Sampah


Mengutip dan memodifikasi kalimatnya Woody Allen:

In Indonesia … they don’t throw the garbage away. They make it into gossip show.

Sampah oh sampah. Tanggal 30 September 2009 itu agak dingin di Jepang. Pada hari pertama menginjakkan kaki di Jepang, saya diberi sebuah kalender oleh tetangga. Kalender jadwal pembuangan sampah. Memisahkan dan membuang sampah secara teratur adalah keniscayaan dan prioritas. Ia tidak hanya jadwal, tapi sebuah ritme. Ada aspek disiplin dan seni (warna).

Sampah oh sampah. Pada hari itu saya baru tahu bahwa sampah juga punya jenis kelamin. Kelaminnya tidak antropomorfik (bersifat manusia), tapi kimiawi. Di Jepang, sampah dibagi menjadi tiga. Tetapi sebenarnya ada empat, yaitu:

  • Sampah bisa dibakar
  • Sampah tidak bisa dibakar
  • Sampah yang bisa didaur ulang
  • Sampah besar

Ini kategori besarnya. Ternyata setelah mengikuti jadwal kalender, sampah dibagi menjadi 15 jenis!

Sampah bisa dibakar misalnya sisa makanan, kertas dan sumpit. Kalau ada yang basah, harus dikeringkan dulu. Sampah ini dimasukkan ke kresek warna hijau. Pampers bayi dimasukkan dalam kresek warna merah muda. Katanya, 75% sampah di Jepang adalah sampah yang bisa dibakar. Sampah yang tidak bisa dibakar dimasukkan ke kresek warna oranye. Contohnya: tutup botol, logam dan plastik. Sampah yang bisa didaur ulang misalnya karton bekas, koran, majalah bekas, botol plastik (polyethylene terephthalate atau PET), batrei, kaset, video, CD dan kaleng minuman. Nah ini sampah yang perlu dipisah-pisah lagi: koran diikat sendiri, karton diikat sendiri, botol PET dimasukkan dalam kresek sendiri dan seterusnya. Jadi harus digolongkan. Jangan salah memasukkan. Sampah jenis keempat, yaitu sampah besar, misalnya kulkas, mesin jahit, TV, alat musik dan alat elektronik. Kalau yang ini jangan dimasukkan kresek. Gak cukup. Ditaruh aja ditepi jalan. Tapi bisa juga manggil orang tapi harus mbayar. Mahal juga sih.

Setelah dihitung-hitung memang sampah di lingkungan saya dipisahkan menjadi 15 jenis. Capek juga ya …Tapi ya itu: istilah 3R alias Reduce-Reuse-Recycle itu bukan jargon belaka. Ini merupakan keseharian. Senin – Jumat mesti perhatikan kalender. Jangan sampai ketinggalan truk sampah. Mereka mampir ke bak sampah di bawah blok hanya 2-5 detik. Biasanya jam 9 pagi. O ya, itu kresek warna hijau, oranye dan merah muda tidak gratis. Sepuluh biji ukuran tanggung harganya 100 yen (10 ribu). Kalau mau gratis harus ikut kerja bakti bulanan, atau ke kantor walikota minta kresek yang pinky.

Sejarah Sampah

Tidak hanya Mesir yang punya sejarah. Sampah juga punya.

Sama seperti di negara lain, sampah adalah masalah klasik. Sejak jaman Restorasi Meiji pada 1867, jumlah penduduk Jepang semakin banyak. Jepang pun masuk ke jaman industrialisasi di mana produktivitas semakin meningkat. Tidak dapat dihindari, jumlah sampah pun makin banyak. Ini sejalan dengan “teori” Mason Cooley bahwa

Manusia mempertahankan dirinya dengan mengubah alam menjadi sampah

Benar sekali. Sehingga pada 1900, pemerintah Jepang meminta masyarakat untuk memisahkan sampah secara sederhana. Tujuan utamanya adalah menghindari penyakit dan menurunkan volume sampah. Pemisahan ini kurang mendapat perhatian serius karena Jepang sudah masuk Perang Dunia I dan II.

Pada tahun 1960an, kondisi kota-kota di Jepang masih terbilang kotor. Pemerintah segera menerapkan prinsip 3R diatas tadi, dan bertanggungjawab terhadap kebersihan kota. Ini pun tidak cukup membantu dalam mengurangi sampah: diperlukan kerjasama dengan masyarakat. Secara perlahan, masyarakat Jepang bergotong royong membersihkan lingkungan dan memisahkan sampah.

Pembagian sampah makin lama makin rumit karena jenis barang yang muncul di pasaran juga semakin banyak. Di Yokohama misalnya, pembagian sampah sampai belasan jenis berawal pada bulan April 2005. Wilayah lain juga mengesahkan aturan yang sama. Namun, ini tergantung pada ketersediaan mesin pembakar (incineration plant) dan truk sampah untuk memungut dari perumahan.

Kenapa Harus Memisahkan Sampah?

Alasan pertama tentu masalah kesehatan. Sampah identik dengan sumber penyakit, misal penyakit kulit, pernafasan, pencernaan dan penyakit dalam lainnya.

Kedua, sampah ini juga menghemat sumber daya alam. Sewaktu mengunjungi Nippon Steel di Chiba, saya lihat sampah-sampah plastik (yang kita buang) berjalan di atas alas berjalan (conveyor), kemudian ada petugas yang menyeleksi lagi, memastikan hanya plastik yang masuk ke tungku. Plastik yang sudah masuk tungku kemudian dipanaskan (mungkin sampai 1100 derajat C). Karbon yang dihasilkan dimanfaatkan sebagai elemen membuat baja. Baja ini kemudian keluar dalam bentuk slab (lempeng tebal). Ketika selesai ditipiskan, lempeng baja ini dipuntir dan dijadikan pipa raksasa. Pipa ini kemudian dijual dan dipakai untuk menyalurkan air, minyak, gas dan lainnya.

Teknologi biomassa juga memanfaatkan sampah dapur (basah) dan septik tank. Sampah dapur yang mengandung 70~80% air ini diuapkan lalu bahan padatnya bisa dipakai untuk penyubur tanah. Sampah septik tank biasanya diolah dengan teknologi fermentasi. Gas yang dihasilkan bisa digunakan untuk membangkitkan daya listrik.

*Versi lebih seriusnya dimuat di ‘Email dari Tokyo’, Berita Harian Singapura, 9 Agustus 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s