Danjiki


Di Jepang, hampir semua orang heran kenapa seseorang harus berpuasa. Seseorang tidak lagi makan, minum dan merokok dari sebelum fajar hingga petang selama 30 hari.

Ketika ditanya kenapa tidak makan siang, saya selalu menjawab: ‘danjiki o shite imasu’ yang berarti ‘saya sedang berpuasa’. Namun ini rasanya kurang pas karena danjiki dikenal orang Jepang sebagai  ritual Buddha, bukan Islam. Kata Inggrisnya kemudian harus disusulkan, yaitu fasting. Kemudian sedikit menjelaskan bahwa bulan ini adalah bulan Ramadan.

Bagi orang Jepang yang rajin membaca koran, nonton TV atau sedikit mengenal Islam istilah ‘ramadan’ rasanya akrab. Tapi mereka kemudian bertanya apakah puasa ini tidak berat, dan mengapa melakukan itu? Alasan eskatologis agaknya susah ditangkap karena konsep agama yang paling akrab adalah Shinto, Buddha (atau mungkin Kristianitas).

Saya selalu menjawab: puasa memang berat karena kita tidak diperbolehkan melakukan nafsu-nafsu dasar seperti makan dan minum (untuk tumbuh dan berkembang), seks (untuk reproduksi), juga nafsu-nafsu entropis khas manusia yaitu berbuat buruk , bergosip dan lainnya. Ini aturan teoretisnya. ‘Niat berpuasa’ memegang peranan penting: kalau tidak niat memang jadi haus dan lapar karena aspek kesadaran atas konsekuensi jadi nihil. Puasa juga merupakan bentuk kepatuhan terhadap aturan agama. Dalam bulan puasa, aktivitas rohani biasanya lebih intens dari bulan-bulan biasa karena ada reward lebih dari Tuhan (misal: ibadah di bulan Ramadan = ibadah di 1000 bulan yang lain). Ada juga aktivitas sosial seperti pemberian zakat yang jumlah minimumnya telah ditentukan. Tujuan akhirnya adalah kemurnian rohani dan jasmani.

Nilai ‘kemurnian jasmani dan rohani’ inilah yang sebenarnya beririsan makna dengan kata ‘danjiki’ di Jepang, atau dalam tradisi agama Buddha. Namun, istilah danjiki mengalami pergesaran makna belakangan ini: danjiki menggantikan kata diet. Artinya, orang Jepang menyebut danjiki sebagai jalan menuju langsing. Padahal dulunya danjiki hanya dilakukan biksu untuk menjalani asketisme.

Kaori Shoji pernah mengulas danjiki dalam The Japan Journal edisi Desember 2004. Dia menulis bahwa beberapa tahun silam danjiki dojo atau perguruan puasa cukup populer di Jepun. Dojo ini melatih tiga aspek, iaitu

  • Peningkatan naluri dan kreativitas
  • Penyempurnaan sistem tubuh
  • Peningkatan produktivitas

Danjiki ini berat karena ia bukan bagian dari hidup dan keyakinan. Oleh karena itu, fasilitas dalam danjiki dojo ada yang dibuat mewah, mirip vila di pegunungan. Di sana ada kamar untuk relaksasi, pijat, aroma terapi dan pemutaran film. Tamu dojo diberi satu gelas jus sayur organik dalam satu hari. Untuk tiga hari terakhir, tamu diijinkan makan bubur beras merah.

Tak heran jika biaya masuk danjiki dojo ini dapat mencapai 350,000 yen (Rp 35 juta) untuk sepuluh hari. Karena mahal, mereka yang punya duit saja yang mampu membayar, misalnya pemusik terkenal Jepang, Ryuichi Sakamoto, dan penulis novel, Mariko Hayashi.

Ada pula danjiki dojo yang lebih sederhana, misalnya Shinshin Yojoen di wilayah Shizuoka. Shinshin Yojoen mirip dengan ryokan (hotel tradisional Jepang) yang kamarnya beralaskan tatami. Shinshin melihat danjiki sebagai terapi oriental. Di sana tamu harus membayar 48,000 yen (Rp 4.8 juta) untuk pelatihan danjiki dua malam.

Di dojo lain, seperti Seiyouin Danjiki Ryouyojyo, biayanya lebih murah. Tamu ‘hanya’ membayar 52,500 yen (Rp 5.25 juta) untuk tujuh hari. Danjiki dojo ini dikabarkan dapat menyembuhkan seorang wanita dari penyakit bulimia nervosa (memuntahkan kembali makanannya supaya kurus). Setelah mengikuti danjiki selama satu bulan, dia pun memperoleh pencerahan jiwa.

Danjiki ini memang mahal. Namun, aktivitas ini dilihat orang Jepang sebagai aktivitas penuh manfaat. Ada seorang kawan yang mengatakan bahwa puasa seperti ini cukup baik untuk tubuh. Orang belajar memilih makanannya dan mengatur jadwalnya (ada disiplin dalam ritual puasa).

Perspektif ini tentu menyadarkan kita bahwa ketika bulan puasa telah usai, aspek asketisme tidak boleh lepas lagi. Pesannya yang pragmatis (meski agak cliche): pengendalian diri dan disiplin.

*Kolom ‘Email dari Tokyo’, Berita Harian Singapore, 6 Sep 2010

One thought on “Danjiki

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s