Rokok


Delapan puluh persen pria Jepang merokok tahun 1966. Mereka merokok di mana-mana: di rumah, ruangan kantor, jalanan, stasiun, rumah makan, taman, supermarket dan lainnya. Konon, kaca-kaca jendela di ruangan kantor banyak yang menguning karena asap rokok. Mereka yang tidak merokok, seringkali disebut perokok pasif atau secondhand smoker, punya nasib yang menyedihkan: harus ‘menikmati’ polusi udara, dan tidak pernah dibela seperti halnya di Amerika Serikat pada awal 1970an.

Mesin penjual rokok dan SPG-nya

Pada 1981 Dr Takeshi Hirayama menerbitkan makalah ilmiah di British Medical Journal. Dalam makalahnya beliau menyatakan bahwa istri-istri Jepang yang suaminya merokok punya resiko terkena kanker paru-paru lebih tinggi daripada istri-istri yang suaminya bukan perokok.

Makalah yang disebut-sebut sebagai makalah pertama di dunia yang mempelajari hubungan antara kanker paru-paru dan asap rokok ini mengubah pandangan dunia terhadap perokok pasif. Efeknya pun terasa di sini meski Jepang membutuhkan tiga dekade untuk menurunkan jumlah pria perokok ke tingkat 38.9% pada 2009. Lama memang. Tapi itulah waktu yang diperlukan Jepang untuk menyadari bahwa rokok tidak menembak mati melainkan menggerogoti.

Pemerintah Jepang juga punya perasaan dilematis ketika membicarakan rokok. Sebagai negara dengan jumlah perokok terbesar keempat di dunia, pajak dari penjualan rokok dapat memutar roda perekonomian yang nampak melambat sejak 1995. Namun kematian demi kematian yang disebabkan kanker paru-paru semakin mengkhawatirkan. Di Jepang, 68,000 orang mati karena kanker yang sebagian disebabkan oleh rokok. Oleh karena itu, wajarlah jika Jepang kian membatasi ruang gerak perokok.

Satu solusinya adalah menaikkan harga rokok. Tapi pertanyaannya: Berapa yen kenaikannya? Inilah sumber konflik empat tahun antara kementerian kesehatan (yang kontra rokok) dan kementerian keuangan (yang pro rokok).

Tepat pada 1 Oktober 2010, harga rokok di Jepang dinaikkan 110 yen sampai 140 yen satu pak. Harga satu pak Marlboro yang dulu 300 yen kini naik menjadi 440 yen. Harga Mild Seven yang dulunya 300 yen kini menjadi 410 yen.

Kenaikan ini tidak besar namun ia membuat penjualan toko rokok di stasiun terpadat di dunia Shinjuku, Tokyo, turun lebih dari 60%. Toko ini hanya dapat menjual 10 pak rokok pada jam 8.30 pagi. Biasanya ia bisa menjual 30 pak. Japan Tobacco yang memegang 65% sirkulasi rokok Jepang menyatakan bahwa kenaikan harga ini akan menurunkan pendapatan tahunan sebesar 25%. Apalagi, kenaikan harga rokok ini adalah kenaikan ketiga dalam sepuluh tahun terakhir. Sebelumnya Jepang pernah menaikkan harga rokok pada 2003 dan 2006.

Departemen kesehatan nampaknya puas meskipun tingkat kenaikan harga rokok tidak terlalu besar. Dengan kenaikan ini Jepang barangkali dapat menghemat biaya kesehatan untuk penderita kanker paru-paru yang mencapai 1.3 triliun yen. Dengan kenaikan harga rokok ini Jepang dapat menghindari kerugian ekonomi karena kematian yang disebabkan rokok sebesar 7 triliun yen. Kenaikan harga rokok yang tidak terlalu besar ini dibuat agar daya beli masyarakat terhadap rokok masih kuat. Hasilnya bisa lain jika Jepang mengikuti harga rokok di negara-negara lain seperti Singapura, Inggris dan Kanada.

Di Singapura, harga rokok bisa mencapai 700 yen; di Kanada ia dapat mencapai 757 yen; malah di Inggris ia bisa mencapai 1008 yen. Harga rokok 1000 yen seperti di Inggris ini pernah diusulkan oleh suatu kelompok yang dibangun Bapak hidenao Nakagawa dari Partai Liberal Demokrasi (LDP) dan Bapak Seiji Maehara dari Partai Demokrasi Jepang (DPJ). Di Jepang harga rokok 1000 yen ini disebut-sebut sebagai ‘angka psikologis’ di mana seseorang bisa jadi berhenti merokok karena harga yang sudah tidak masuk akal.

Mungkin karena itulah harga 1.000 yen ini efektif.

Dua kelompok penelitian yang dipimpin Profesor Takashi Ohida dari Universitas Nihon pernah meneliti 90,039 siswa Jepang pada Oktober 2008. Kelompok penelitian ini menyatakan bahwa 50% dari siswa yaitu 44,556 orang, tidak akan rokok jika harga satu pak rokok lebih dari 1.000 yen.

Penelitian lain yang dilakukan oleh Kota Katanoda dari Pusat Kanker Nasional Jepang menyatakan bahwa harga satu pak rokok 1.000 yen dapat menyelamatkan 195,000 jiwa dari kematian selama kurun waktu 20 tahun. Tetapi kenaikan sampai 1.000 yen ini masih belum memungkinkan sekarang ini. Apa pasal?

Profesor Ryuzo Ono bidang Onkologi, Universitas Aichi Shukutoku, menyatakan saham-saham industri tembakau Jepang sebagian dimiliki oleh anggota parlemen Jepang. Ini mempersulit usaha Jepang dalam membangun sistem hukum untuk masalah harga rokok. Apalagi harga tersebut tinggi akan mengecilkan pasar rokok Jepang, yang pada gilirannya melemahkan perekonomian. Meskipun Japan Tobacco punya strategi untuk memperluas penjualan rokok ke luar negeri seperti Rusia dan Turki tetap saja pasar domestik memegang peranan penting dalam ekonominya.

Dalam menurunkan jumlah perokok, Jepang hanya mencari cara yang sederhana seperti menaikkan harga rokok dan memperbanyak tempat-tempat bebas rokok. Cara lain seperti membatasi rokok dalam iklan-iklan, mengurangi jumlah vending machine penjual rokok dan menyediakan peralatan medis untuk membantu perokok berhenti merokok belum secara luas dibangun.

Kini Jepang tetap menghadapi pertanyaan ini: demi kesehatan atau demi penghasilan?

*Pojok ‘Email dari Tokyo’, Berita Harian Singapura

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s