Bahasa Inggris


Pada bulan Juni 921 Masehi, Khalifah Baghdad mengirim seorang penyair, Ibnu Fadhlan, untuk menjadi duta besar bagi Raja Bulgar. Ia menyusuri jalur perdagangan Volga, penghubung Persia dan Eropa Utara. Di tepi sungai Volga sepanjang jalur itu, ia mengunjungi tenda bangsa Viking. Orang Viking dikenal sebagai petualang dan pelaut ulung. Namun, mereka juga bajak laut yang biadap. Sejarah mencatat pengaruhnya hingga ke Andalusia. Konon, mereka lebih dulu mencapai Amerika Utara daripada Christopher Columbus.

Ibnu Fadhlan tak bisa bercakap-cakap dengan orang Viking karena mereka menggunakan bahasa Nordik (sekarang Normandy). Untungnya, Ibnu Fadhlan bertemu dengan seorang Viking yang dapat berbahasa Yunani. Ibnu Fadhlan kemudian meminta ahli bahasanya menerjemahkan bahasa Yunani ke bahasa Persia. Pada masa itu, bahasa Yunani merupakan bahasa penghubung (lingua franca). Kisah Ibnu Fadhlan ini adalah kisah nyata, yang kemudian diceritakan kembali oleh Michael Crichton dalam novel Eaters of the Dead. Kisah ini juga mengilhami film The 13th Warrior (1999).

Cuplikan kisah itu menyadarkan kita satu hal: penguasaan bahasa penghubung sangatlah penting. Dalam hubungan internasional, bahasa Yunani bertahan lebih dari 3,000 tahun sebagai alat komunikasi. Bahasa lainnya, seperti Latin, biasanya dipakai dalam buku-buku ilmiah saja. Kedua bahasa itu tergantikan bahasa Inggris pada abad ke-18 hingga sekarang.

Banyak orang Jepang belajar bahasa Inggris. Namun, kemampuannya sulit berkembang karena pengajarannya hanya menekankan kemampuan membaca dan menulis saja. Anak muda Jepang harus pergi ke luar negeri untuk melatih bercakap-cakap dalam bahasa Inggris. Inilah yang diungkapkan Dalai Lama dalam 10 hari lawatan ke Jepang yang berakhir pada 27 Jun 2010 lalu.

Dalai Lama di Jepang

Dalam lawatannya, pemimpin spiritual itu berkata:

Senang atau tidak, Bahasa Inggris merupakan bahasa universal. Belajarlah bahasa Inggris dan lihatlah dunia. Ini penting sekali.

Alasan Dalai Lama benar adanya. Meski Jepang unggul dalam teknologi, anak-anak mudanya sering merasa tertekan dan kesepian. Akibatnya, banyak dari anak-anak muda ini bunuh diri. Akhir-akhir ini angka bunuh diri semakin meningkat.

Dalai Lama menutup pesannya

Pergilah ke Arab, Afrika, Amerika Latin … kamu dapat menyumbangkan sesuatu kepada dunia

Meski efek dari komentar Dalai Lama ini belum bisa diprediksi, namun perusahaan-perusahaan Jepang lebih cepat dalam mengadopsi bahasa Inggris sebagai bahasa ‘resminya’.

Uniqlo

Uniqlo, sebuah perusahaan baju kasual, berencana menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa resmi bulan Maret 2012 nanti. Tadashi Yanai, presiden Fast Retailing Co. (induk dari Uniqlo), berencana memperbanyak jumlah pekerja asingnya: 300 orang asing akan dipekerjakan bulan April 2011 dan 700 orang asing bulan 2012.

Uniqlo yang mempunyai 809 outlet di Jepang dan 136 outlet di luar negeri, seperti Republik Rakyat Cina, Korea Selatan, Eropa, Hong Kong, Amerika Serikat, Singapura dan Malaysia, ingin meraih keuntungan tujuh kali lipat tahun 2020. Keuntungan ini hanya dapat diperoleh dengan memperbanyak jumlah outlet di luar Jepang dan mempekerjakan orang-orang asing.

Rakuten Inc.

Rakuten Inc., penyedia pelayanan belanja online Jepang, juga tak ketinggalan. Rakuten akan menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa resmi tanggal 1 April 2012. Rakuten Inc. yang telah membeli toko online buy.com (Amerika Serikat) dan priceminister.com (Perancis) ingin mengembangkan perdagangannya ke 27 negara. Penjualan dari luar negeri ini diperkirakan mencapai 20 trilyun yen. Seperti halnya Fast Retailing Co., Rakuten berencana menarik 150 orang asing tahun 2012.

Nissan Motor Co.

Firma Jepang yang lebih dulu menggunakan bahasa Inggris sebagai lingua franca adalah Nissan Motor Co. Langkah ini terbukti menguntungkan karena Nissan dapat menyewa eksekutif handal yang kebetulan bukan orang Jepang. Nissan, yang rugi 20 milyar dolar AS pada bulan Juni 1999, menyewa Carlos Ghosn sebagai chief operating officer (COO), kemudian mengangkatnya menjadi chief executive officer (CEO) tahun 2001.

Menyewa gaikoku-jin (orang asing) sebagai presiden perusahaan merupakan hal yang langka di Jepang. Strategi ini biasanya mendapat kritik pedas karena dianggap melawan nilai-nilai tradisi Jepang.

Ketika ‘Barat’ bertemu ‘Timur’ inilah akibatnya: Ghosn tanpa beban menjabat tangan pegawai rendah di Nissan. Konon ini merupakan hal yang langka di Jepang! Biasanya, ketika pegawai rendah membungkuk 45 derajat, presiden perusahaan hanya mengangguk saja. Wajar apabila Business Week Online (8 Januari 2001) menamakan Carlos Ghosn ‘Musuh Rakyat Nomor 1’ dalam industri otomotif Jepang.

Ghosn menanggapinya dengan memberi bukti nyata kepada Nissan: dalam 1 tahun, firma ini bangkit dan untung 2.3 milyar dolar. Kini, Nissan adalah satu dari tiga industri otomotif terbesar Jepang, menyusul Toyota dan Honda.

Dua hal itu, yaitu berhasil dalam perdagangan dan komentar Dalai Lama agar anak-anak Jepang meningkatkan kemampuan berbahasa Inggrisnya, rasanya cukup sebagai alasan bahwa bahasa Inggris dapat memberikan perubahan.

Namun, harus disadari bahwa gerakan itu terjadi atas keinginan perusahaan dan usulan orang luar saja. Langkah itu bukan gerakan resmi pemerintah Jepang. Jadi, wajarlah jika perkembangan bahasa Inggris di Jepang sebenarnya masih lambat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s