Kumbukumbu


Konon: Afrika tempatnya konflik, kelaparan dan kemiskinan; Afrika tak menarik karena berita dan citra tentangnya dekat dengan kata nestapa. Oleh sebab itu, Afrika bukan tujuan wisata. Kalaupun seseorang pergi ke sana (sepulang dari Amerika Utara, Eropa atau Australia) itu diinspirasi oleh Animal Planet, National Geographic, Sahara yang eksotis, piramid di Giza, Afrika Selatan yang maju, atau film God Must Be Crazy dan kartun Madagascar: Escape 2 Africa!

Namun kata ‘konon’ itu seakan hilang.

Hari Selasa (26 Oktober 2010) itu barangkali ‘bersejarah’. Untuk pertama kalinya saya menonton sebuah film non-Holywood yang menampilkan Afrika, tepatnya Tanzania. Untuk ini saya perlu berterima kasih kepada kawan lama, Sherman Ong, yang mengajak saya menonton film arahannya Kumbukumbu Za Mti Uunguao (Memories of A Burning Tree) diputar di Tokyo International Film Festival 2010. Film ini setidaknya membuka mata tentang Tanzania. Pertanyaan sederhana biasanya muncul: di manakah Tanzania?

Sherman Ong lahir di Malaysia. Dia pernah membuat film berjudul Exodus – Wanita yang Berlari di Jakarta (Oktober 2003). Tidak heran jika bahasa Indonesianya cukup fasih. Kota terbesar di Tanzania, yaitu Dar el Salaam, dirasakan seperti ‘rumah’ baginya karena ia mirip dengan Jakarta. Di Singapura, Sherman Ong pernah memproduksi film Flooding in the Time of Drought (Banjir – Kemarau) dan Hashi (2008). Ia sebenarnya seorang fotografer yang bulan Juni lalu memperoleh penghargaan fotografi bergengsi ICON de Martell Cordon Bleu. Karya-karya fotografinya merupakan rekaman kehidupan di Singapura.

Memaknai Film [?]

Film, sebagai karya seni yang memerlukan kerja bahasa, mekanik, elektrik bahkan komputasi, selalu relatif. Ketika film ditampilkan di layar kanvas atau gelas, ia dikonsumsi mata, telinga dan otak. Kedua indera plus sistem biologi yang kompleks ini paling lemah dalam pengukuran (measurement). Dan yang terakhir, yaitu otak, dibentuk oleh persepsi, pengalaman, memori, keyakinan dan school of thought. Oleh sebab itu, orang memaknai film dengan macam-macam kalimat (yang boleh jadi pinjam sana-sini).

Memaknai film itu harus ditumbuhkan sejak dini. Artinya, ia perlu lewat fase zygot. Ketika kecil saya sering diajak nonton film di (anumerta) bioskop Guntur Bondowoso setiap jam 9 malam di hari Sabtu. Saya selalu terkesima dengan tiga hal.

Pertama, aksi yang seolah-olah nyata itu ternyata hanya film (!). Kedua, bagaimana teks diadaptasi menjadi laga dan lagu yang membuat terkenang-kenang (bahkan termimpi-mimpi!). Ketiga, mengapa pada jaman itu (1980an) saya selalu excited ketika mendengar “Ayo, nonton film.” meski saya tahu bahwa di bioskop itu saya harus duduk di kursi anyaman rotan yang reyot, dan dikelilingi asap Gudang Garam, Bentoel, Djarum dan Oepet. Namun, satu hal yang penting: film harus tetap diingat.

Kumbukumbu Za Mti Uunguao

Judul film Sherman Ong yang diputar di Roppongi itu Kumbukumbu Za Mti Uunguao. Lidah sempat terplintir melafalkan judulnya. Setelah berkali-kali melafalkan, akhirnya ingat. Judul harus diingat. Artinya? Secara literal: kenangan dari pohon yang terbakar (memories of a burning tree).

Karena judul ini penting, maka saya bertanya kepada Sherman: mengapa judulnya Memories of A Burning Tree?

Sherman mengatakan bahwa Afrika dilihatnya dari kacamata orang luar  di mana orang-orangnya seperti pohon yang terbakar. Mereka hidup, mereka terbakar, mereka ingin lari tapi tidak mampu. Mereka tertanam. Mereka berdiam diri menikmati kerasnya hidup, sambil terus berharap.

Film ini dibiayai oleh Rotterdam International Film Festival 2009 untuk program Forget Africa. Setting-nya yang di Tanzania tentu juga mengundang pertanyaan: mengapa Tanzania? Menurutnya, setelah melakukan survey beberapa negara Afrika, Tanzania adalah negara yang politiknya relatif stabil. Ini penting karena waktu shooting yang pendek (1 bulan) tidak ingin diinterupsi oleh tembak-tembakan dan demonstrasi. Tapi malah lebih menarik mungkin …

Film Kumbukumbu Za Mti Uunguao yang dialognya dalam bahasa Swahili ini berkisah tentang pencarian tujuan hidup beberapa orang. Dalam pencarian ini, seseorang terkadang bertemu dengan orang asing, yang kemudian menentukan jalan hidupnya.

Seorang lelaki pengangguran yang rapih bernama Smith datang ke Dar es Salaam. Ia berharap dapat menemukan makam di sana. Di pinggiran kota Dar Es Salaam itu, ia bertemu dengan Link, seorang sahabat lama yang menggantungkan hidupnya sebagai pemandu wisata dan pelukis.

Di tengah makan siang, mereka bertemu dengan lelaki lain bernama Toatoa. Pekerjaannya unik: pencari besi bekas. Namun, Toatoa bukan pencari besi bekas biasa. Ia mengambil (baca: mencuri) besi tulangan salib-salib kuburan. Toatoa akan sengaja duduk di makam hingga senja. Ketika kuburan sepi, ia mulai ‘bekerja’ dengan menghancurkan beton-beton salib, untuk mengambil tulang besi di dalamnya. Toatoa punya harapan untuk menjadi aktor opera sabun di Tanzania. Karena itu ia rajin berlatih drama.

Toatoa punya seorang pacar yang seringkali diabaikannya. Pacarnya punya harapan pergi ke kota dan mendapatkan pekerjaan yang baik di sana.

Toatoa juga punya seorang adik perempuan yang selalu membisu, dan duduk di beranda rumah. Adiknya ini selalu menuliskan sesuatu di dalam buku. Di situ ia menuliskan puisi-puisi yang indah. Di sebuah kedai, Toatoa akrab dengan seorang penggali kuburan bernama Abdul. Abdul sendiri punya impian menikahi gadis pemilik kedai, dan berjanji membuatkannya rumah di tepi pantai. Abdul dengan gigih melamar gadis ini (mungkin hampir setiap hari). Namun jawabannya selalu sama: tidak. Mewujudkan mimpi sepertinya harus dikerjakan setiap hari meski hasilnya selalu nihil.

Film Kumbukumbu ‘menjahit’ beberapa serpihan cerita dan berusaha menghubungkan perjalanan dan harapan orang-orang yang sebenarnya tidak saling mengenal. Secara implisit film ini mengatakan bahwa harapan itu juga proses yang komunal. Harapan itu nampaknya milik kita seorang. Padahal  harapan kita kadang punya jukstaposisi dengan harapan orang lain. Jika nasib baik sedang berpihak harapan kita bisa terwujud karena orang lain.

Keunikan film ini juga terletak pada penggalian antropologi masyarakat Tanzania. Tanzania memiliki sejarah yang tua. Ia pernah dijajah bangsa Arab, Jerman dan Inggris. Meski demikian masyarakat Tanzania secara budaya dibentuk oleh campuran antara Afrika, Arab dan India. Orang-orang India di Tanzania dikenal pandai berdagang. Hanya belakangan ini saja peran orang India dalam bisnis mulai disaingi orang-orang dari Republik Rakyat Cina. Keunikan lainnya: film bergambar indah ini dibuat ‘hanya’ dengan kamera DSLR Canon!

Seorang pembuat film lain, Toshi Fujiwara, mengatakan kepada saya hari itu:

Hari ini setiap orang dapat membuat film. Yang sulit barangkali membuat cerita ya …

One thought on “Kumbukumbu

  1. Temanku kebetulan asli Dar Es Salaam. Dia berkata, ada satu trik yang dilakukan presiden Tanzania jaman dulu agar Tanzania menjadi stabil: anak-anak dari selatan harus pindah dan bersekolah di bagian utara dan sebaliknya. Jadi bagian utara dan selatan tidak merasa menjadi musuh ketika mendewasa.

    Ide si presiden boljug.

    ari3f:
    very interesting and good idea indeed!🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s