Little Boy and Fat Man


Little Boy dan Fat Man

Bulan Agustus adalah kenangan buruk bagi Jepang. Tanggal 6 Agustus 1945 jam 8.15 pagi, pesawat B-29 Amerika Serikat (AS) menjatuhkan bom atom di Hiroshima. Tiga hari kemudian, yaitu 9 Agustus, bom yang lebih dahsyat dijatuhkan di Nagasaki. Kedua bom yang diberi kode ‘Little Boy’ dan ‘Fat Man’ itu dihasilkan Proyek Manhattan, buah kerja sama AS, Kanada dan Inggris.

Seorang anggota proyek, fisikawan Richard Feynman, mengatakan bahwa alasan pembuatan bom itu adalah ketakutan terhadap Jerman. Dalam biografinya Surely You’re Joking Mr Feynman (1985) ia menulis:

Orang Jerman mempunyai Hitler, dan kemungkinan mengembangkan bom atom sangatlah jelas. Kemungkinan bahwa mereka mengembangkannya lebih dulu membuat kami takut.

Alasan itu mungkin alasan lama, karena pada akhirnya semua orang tahu bahwa Direktur Proyek Manhattan, Profesor Oppenheimer, membantu tentara AS menentukan lokasi-lokasi pengeboman di Jepang. Tokyo juga masuk dalam rencana pengeboman, namun keputusannya dibatalkan karena Jepang sudah menyerah. Rencana pengeboman ini adalah wujud kekesalan AS setelah Pearl Harbor luluh lantak diserang Jepang tanggal 7 Desember 1941.

Little Boy yang dijatuhkan di Hiroshima, 6 Agustus 1945

Fat Man yang dijatuhkan di Nagasaki, 9 Agustus 1945

Hibakusha

Bom atom di Hiroshima dan Nagasaki merenggut lebih dari 210 ribu nyawa.  Namun penderitaan mereka yang selamat masih dirasakan hingga hari ini. Pemerintah Jepang menyebut korban bom atom yang masih hidup sebagai ‘hibakusha’. Dalam undang-undang tahun 1957, hibakusha diartikan sebagai:

  • orang yang tinggal dalam radius 4 kilometer dari tempat jatuhnya bom (ground zero)
  • orang yang baru masuk kota dalam tiga hari, dan berada 2 kilometer dari ground zero
  • bayi dalam rahim ketika ibunya menjadi hibakusha

Lebih dari 410 ribu orang terdaftar sebagai hibakusha pada tahun 2009. Mereka mendapat bantuan uang dan kesehatan dari pemerintah. Hibakusha yang populer di Jepang adalah Tsutomu Yamaguchi (1916 – 2010). Yamaguchi beruntung karena selamat dua kali dari bom atom di Hiroshima dan Nagasaki ketika melakukan perjalanan bisnis.

Hancurnya Hiroshima dan Nagasaki adalah tanda berakhirnya Perang Dunia II di Asia – Pasifik. Enam hari setelah Nagasaki rata dengan tanah, Kaisar Hirohito membacakan Dekrit Berakhirnya Perang Pasifik (Dai toua sensou shuketsu no shousho). Dekrit ini disusul oleh penandatanganan dokumen Penyerahan Jepang (Japanese Instrument of Surrender) tanggal 2 September 1945 oleh Menteri Luar Negeri Jepang Mamori Shigemitsu.

Hiroshima Hari Ini

Enam puluh lima tahun berlalu.

Hari ini, 6 Agustus 2010, Hiroshima memperingati jatuhnya bom atom di Peace Memorial Park. Momentum ini dimanfaatkan oleh Sekjen PBB Ban Ki Moon untuk mempromosikan dunia bebas nuklir.

Hari ini, satu api membakar … di sini, di Peace Memorial Park. Itu adalah Nyala Api Perdamaian – nyala yang terus menerangi hingga nuklir tiada lagi. Bersama, mari kita berjuang pada hari itu – sepanjang hidup kita, sepanjang hidup mereka yang selamat

Duta Besar AS untuk Jepang John Roos juga datang dalam peringatan itu. Kedatangannya adalah saran dari Presiden AS Barack Obama yang pada November 2010 ingin menyempatkan pergi ke Hiroshima setelah menghadiri Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC) di Yokohama. Pesan John Roos mirip dengan Ban Ki Moon:

Demi generasi mendatang, kita harus terus bekerja sama untuk mewujudkan dunia tanpa nuklir.

Tujuan dari pidato dua tokoh ini tentu bersifat politik, yaitu memperkokoh posisi AS atas penolakan senjata nuklir. Pesan ini juga ditujukan kepada Korea Utara yang baru saja terkena embargo ekonomi oleh AS. Korea Utara diduga membuat senjata nuklir dan selalu menolak untuk diperiksa oleh Dewan Keamanan PBB. Mereka juga tidak mau menandatangani prinsip bebas nuklir.

Lawatan AS disambut baik oleh pihak Jepang. Namun para hibakusha ingin AS meminta maaf atas kejahatan kemanusiaan yang pernah dilakukannya dulu. Permintaan ini barangkali lebih cepat terjawab apabila buku Were We the Enemy? – American Survivors of Hiroshima (Rinjiro Sodei, 1998) mendapat perhatian Amerika.

Buku ini menyebutkan bahwa ketika bom atom dijatuhkan di Hiroshima terdapat antara 12 hingga 24 tawanan perang Amerika di sana. Belum lagi 3000 warga AS keturunan Jepang yang ada di Hiroshima. Emigran Jepang itu sebagian besar adalah pelajar atau mahasiswa yang tidak bisa pulang ke Amerika karena ketegangan antara AS – Jepang pasca Pearl Harbor. Meskipun secara statistik angka 3000 orang ini sangat kecil dibandingkan ratusan ribu warga Jepang, mereka tetaplah manusia yang layak hidup. Bukan korban sikap impulsif atas kehancuran Pearl Harbor.

*Kolom ‘Email dari Tokyo’, Berita Harian Singapura, 2 Agustus 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s