Kuril


Dembei di Moskow

Seorang nelayan Jepang bernama Dembei barangkali tak tahu bahwa hubungan Jepang dan Rusia bermula darinya. Tahun 1702 Dembei dan nelayan lainnya mencari ikan di Samudera Pasifik bagian Utara. Badai yang buruk membuat kapal mereka terdampar di semenanjung Kamchatka, Rusia Timur.

Di Kamchatka, Dembei bertemu dengan seorang penjelajah bernama Vladimir Atlasov. Atlasov kemudian membawa Dembei ke Moskow untuk menghadap Peter yang Agung, Kaisar Rusia yang berkuasa antara tahun 1672 dan 1696. Dembei mengajarkan bahasa Jepang di kerajaan Rusia. Di samping itu Dembei juga menceritakan kehidupan sosial dan politik Jepang kepada Peter the Great. Ketertarikan Peter terhadap Jepang membuatnya ingin membangun hubungan bilateral Jepang – Rusia.

Penjelajahan Rusia ke Jepang

Penjelajahan Rusia pertama ke Jepang terjadi pada tahun 1721. Penjelajahan ini gagal karena Jepang masih menutup diri dari bangsa asing menyusul kebijakan Sakoku pada periode Edo (1641 – 1858).

Penjelajahan Rusia kedua diperintahkan oleh Catherine yang Agung pada 1792. Kapal bernama Ekaterina dikirim ke Jepang dan berhasil mencapai kepulauan Kuril. Namun di kepulauan Kuril, orang Jepang menyuruh kapal Rusia masuk Jepang lewat Nagasaki. Pelabuhan Nagasaki merupakan pintu masuk satu-satunya bagi bangsa asing. Karena terlampau jauh, Kapal Ekaterina pun kembali ke Rusia.

Rusia tidak menyerah. Penjelajahan ketiga terjadi pada Oktober 1804. Kapal perang Nadezhda berhasil masuk pelabuhan Nagasaki. Namun, beberapa bulan kemudian, surat dari Tokyo memerintahkan duta besar Vasilii Rezanov untuk pulang kembali ke Rusia.

Dari tiga penjelajahan yang gagal itu, praktis hubungan Rusia – Jepang tidak pernah terbina dengan baik.

Penjelajahan Modern

‘Penjelajahan’ singkat yang modern dilakukan Presiden Rusia Dmitry Medvedev pada 1 November 2010 lalu. Ia mengunjungi pulau Kunashiri, satu pulau dari kepulauan Kuril. Kunjungan ini tentu membuat pemerintah Jepang berang karena kepulauan Kuril masih merupakan wilayah perselisihan antara Rusia dan Jepang. Belum selesai konflik Cina – Jepang atas pulau Senkaku di selatan Okinawa, kini Jepang pun bermasalah dengan Rusia atas kepulauan Kuril di utara.

Medvedev sewaktu mengunjungi Pulau Kunashiri di kepulauan Kuril (3 Nov 2010)

Kunjungan Medvedev di pulau Kunashiri ini membuat Tokyo memanggil pulang duta besar Jepang untuk Rusia, Masaharu Kono, pada 3 November 2010. Kono menyatakan bahwa kunjungan Medvedev ke pulau Kunashiri bersifat politik, artinya ini merupakan ‘peluru’ Medvedev untuk mencalonkan kembali sebagai presiden Rusia pada 2012.

Mengapa ke Pulau Kunashiri?

Pulau Kunashiri hanya seluas 1,490 km persegi, sekitar dua kali luas Singapura. Data tahun 2002 menyebutkan bahwa hanya ada 7,800 orang yang tinggal di sana. Sebagian besar hidup sebagai nelayan. Pulau ini memiliki pembangkit listrik geotermal dan pabrik pengolahan makanan laut. Meskipun begitu, orang-orang Kunashiri masih miskin. Kunjungan Medvedev merupakan bentuk kepedulian terhadap orang-orang miskin di wilayah sengketa. Presiden Medvedev tidak hanya mengunjungi Kunashiri. Ia juga berencana mengunjungi pulau Shikotan dan kepulauan Habomai di kepulauan Kuril itu.


Menteri Luar Negeri Jepang Seiji Maehara mengirim surat protes ke duta besar Rusia untuk Jepang, Mikhail Bely. Maehara menyatakan bahwa kunjungan Presiden Medvedev bertentangan dengan posisi Jepang dan menyakiti hati penduduk Jepang. Bely pun membalas dengan menyatakan bahwa kunjungan Presiden Medvedev adalah urusan dalam negeri Rusia. Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov bahkan menambahkan bahwa ia tidak akan melayani protes yang diajukan Maehara karena Rusia menganggap bahwa Kunashiri adalah bagian dari Rusia, bukan milik Jepang.

Sejarahnya, kepulauan Kuril diambil alih oleh Uni Soviet (nama lama Rusia) antara 28 Agustus hingga 5 September 1945, setelah Jepang menyerah tanpa syarat kepada Sekutu pada 15 Agustus. Pada 1951 Perjanjian Keamanan San Francisco menyatakan bahwa Jepang harus menyerahkan semua klaimnya atas kepulauan Kuril ke sekutu. Perjanjian ini juga tidak mengakui kedaulatan Uni Soviet. Jadi tuntutan Uni Soviet atas kepulauan Kuril juga tidak terjadi. Uni Soviet akhirnya menggunakan hasil perjanjian Konferensi Yalta sebagai dasar hukumnya. Konferensi Yalta menyatakan bahwa kepulauan Kuril merupakan bagian dari Rusia. Saat ini Tokyo menolak hasil konferensi Yalta ini. Meskipun Amerika Serikat pernah menyatakan bahwa ia akan mendukung Jepang jika Jepang diserang pihak luar, perselisihan Rusia – Jepang dinilai sebagai bukti lemahnya politik luar negeri Jepang.

Sejak pemerintahan Jepang dipegang oleh Partai Demokratik Jepang (DPJ) pada September 2009, memang belum ada perdana menteri Jepang yang mengunjungi Rusia. Ini malah Presiden Rusia yang mengunjungi bagian utara Jepang.

Perdana Menteri Naoto Kan akhirnya bertemu dengan Presiden Medvedev di sela-sela sidang Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC). Dalam pertemuan pada 15 November itu  Jepang dan Rusia ini lebih memfokuskan pada kerjasama ekonomi kedua negara. Namun, Rusia tetap menyatakan bahawa kepulauan Kuril yang terdiri dari Etorofu, Kunashiri, Shikotan dan Habomai adalah bagian kedaulatan Rusia.

Dmitry Medvedev (Presiden Rusia) dan Naoto Kan (PM Jepang)

Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s