Senkaku


Barangkali ini sebuah kebetulan: Okinawa selalu membuat Jepang bertikai dengan negara lain.

Belum usai masalah transfer basis militer Amerika Serikat (AS) ke Nago, yang tertunda dua tahun ini, muncul lagi masalah baru di Okinawa: sebuah kapal nelayan asal China masuk ke pulau Senkaku, Okinawa, pada 7 September 2010. Kapal China ini diminta polisi Jepang untuk keluar dari wilayah Jepang tersebut. Tumbukan antara kapal China dengan dua kapal polisi Jepang tidak dapat dihindari. Ini menyebabkan polisi Jepang menahan semua awak kapal, termasuk kapten Zhan Qixiong (41 tahun).

Polisi laut Jepang memulangkan tiga belas nelayan China kecuali kapten kapalnya. Zhan ditahan di kantor kejaksaan wilayah Naha, cabang Ishagaki, Okinawa. Ketika berita penahanan ini disiarkan di koran China pada 9 September 2010, warga China marah. Jepang menanggapinya dengan dingin karena kapal China ini memang melanggar hukum perairan Jepang.

Setelah hampir dua minggu, tepatnya tanggal 25 September 2010, barulah Jepang melepaskan kapten kapal dan mengembalikannya ke Fujian, China. Pemerintah China melihat penahanan kapten kapal ini tidak benar secara hukum. Oleh karena itu China menuntut Jepang meminta maaf dan memberikan ganti rugi bagi China.

Menteri Luar Negeri Jepang yang baru, Seiji Maehara, menyebutkan bahwa kasus di kepulauan Senkaku ini tidak perlu terjadi karena ia merupakan bagian dari kedaulatan Jepang. Alasan ini juga lah yang menyebabkan Perdana Menteri Naoto Kan menolak meminta maaf dan memberi ganti rugi ke China. Klaim China atas kepulauan Senkaku semakin memanaskan hubungan China – Jepang dalam dua minggu terakhir.

Ada apa di balik percepatan polemik ini?

Jepang melihat bahwa kepulauan Senkaku yang terdiri dari pulau Uotsuri, Kuba, Kojima Selatan dan pulau kecil lainnya, adalah bagian dari Jepang sejak 1895. Kepulauan ini diberi nama Nansei Shoto. Beberapa penduduk Jepang juga pernah berdiam pulau itu sampai 1940 untuk memproses hasil laut. Setelah Jepang kalah perang pada 1945, Amerika Serikat (AS) mengambil kepulauan ini.

AS mengembalikan Senkaku ke Jepang pada 1972 menyusul ditandatanganinya perjanjian AS – Jepang pada 17 Juni 1971. Pada tahun yang sama China juga mengakui secara sepihak bahwa kepulauan Senkaku yang tidak berpenghuni itu adalah bagian dari wilayahnya. Pada 1992 China mengkonfirmasi secara hukum dengan memasukkan Diaoyu (Senkaku dalam bahasa China) ke dalam wilayahnya. Dengan alasan ini, hukum Jepang atas kepulauan Senkaku dianggap tidak berlaku oleh China.

Mengapa Cina tiba-tiba memasukkan kepulauan Senkaku ke dalam wilayahnya pada 1971?

Motif ekonomilah yang mendorong tindakan ini. Pada 1968 Komisi Ekonomi Persyarikatan Negara-Negara untuk wilayah Asia dan Timur Jauh menyebutkan potensi cadangan minyak dan gas di perairan Senkaku. Potensi minyak dan gas di Laut China Timur ini dapat mempercepat China menyusul Jepang sebagai raksasa ekonomi terbesar ke-2 setelah AS.

Terlepas dari motif ekonomi China, pemerintah Jepang di bawah Naoto Kan dianggap kurang lihai dalam berdiplomasi dan mengatur strategi politiknya. Kampanye Partai Demokrasi Jepang (DPJ) menyerap semua energinya, sehingga penahanan kapten kapal China dianggap berlarut-larut.

Profesor Ryosei Kokubun dari Pusat Studi China Modern, Universitas Keio, menyatakan bahwa insiden ini bisa dihindari seandainya Kapten Zhan tidak ditahan hampir dua minggu oleh polisi Jepang. Ini untuk menghindarkan gejolak sentimen anti-Jepang yang dioperasikan oleh media massa dan internet.

Koran People’s Daily di China sempat meredam isu ini dengan tidak menyiarkan penahanan kapal China pada 8 September lalu. Namun koran ini akhirnya menyiarkannya juga sehari kemudian. Tentu saja ini mendorong terjadinya unjuk rasa.

Unjuk rasa masyarakat China ini diwarnai dengan sentimen anti-Jepang pasca Perang Sino-Jepang sejak abad 19. Pendudukan Jepang di Cina dalam Perang Dunia I dan II juga membuat penduduk China sangat sensitif dengan masalah kedaulatan yang melibatkan Jepang sebagai ‘musuhnya’.

Bagi China sendiri masalah kepulauan Senkaku merupakan salah satu penyebab turunnya Ppresiden Hu Jintao yang dianggap terlalu ‘lunak’ ke Jepang. Sebaliknya, Jepang kini nampak semakin ‘keras’ terhadap China. Setelah Naoto Kan menolak permintaan China (untuk minta maaf dan memberi ganti rugi), Ketua Sekretaris Kabinet Yoshito Sengoku meminta China membayar ganti rugi atas kerusakan kapal polisi Jepang. Pernyataan Jepang ini agaknya membuat China semakin marah dan bisa jadi semakin mempengaruhi ekspor Jepang ke Cina. Saat ini saja pemeriksaan imigrasi barang-barang Jepang yang masuk ke China diperketat dengan memeriksa lebih dari 50% isi kargo. Biasanya, pemeriksaan dilakukan hanya ke 20% isi kargo.

Pemeriksaan yang lebih rinci ini membuat arus barang masuk ke China jadi lamban dan menyebabkan perusahaan Jepang mengalami kerugian.

Masalah ini cukup rumit karena kedua negara sama-sama meminta ganti rugi. Namun kedua negara sebenarnya bisa mendapatkan ‘ganti rugi’ itu dengan memusatkan perhatiannya ke pembangunan pabrik gas di Laut China Timur. Dari pabrik gas ini kedua negara sama-sama mendapatkan ‘kompensasi’ ekonomi dari kepulauan Senkaku.

*Pojok ‘Email dari Tokyo’, Berita Harian Singapura

2 thoughts on “Senkaku

  1. Sengketa perbatasan… mengingatkan saya pada sebuah negeri nun jauh di sana…😀
    Terima kasih atas pencerahan untuk kasus yang ini, Mas Arief.

    arief
    biasanya karena ada minyak/gas di sana ya😀
    kalo yg jepang vs china ini efeknya blm sls2 …

  2. Pingback: Senkaku (2) « random notes

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s