Ulasan Buku: True Life of Habibie


Oktober 2009. Di ruangannya yang penuh tumpukan buku, seorang profesor aerodinamika bertanya, “Kamu kenal Habibie? Dia pernah bekerja di Messerschmitt Bolkow Blohm, ya?”

Februari 2010. Seorang kawan baik mengirimkan buku dari Singapura (kebetulan habis pulkam ke Pontianak): The True Life of Habibie – Cerita di Balik Kesuksesan, sebuah biografi Habibie yang ditulis oleh A. Makmur Makka (2008).

Buku setebal 456 halaman ini akhirnya selesai dibaca bulan Mei di tengah-tengah ‘liburan panjang’ di Jepang. Makka, penulisnya, tak berniat menyebutnya biografi. Tetapi di bagian sambutannya, Habibie menyebutnya ‘biografi’. Biografi bagi Makka adalah perjalanan hidup sejak lahir hingga sisa hidup, sedangkan buku Habibie ini merupakan mozaik kisah, ragam pendapat dan komentar. Bagi Habibie, biografi adalah penggalan dan rekaman kehidupan. Bagi saya, buku ini adalah versi terbaru dari buku lama berjudul Habibie: Dari Parepare lewat Aachen. Ia baru karena ada tambahan referensi yang lebih jelas, dan di bagian akhirnya, memasukkan fase kehidupan Habibie ketika menggantikan Suharto pada Mei 1998 dan pendapat Habibie tentang industri di Indonesia, khususnya dirgantara.

Buku ini setidaknya terbagi menjadi beberapa bagian dan masa (ada 33 bab):

  1. Komentar Habibie sendiri
  2. Cerita keluarga
  3. Masa sebelum Habibie lahir: sejarah keluarga Habibie
  4. Masa kecil di Parepare
  5. Masa remaja di Bandung
  6. Masa menjadi mahasiswa di Jerman Barat
  7. Masa bekerja di Jerman Barat
  8. Masa membangun industri di Indonesia
  9. Masa menjadi presiden
  10. Peninggalan Habibie: ICMI, Habibie Center, IPTN (sekarang PTDI)

Buku yang sekarang tetap berpusat pada pembentukan figur Habibie sebagai seorang profesional di bidang pesawat terbang, sebagai seorang industrialis yang didukung rejim Suharto, sebagai seorang politikus dan pemimpin bangsa yang dirundung krisis ekonomi, hukum, sosial dan perjuangan menuju demokrasi. Spektrum kehidupannya lengkap dan unik bagi orang Indonesia kebanyakan, karena ia adalah intelektual ‘produksi’ Barat (khususnya Jerman, sebuah negeri di mana orang-orang Jepang memperoleh ilmu dan teknologi); ia punya ambisi dan sikap persuasif yang sulit ditandingi karena argumen dan kekuatan artikulasinya dalam menyampaikan ide yang oleh sebagian orang dinilai mercu suar atau berlebihan bagi negeri yang agraris lagi terbelakang. Semangat dan vitalitasnya tinggi, seperti presiden Sukarno; ide-idenya terus mengalir seperti Leonhard Euler.

Buku ini juga menyajikan pendapat personal Habibie tentang visi industri pesawat terbang yang sebenarnya, dan akhir yang kurang menyenangkan karena campur tangan IMF dalam ‘membunuh’ industri ini. Habibie mengawali dengan ucapan: “Saya sedih” ketika dimintai pendapat tentang IPTN pasca campur tangan IMF. Singkat, namun ini buah ketidakkompakan bangsa sendiri menghadapi dilema ekonomi di depan IMF. Dilematis: kita perlu bantuan, tapi proteksi terhadap karya sendiri harus dijunjung tinggi (meski di dalamnya, kita juga sering berdebat tentang perlu tidaknya teknologi tinggi untuk Indonesia). Tidak kompak: saking banyaknya kepentingan (yang berujung pada ketidakjujuran dan uang) membuat industri sendiri dibunuh, dan mengiyakan satu point dalam perjanjian IMF untuk menutup industri yang tengah membangun pesawat jet. Dengan hilangnya Indonesia dari pasar pesawat itu, Jepang (Mitsubishi), Brazil (Embraer), Amerika (Boeing), Perancis/Inggris/Jerman (Airbus) dan Belanda (Fokker) kini menikmati pasar pesawat jet kelas menengah (90 – 120 penumpang).

Buku ini menceritakan Habibie dengan bahasa sederhana. Beberapa argumentasi didukung oleh data dan opini orang yang pro terhadap Habibie. Sebagian memang menceritakan kepahitan hidup, seperti ketika Habibie sakit keras ketika masih berkuliah di Jerman; ‘disambut’ kerusuhan 28 Mei 1998 waktu baru 7 hari menjadi presiden; jatuh bangunnya industri yang dirintis; tantangan menjadi orang pragmatis dan berpengetahuan di tengah orang-orang yang kesulitan memformulasikan distilasi ‘ekonomi pro-rakyat dan industrialisasi’.

Kelemahan buku ini ada pada struktur, isi dan proses penyuntingan. Biografi agaknya memang punya fleksibilitas dalam tulisan. Namun penyuntingan di mana kesalahan tulis dapat diminimalisasi adalah mutlak. Struktur di mana seorang pembaca yang kritis dapat memahami pola pikir penulisnya, tidak hanya pola pikir orang yang ditulis – memerlukan pembagian fase, atau pembagian perspektif yang lebih terarah. Isi di mana hal-hal yang tak relevan dibuang dan yang relevan didiskusikan secara mendalam. Isi merupakan kekuatan buku di mana pembaca belajar banyak hal, tergerak untuk mengkritisi atau meniru, mendorong orang untuk menelaah dan bertanya ‘kenapa, kenapa, kenapa’. Buku biografi yang baik kadang tak memberikan solusi, ia menyisakan misteri.

Buku ini menceritakan optimisme – bahwa Indonesia juga pernah punya seorang visioner dalam teknologi, yang pernah berjuang di belantara politik, ekonomi dan sosial yang tengah berubah dari komunistik ke kapitalis.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s