Naoto Kan dan Blue Samurai


Auto RSS feed from https://ari3f.wordpress.com

Seorang lelaki membotaki rambutnya. Ia lalu memakai pakaian peziarah yang khas: hakui (pakaian putih), wagesa (selendang berwarna ungu), sugegasa (topi anyaman bambu) dan kongoutsue (tongkat kayu). Lelaki itu lalu menuju ke selatan, ke sebuah pulau bernama Shikoku. Di pulau inilah dia memulai Hachijuhakkasyo Meguri, sebuah perjalanan spiritual ke 88 kuil. Perjalanan ini ditempuh selama 6 minggu dan sejauh 1200 km.

Lelaki ini tidak lain adalah  Naoto Kan, perdana menteri Jepang yang baru dilantik 8 Juni lalu, menggantikan Hatoyama.

Naoto Kan ketika melakukan ziarah ke pulau Shikoku, Juli 2004

Ziarah ke Shikoku dilakukannya pada Juli 2004 setelah ia turun dari kepemimpinan Minshuto (Partai Demokratik Jepang atau DPJ). Dia turun karena semasa menjadi ketua DPJ (2002 – 2004) ia melakukan kesalahan: premi pensiun tak dibayarnya. Ini mengundang kemarahan partai oposisi di parlemen. Karena malu, ia pun mundur. Tak lama kemudian, pemerintah mengumumkan bahwa ‘kesalahan’  Kan disebabkan oleh kesalahan administrasi pensiun Jepang yang kurang teliti.

Terlepas dari itu, ziarah spiritual Kan membuat warga Jepang bersimpati kepadanya. Dia dinilai lapang dada, jujur dan mau melewati ziarah yang berat tersebut. Secara simbolik, ziarah ini barangkali mirip tradisi taubat.

Enam tahun berlalu, ingatan rakyat Jepang terhadap ziarah Kan masih jelas. Hal ini tentu menguntungkan DPJ. Popularitas DPJ, yang turun menjadi 20% selama  Hatoyama memimpin, naik tiga kali lipat menjadi 60 %. Kan dinilai sebagai angin segar dalam politik Jepang. Tentunya faktor “Asal Bukan Hatoyama” merupakan sebab terbesar mengapa popularitas DPJ naik.

Ingatan rakyat Jepang tentang Kan tak melulu yang baik-baik saja.  Kan pernah terlibat skandal percintaan dengan seorang penyiar televisi Jepang. Dia sempat menolak tuduhan tersebut, dan membuktikan bahwa perkawinannya utuh hingga kini. Media Jepang pun tidak banyak meliput skandal ini.

Kan dengan cepat memanfaatkan momentum. Dia mengatakan: “Hal yang paling penting sekarang adalah meraih kembali kepercayaan rakyat Jepang.”

“Kepercayaan” di Jepang mirip bola gotri dalam permainan judi Pachinko. Rakyat Jepang memberi kepercayaan yang banyak pada awal pemerintahan seorang perdana menteri. Namun begitu perdana menteri berbuat salah, kepercayaan jadi terkikis habis.

Untungnya, ada Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan!

Opini warga Jepang dikendalikan media. Karena perhatian kini berpusat pada Piala Dunia 2010,  Kan tak terlalu “terganggu” oleh liputan media massa. Sejak dibuka 10 Juni 2010, tepatnya dua hari setelah Kan terpilih sebagai perdana menteri, Piala Dunia 2010 memenuhi acara televisi Jepang. Jadwal pertandingan, profil pemain dan berita perjalanan pemain bola Jepang disiarkan berulang kali.

Jepang yang mengirim tim nasionalnya dengan nama Blue Samurai menang atas Kamerun dengan skor 1-0. Rakyat Jepang memenuhi lapangan terbang Narita pada hari Kamis (17 Juni) dan terbang ke Afrika untuk menyaksikan babak penyisihan Grup E: Jepang – Belanda di Durban dan Jepang – Denmark di Rustenburg.

Meski perhatian rakyat Jepang terarah ke Piala Dunia, Kan tidak lalai. Dia tetap membersihkan sisa puing-puing kerajaan Hatoyama.

Akhir-akhir ini, beberapa sikap politik Naoto Kan patut mendapatkan perhatian karena ini dapat menjelaskan strategi politiknya.

1. Menjauhi Ichiro Ozawa

Ketika menjadi menteri keuangan, Kan menjaga jarak dengan ‘raja’ DPJ, Ichiro Ozawa. Meskipun Ozawa hanyalah sekretaris jenderal, namun Ozawa bak penyelia Hatoyama. Oleh itu, ketika Hatoyama dan Ozawa terkena kasus skandal keuangan,  Kan nampak low profile. Kan menilai bahwa politisi Jiminto (Partai Liberal Demokratik atau LDP) sudah kehilangan sikap adil. Tujuan LDP bukan lagi menegakkan keadilan, tetapi menjatuhkan Hatoyama dan Ozawa.

2. Mencari Titik Temu dengan Partai Oposisi

Tujuan mencari titik temu dengan oposisi, pada akhirnya, adalah menyelamatkan kursi perdana menteri dan eksistensi DPJ. Titik temu antara DPJ dan LDP adalah pada cara pengurangan hutang Jepang yang kini 1.8 kali lipat pendapatan domestik total (GDP). Pajak pembelian akan dinaikkan menjadi 10% dan pajak perusahaan akan dipotong hingga setengah dari sekarang. Namun, angka pajak yang baru akan didiskusikan setelah pemilihan umum Upper House Election pada 11 Juli 2010 nanti.

3. Memindahkan Pangkalan AS Futenma ke Nago

Kan dengan tegas mengutamakan hubungan politik dengan Amerika. Akibatnya, pangkalan Amerika Serikat di Okinawa tidak akan dikeluarkan dari Okinawa. Penyebab kemarahan 90 ribu warga Okinawa bulan lalu adalah masalah “pengingkaran janji politik” dan letak pangkalan yang berada di tengah kota. Pemindahan pangkalan ke pinggiran Okinawa, yaitu Nago, akan segera dilakukan.

4. Mengusulkan Strategi Ekonomi Jangka Panjang

Alih-alih memberikan janji “indah” jangka pendek, Kan memberi janji jangka panjang saja. Dia menjanjikan surplus ekonomi 2% tahun 2020. Agaknya dia tahu bahwa janji jangka pendek efektif hanya untuk memenangkan pemilu. Setelah itu, penyesuaian perlu dilakukan. Hasilnya memang kurang menyenangkan: Kenaikan subsidi anak sebesar 26000 yen (Rp 2.6 juta) pada bulan April 2011 dibatalkan.

Kini, rakyat Jepang duduk di depan televisi dan menunggu dua hal: Blue Samurai lolos ke babak selanjutnya di Piala Dunia 2010 dan Naoto Kan membawa Jepang keluar dari masalah-masalah negerinya.

Naoto Kan menggantikan Hatoyama pada 8 Juni 2010

Tim nasional Jepang, Samurai Biru, pada Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan

*Kolom ‘Email dari Tokyo’, Berita Harian, Singapura, 21 Juni 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s