Renho


Dalam kereta yang beranjak sesak, saya bertemu dosen bahasa Jepang. Selain mengajar di universitas, ia juga ketua Nihon-go Kyouiku Gakkai (Komunitas untuk Pengajaran Bahasa Jepang sebagai Bahasa Asing atau NKG). Hari Sabtu itu ia seharusnya libur, tetapi komunitasnya mendadak mengadakan pertemuan untuk membahas masalah penting: pemotongan anggaran.

Pemotongan anggaran tentunya berita buruk. Namun, ia cukup mengerti alasannya: ekonomi Jepang sedang susah. Hal itu memang sulit dibayangkan untuk ekonomi terbesar kedua di dunia setelah Amerika Serikat. Indikator susahnya ekonomi Jepang adalah hutang bersih (net public debt ratio) yang mencapai 127% pendapatan negeri kasar (gross domestic product) pada 2009 tahun lalu. Tahun ini, Menteri Keuangan Jepang melaporkan bahwa utangnya naik jadi 137%.

Ia berkata:

Pemerintah ingin berhemat dengan memotong biaya dan menggabung beberapa organisasi bahasa Jepang jadi satu. Pengaturan lebih mudah dan dananya bisa direduksi.

Lalu saya bertanya: kalau dengar istilah potong biaya, apakah ada hubungannya dengan Renho? Ia tersenyum lalu mengatakan bahwa pemrakarsa pemotongan biaya di Jepang memang Renho Murata.

Tentang Renho

Renho Murata, 42 tahun, cukup populer beberapa bulan terakhir ini. Apalagi ketika ia memperoleh 1.71 juta suara dalam Pemilihan Umum Dewan Tertinggi (Upper House) tanggal 11 Juli 2010 lalu.

Nama “Renho” melejit saat ia melakukan pemeriksaan terhadap anggaran pemerintah. Proses pemeriksaan yang disiarkan di TV itu menampilkan betapa pedasnya kritik Renho kepada birokrat Jepang. Ketika itu Renho menjabat sebagai Direktur Komite Pendidikan, Kebudayaan dan Ilmu Pengetahuan dalam parlemen Jepang.

Kalimatnya yang cukup populer adalah

Kenapa Jepang harus membangun superkomputer nomor 1 satu di dunia? Apa salahnya menjadi nomor 2 dua??

Tak heran, para ilmuwan dan profesor berang dibuatnya. Kemarahan ini agaknya beralasan karena implikasi buruk segera terasa: pembelian superkomputer akhirnya dimenangkan perusahaan luar Jepang! Kalimat Renho jelas-jelas menurunkan pendapatan industri superkomputer Jepang.

Namun begitu, ketelitian Renho dalam meninjau pengeluaran dimanfaatkan Naoto Kan, 64 tahun, Perdana Menteri Jepang sekarang. Naoto Kan, yang menggantikan Yukio Hatoyama sebagai perdana menteri pada 8 Juni 2010 lalu, melantik Renho sebagai Menteri Revitalisasi Pemerintah. Renho adalah anggota Minshuto (Partai Demokrasi Jepang) juga, di bawah kepemimpinan Naoto Kan.

Tugas Renho adalah menghemat uang negara. Dia memulai tugas dengan memeriksa petunjuk 21 kantong-kantong anggaran, disebut maizokin (harta simpanan negara). Biaya yang tidak penting dipotong.

Tentu saja Renho menerima banyak kritikan dari orang luar. Profesor Takehiko Yamamoto dari Universitas Waseda mengatakan: “Ia adalah cheerleader dalam kabinet Naoto Kan”. Mantan Menteri Takeo Hiranuma juga tak kalah pedas: “Saya tak ingin mengatakan ini, tapi ia bukan asli Jepang”.

Ayah Renho berasal dari Taiwan sedangkan ibunya orang Jepang. Nama aslinya adalah Hsieh Lin-Fang. Setelah berumur 18 tahun, ia mendapat kewarganegaraan Jepang lewat proses naturalisasi dan mengambil nama Jepang Saito, nama ibunya. Meskipun kemudian menikah dan mendapat nama keluarga Murata, ia hanya ingin disebut Renho saja. Bahkan nama itulah yang ada dalam daftar resmi pemerintah Jepang.

Kiprahnya dalam dunia politik dapat dibilang baru. Ia baru muncul dalam arena politik Jepang tahun 2004. Pada 1988, ia memenangkan kontes Clarion Girl, peragawati untuk perusahaan audio Clarion. Saat menjadi Clarion Girl, pose-pose seksinya dalam bikini menghiasi majalah dan VCD. Popularitasnya makin naik, sehingga ia menjadi penyiar televisi TBS (Tokyo Broadcasting System) dan TV Asahi Corporation. Pada 1995, ia melanjutkan studi bahasa Cina ke Universitas Beijing. Setelah kembali ke Jepang ia melanjutkan karir lamanya, wartawan.

Karir Renho dalam politik mengukuhkan peran penting wanita di Jepang. Setelah Perang Dunia II pada 1945, karir wanita Jepang hanya oeru saja. Oeru berasal dari kata OL (office lady): wanita pekerja yang mengurus administrasi umum, menghidangkan teh dan berpenampilan cantik. Kini, semakin banyak wanita Jepang yang sukses, seperti astronot Dr Chiaki Mukai, 58 tahun, dan Naoko Yamazaki, 40 tahun.

Namun, wanita yang punya dari keturunan gaikoku-jin (orang asing) seperti Renho tidak banyak. Biasanya wanita keturunan asing bekerja sebagai tarento (bakat di televisi), seperti Becky dan Carolyn ‘Caiya’ Kawasaki.

Jepang lambat laun makin pragmatis: tidak peduli siapa yang memimpin sebuah kementerian, perusahaan atau organisasi asalkan strateginya dapat dilaksanakan dan efektif.

Namun Renho harus bergerak cepat dalam mengurangi pengeluaran Jepang karena strategi penaikan pajak pembelian menjadi 10 persen memicu banyak kritik. Padahal angka 10 persen ini diharapkan dapat mengurangi separuh utang Jepang dalam tiga tahun. Dana Moneter Internasional (IMF) malah menyarankan kenaikan pajak menjadi 15 persen. Renho juga sebaiknya bijak dalam memilih pos mana yang tidak menurunkan produktivitas industri Jepang.

*Kolom E-mail dari Tokyo, Berita Harian Singapura, 19 Juli 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s