Parasite Single di Jepang


Auto RSS feed from https://ari3f.wordpress.com

Memilih menikah adalah mengabdikan diri ke lubang masalah; memilih tidak menikah adalah pengecut karena tidak mau berhadapan dengan masalah. – Ayu Utami (2003)

Dalam buku Si Parasit Lajang: Seks, Sketsa dan Cerita (2003), Ayu – secara tak langsung – juga bilang bahwa lajang mungkin jalan hidup: “Jika perkawinan ibarat pasar, orang-orang yang memutuskan tidak menikah sesungguhnya mengurangi pasokan istri separti OPEC mengatur suplai minyak. Saya percaya berkeluarga itu bagus untuk orang lain.”

Buku itu menceritakan kontradiksi, filosofi, kejujuran dalam ambigu menghadapi institusi yang bernama pernikahan – sebagai ‘lawan’ dari lajang. Ia juga menceritakan pengalaman-pengalaman jenaka. Masalah-masalah yang dibahas menyentuh keseharian. Benang merah dicari dalam bahasa yang apik. Ia adalah kumpulan cerita pendek yang menyegarkan!

[Lho … kok jadi promosi … !]

Dari mana label ‘parasit lajang’ berasal?

Empat tahun sebelum Si Parasit Lajang dirilis, buku Parasaito Shinguru no Jidai (Jaman Parasit Lajang) karangan Yamada Masahiro populer di Jepang. Parasit lajang adalah label bagi generasi muda Jepang, berumur antara 20 hingga 30-an, yang masih tinggal bersama orangtuanya. Umumnya mereka terpelajar: punya gelar, pekerjaan yang baik, namun belum mau menikah.

Di negeri lain, ‘parasit lajang’ dinamakan twixter (Amerika Syarikat), KIPPERS (Inggris – kid’s in parents’ pockets erroding retirement savings), bamboccioni (Itali), boomerang (Kanada), nesthockers (Jerman), Tanguy syndrome (Perancis), kangaroos (Korea Selatan).

Menurut Kementerian Dalam Negeri dan Komunikasi Jepang, penduduk berumur 30 hingga 34 yang masih lajang sebanyak 30.6% (1980). Jumlah lajang meningkat terus dari tahun ke tahun: 46.5% (1990), 57% (1995) dan 79.1% (2005).

Sebab-sebab munculnya parasit lajang

Menurut Yamada Masahiro, sosiolog dari Universitas Gakugei Tokyo, parasit lajang berawal tahun 1970-an. Kemunculannya ada beberapa sebab.

  • Status lajang mendapatkan tempat dalam masyarakat Jepang. Jaman dahulu, menjadi lajang dianggap kurang dewasa. Sekarang berbeda: Menjadi lajang adalah hak asasi dan pilihan hidup. Ia bukan lagi ‘cacat sosial’.
  • Gaji yang kurang memadai. Laki-laki umur rata-rata 35 di Jepang hanya mendapat gaji kurang dari 2 juta yen (Rp 200 juta) per tahun. Untuk sewa rumah ini tidak cukup. Jadi apa boleh buat? Tinggal di rumah orangtua saja lebih murah.
  • Tradisi pesta minum (nomikai) dan bermain judi (misalnya, Pachinko) membuat pemuda Jepang tidak terbiasa hemat untuk keperluan darurat atau investasi jangka panjang.
  • Lamanya jam kerja. Lamanya jam kerja membuat mereka tidak sempat mengurusi rumah dan menyiapkan makan. Jika tinggal bersama orangtua di rumah mereka hanya tidur dan makan saja.
  • Ini khusus bagi perempuan: Sukarnya mencari lajang bergaji besar. Di Jepang, ‘keluarga ideal’ berarti suami bekerja dan istri menjadi suri rumah (konsep keluarga berpendapatan tunggal atau single-income family). Karena biaya hidup di Jepang tinggi, keluarga ideal ini perlu suami bergaji besar pula. Kenyataannya ini sukar. Oleh sebab itu, perempuan terpelajar memilih hidup sendiri saja.

Efek parasit lajang

Banyaknya parasit lajang menyebabkan tiga masalah besar, yaitu rendahnya angka kelahiran, rendahnya investasi dan stagnasi kebudayaan.

1. Rendahnya Angka Kelahiran

Jumlah penduduk Jepang diperkirakan turun dari 127 juta jiwa tahun 2010 menjadi hanya 90 juta jiwa tahun 2050. Separti halnya negara-negara Asia lainnya, masyarakat Jepang ingin mendapatkan keturunan lewat jalur yang syah, yaitu perkawinan. Sayangnya, proses menuju perkawinan kadang tidak mulus.

Laki-laki Jepang lebih pemalu dibandingkan perempuan Jepang. “Mereka tidak pandai berkomunikasi,” demikian kata Yoko Itamoto dari Agen Pelayanan Pengenalan Pasangan (PISA). Selain itu, orang Jepang terlampau hati-hati, tidak mampu jatuh cinta dan sukar membuat hubungan emosional. Itamoto menduga perusahaan telah mengubah mereka menjadi ‘robot buruh’. Perusahaan mempunyai jam kerja panjang. Akibatnya tidak ada waktu bagi mereka untuk bertemu dan membina hubungan dengan calon pasangan hidup.

2. Rendahnya Investasi

Krisis ekonomi yang melanda Jepang diperburuk dengan rendahnya investasi untuk kebutuhan jangka panjang, misalnya rumah, pendidikan anak, dan hal yang tahan lama (durable) lainnya. Harga mansho (mirip apartment condominium dengan fasilitas biasa) di luar Tokyo metropolitan harganya sekitar 50 juta yen ($738 ribu).  Ada juga yang lebih murah sebenarnya. Harga ini tentu kurang terjangkau bagi golongan muda yang bergaji kecil. Padahal populasi mereka ini cukup besar. Pada akhirnya, mansho hanya terbeli oleh pasangan suami – istri atau mereka yang sudah senior, yang jumlahnya tak sebanyak golongan muda.

3. Stagnasi Kebudayaan

Karena investasi rumah mahal, lajang menghabiskan uangnya untuk barang yang ‘lebih murah’. Misalnya, tas merk luar Jepang, seperti Gucci. Ini menyebabkan budaya konsumtif dan ignorance terhadap rencana jangka panjang. Karena sibuk di kantor dan menikmati hidup bersama kawan-kawannya, lajang tidak memikirkan reformasi kebudayaan. Mereka juga cenderung apolitik, apatis terhadap perubahan sosial politik di Jepang.

Pembelaan terhadap parasit lajang

Parasit lajang tidak sepenuhnya salah. Genda Yuji, sosiolog dari Universitas Tokyo, mengatakan bahwa anak muda Jepang tetap punya semangat kerja dan tidak ingin bergantung kepada orangtua. Namun, pekerjaan permanen di Jepang makin sukar dicari.

Perusahaan lebih suka mempertahankan pegawai usia menengah (umur 45 – 54 tahun) daripada mempekerjakan pegawai baru. Pegawai usia menengah biasanya cukup berpengalaman sehingga perusahaan dapat menghemat biaya pelatihan (training).

Gaji di Jepang makin lama makin menurun. Lihat saja fakta ini: tahun 1998, 77.7% perempuan yang punya posisi permanen mendapatkan gaji rata-rata 170 ribu yen (Rp 17 juta) per bulan. Tahun 2007, jumlahnya jadi 71%, dan gaji rata-ratanya hanya 157 ribu yen (Rp 15.7 juta) per bulan. Ini menyebabkan perempuan Jepang sulit hidup mandiri.

Meski demikian, tidak semua lajang benar-benar ‘parasit’. Shingo Kukimoto dari Institut Penelitian Ekonomi Rumah Tangga milik Kantor Kabinet Jepang mengatakan bahwa tujuan mereka tinggal dengan orangtua adalah untuk merawat orangtuanya yang sudah tua. Kukimoto juga mencatat bahwa 57.1% lajang mensubsidi keuangan orangtua serta membantu pekerjaan rumah tangga.

Solusi Pemerintah

Solusi pro-keluarga, separti subsidi bulanan anak, perumahan nasional, pembuatan child care, taman kanak-kanak, taman bermain, masih jauh panggang dari api, alias belum efektif. Kerjasama antara perusahaan, pemerintah dan masyarakat belum terjalin kuat. Tahun ini, subsidi untuk anak di bawah 16 tahun adalah sebesar 13 ribu yen (Rp 1.3 juta). Sebagai ilustrasi, 13 ribu yen adalah setengah dari SPP taman kanak-kanak swasta. Tahun 2011, pemerintah berencana menaikkan subsidi anak menjadi 26 ribu yen, tapi belum ada kepastian.

*Kolom “Email dari Tokyo”, Berita Harian Singapura, 10 Mei 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s