyebutkan bahwa getaran seismik yang dialami reaktor karena gempa pada Agustus 2009 lalu masih dapat diatasi oleh kekuatan bangunannya.

Delapan prefektur akan diprioritaskan untuk gempa Tokai ini: Tokyo, Kanagawa, Yamanashi, Nagano, Gifu, Shizuoka, Aichi dan Mie.

Karena masyarakat Jepang sudah terbiasa dengan gempa, mereka lebih siap dalam menghadapinya. Mereka senantiasa membantu orang asing yang baru bermukim di Jepang dengan memberi brosur, buku dan penjelasan tentang bagaimana berlindung dari gempa. Hal yang paling cepat dilakukan ketika gempa adalah berlindung di bawah meja. Hal ini cukup sulit ketika gempa terjadi di malam hari ketika tidur. Oleh karena itu, pemerintah membangun menara-menara di setiap distrik yang sirinenya akan berbunyi ketika gempa besar tiba. Mobil sirine juga akan berkeliling ketika gempa besar terjadi. Televisi dan radio akan menyiarkan berita gempa.

Supermarket besar di Jepang menyediakan rak khusus yang menjual bahan dan peralatan darurat ketika gempa terjadi, seperti makanan kaleng, air minum, radio, senter, korek api, obat-obatan, selimut dan lainnya.

Pemerintah dan masyarakat Jepang memahami bahwa korban jiwa dan kerugian harta benda dapat dikurangi jika informasi disebarkan dengan cepat ke masyarakat. Untuk gempa besar, pengumuman gempa akan disampaikan langsung oleh perdana menteri lewat televisi dan radio.

Alam kadang menjadi kawan, kadang pula lawan. Untuk yang terakhir, manusia hanya dapat memprediksi kemudian berlindung.

*Kolom ‘Email dari Tokyo’, Berita Harian, Singapura, 3 Mei 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s