Mundurnya PM Hatoyama


Auto RSS feed from https://ari3f.wordpress.com

Even the strongest have their moments of fatigue

– Friedrich Nietzsche, filosof Jerman (1844 – 1900)

Tanggal 2 Juni 2010, Perdana Menteri Jepang Yukio Hatoyama mengundurkan diri. Ia menjadi perdana menteri keempat yang berkuasa kurang dari setahun. Ia mewarisi nasib tiga PM sebelumnya: Shinzo Abe (2006 – 2007), Yasuo Fukuda (2007 – 2008) dan Taro Aso (2008 – 2009). Abe turun karena skandal keuangan dan masalah kesehatan; Fukuda turun karena tekanan partai oposisi; Aso turun karena tak mampu memperbaiki ekonomi Jepang.

Lalu, apa sebab Hatoyama mengundurkan diri?

Ada beberapa sebab utama, yaitu (1) skandal keuangan, (2) masalah relokasi pangkalan tentara Amerika di Okinawa dan (3) runtuhnya partai koalisi. Ketiganya masalah dalam negeri.

1 – Skandal Keuangan

Entah mana yang benar: anak meminta uang kepada ibunya, atau ibu berbelas kasih memberi anaknya uang saku? Skandal keuangan ini berhubungan dengan sumbangan dana kampanye Partai Demokratik Jepang (DPJ) sebesar 1 milyar yen (Rp 100 milyar). Uang ini berasal dari Ny Yasuko Hatoyama, cucu pendiri perusahaan ban terbesar dunia Bridgestone Corporation. Yasuko adalah ibu kandung Yukio Hatoyama. Sumbangan ini sebenarnya mewajibkan Hatoyama membayar pajak “hadiah”. Namun, Hatoyama lupa. Setelah dikritik sana-sini, ia akhirnya membayar pajak 500 juta yen.

Skandal lain melibatkan Sekjen DPJ Ichiro Ozawa. Tiga asisten Ozawa diadili di pengadilan distrik Tokyo karena lupa mencatat penggunaan dana organisasi partai. Ozawa pernah mengeluarkan 400 juta yen untuk membeli rumah di pusat Tokyo. Rumah ini digunakan sebagai perumahan bagi stafnya. Kesalahan Ozawa adalah menggunakan dana pribadi, sedangkan stafnya lupa (atau sengaja) tidak mencatatnya dalam buku administrasi. Ketika Diet (parlemen) memeriksa akuntansi partai, ketahuan bahwa ada beberapa dana siluman. Ozawa pun dipanggang di depan parlemen. Namun, untungnya Ozawa bebas dari tuntutan hukum karena bukti-buktinya kurang kuat. Sounds strange?

Yukio Hatoyama dan Ichiro Ozawa (by Robert Dahl, Zero Gravity)

2 – Masalah Okinawa

Amerika pernah menduduki pulau Okinawa pasca PDII. Tahun 1973, AS mengembalikan Okinawa ke Jepang dengan syarat AS tetap punya pangkalan militer di sana. Berhubung Jepang sudah berikrar untuk tak punya angkatan bersenjata lagi, Jepang pun setuju. Okinawa pun berkembang pesat dengan adanya pangkalan dengan 28000 pasukan. Dulunya dusun, kini kota besar.

Namun tak semua berjalan mulus: ada friksi antara penduduk lokal dan AS. Beberapa insiden terjadi, seperti pemerkosaan gadis Jepang oleh tentara AS; kecelakaan yang disebabkan permainan berbahaya anak-anak tentara AS; tentara AS yang “kebal” hukum begitu berhasil masuk ke pangkalan setelah melakukan kejahatan.

DPJ segera memanfaatkan momentum ini untuk kemenangan partainya. DPJ berjanji akan memindahkan pangkalan Amerika ke luar dari Okinawa. Tentu ini berita gembira bagi masyarakat Jepang. Tapi sayang, setelah DPJ memenangkan pemilu tahun lalu, pangkalan AS agaknya akan tetap di Okinawa. Tak jadi pindah rumah.

“Hatoyama ingkar janji,” demikian yang diketahui publik Jepang.

Protes rakyat Okinawa juga disebabkan pangkalan AS yang berada di tengah kota. “Not in my backyard!” demikian kata orang-orang Okinawa.

Namun, alasan ini tidak masuk akal karena pangkalan marinir jadi ada di tengah kota atas konsekuensi perkembangan ekonomi. Genesis-nya bukan “membangun pangkalan di tengah kota”, namun “membangun kota di sekeliling pangkalan”.

Hatoyama pun putar otak mencari lokasi baru: Osaka, Guam, Kadena, Haneda. Tidak satu pun yang layak.

Okinawa dianggap tempat paling tepat karena infrastruktur sudah ada. Lagipula jumlah penduduk tidak sepadat di pulau Honshu, di mana ibukota Tokyo berada. Akhirnya Hatoyama pun menyerah, dan meminta maaf kepada rakyat Okinawa.

Sembilan puluh ribu orang berdemonstrasi di Okinawa. Secara mental, ini merupakan tekanan publik. Hatoyama tak lagi dipercaya. Namun, apa boleh buat: tanpa AS di Jepang, Korea Utara bisa sewaktu-waktu meluncurkan nuklir ke Tokyo (pusat ekonomi terbesar ke-2 di dunia); tanpa AS di Jepang, ekspansi bisnis perusahaan Jepang di Amerika kurang mendapat kemudahan.

Namun tanpa AS di Jepang, tidak ada lagi contoh soal “neo-kolonialisme abad 21”.

AS memang cerdik. Hukum adalah pondasi segala bentuk perjanjian bilateral. Sedangkan, Jepang barangkali percaya pada gesture atau senyuman. Tahun 2006, pakta AS – Jepang tentang Okinawa ditandatangani (setelah sekian kali direvisi). Pakta ini berisi, salah satunya, pemindahan pangkalan marinir Futenma ke Nago, wilayah Henoko.

3 – Runtuhnya Partai Koalisi

Mundurnya Hatoyama juga disebabkan oleh keluarnya Partai Sosial Demokratik (SDP) dari partai koalisi antara DPJ, SDP dan Parti Baru Rakyat (PNP). Parti koalisi inilah yang membuat DPJ memenangkan pemilihan umum tahun 2009. Apa penyebab keluarnya SDP?

Tanggal 28 Mei 2010, Menteri Urusan Konsumen Mizuho Fukushima dipecat oleh Hatoyama. Fukushima tidak lain adalah ketua SDP. Fukushima dipecat karena ia menolak menandatangani resolusi kabinet untuk memindahkan pangkalan Amerika ke Nago. Fukushima ingin pangkalan Amerika keluar dari Okinawa.

Closing Remarks

Mundurnya Hatoyama adalah tanda kelelahan. Tapi ini barangkali juga strateginya untuk memutihkan namanya. Bersama Ichiro Ozawa ia berencana membentuk DPJ Baru yang (katanya) tanpa skandal. Seorang psikolog juga berspekulasi bahwa Hatoyama dapat berprestasi apabila masalahnya sudah “well-defined” (beliau mendapatkan PhD dalam bidang Teknik Industri dari Universitas Stanford tahun 1976); namun ketika masalah yang dihadapi adalah masalah politik yang notabene semrawut (chaotic) atau samar-samar (not-so-well defined), sikap indecisiveness (sulit memutuskan) muncul.

Pengganti Hatoyama adalah Naoto Kan, bekas menteri keuangan dalam kabinet Hatoyama. Tidak soal siapa perdana menteri Jepang, beliau perlu menyelesaikan masalah-masalah berikut:

  • Masalah pangkalan tentara Amerika di Okinawa
  • Masalah defisit keuangan: hutang Jepang dua kali lipat dari pendapatan
  • Masalah mandegnya jumlah penduduk
  • Masalah dana talangan kepada perusahaan-perusahaan Jepang
  • Masalah hubungan pertahanan, keamanan dan ekonomi dengan Amerika dan China
  • Masalah keberadaan orang asing di Jepang

Siapakah Naoto Kan? Ikuti artikel selanjutnya…

*Kolom ‘Email dari Tokyo’, Berita Harian Singapura, 7 Juni 2010

One thought on “Mundurnya PM Hatoyama

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s