Globalisasi


Sepuluh kota dunia yang masuk The Global Cities Index 2010 versi majalah Foreign Policy adalah New York, London, Tokyo, Paris, Hongkong, Chicago, Los Angeles, Singapura, Sidney dan Seoul. Global Cities Index dinilai dari aktivitas bisnis, sumber daya manusia, arus pertukaran informasi, pengalaman budaya dan banyaknya organisasi politik dan ekonomi dunia yang ada di kota tersebut.

Mengapa Jepang bukan nomor satu?

Demikian bunyi pertanyaan Dr Fumio Harashima, rektor Universitas Metropolitan Tokyo, yang membuka TMU Globalization Forum di Tokyo tanggal 1 Desember 2010. Dengan cepat pula beliau menyatakan dua alasan. Pertama, Jepang rawan dengan gempa bumi. Kenyataan ini membuat orang merasa tidak aman dengan aset-asetnya ketika hidup di Jepang. Kedua, penduduk Jepang sebenarnya belum siap menghadapi globalisasi.

Alasan kedua ini, yaitu globalisasi, mirip dengan masalah Jepang yang dikemukakan Dr Ezra Vogel (profesor emeritus Universitas Harvard), penulis buku Is Japan still Number One? (2001).

Lihatlah kenyataan ini: meskipun produk-produk buatan Jepang banyak diekspor ke luar negeri misalnya mobil, kamera, televisi, dan alat elektronik canggih lainnya, orang Jepang kurang agresif dalam hal melancong dibandingkan warga kota global lainnya. Singkatnya, orang Jepang lebih nyaman hidup di Jepang sendiri. Memang banyak sih orang Jepang yang pergi ke Hawaii, Bali atau Eropa. Tetapi tujuannya wisata saja. Wisata ini juga biasanya dilakukan berkelompok (khusus orang Jepang).

Seorang sarariman (salaryman, pegawai gajian) yang ditempatkan di New York punya siklus hidup yang mirip seperti ketika ia hidup di Jepang. Dalam Globalization Forum itu Takahisa Miyauchi, Wakil Presiden Eksekutif Chemical Group Mitsubishi Corporation, menceritakan siklus hidup sarariman di NYC:

Bangun tidur, mandi, minum kopi, menyalakan televisi dan memilih channel NHK (stasiun Jepang), lalu membaca Asahi Shimbun (koran Jepang). Sesampainya di kantor, ia jarang sekali berkomunikasi dalam bahasa Inggris. Ketika jam makan siang, ia pergi ke restoran Jepang dan makan ramen (mie Jepang). Sepulang dari kantor, ia pergi makan malam di restoran sushi. Kalaupun menggunakan bahasa Inggris ini hanya dalam bentuk tulisan atau bicara singkat seperti ‘thank you’, ‘turn left’, ‘turn right’, ‘good morning’ dan seterusnya.

Miyauchi mengatakan bahwa ini barangkali contoh yang ekstrim. Namun ini juga merupakan kenyataan bahwa orang Jepang agak tertutup. Jiwanya tidak global. Gegar budaya membuat orang Jepang cenderung diam (pasif?). Salah satu sebabnya adalah penduduk Jepang terlalu homogen. Orang asing kurang banyak di Jepang, hanya 5% . Bandingkan dengan sembilan kota global lain yang disebut di atas. Miyauchi mencontohkan bahwa hampir 30% penduduk Singapura lahir di luar Singapura. Singapura menerima budaya yang beragam. Ini fitur kota global.

Karena itu, di Mitsubishi Corporation (yang merekrut ‘hanya’ 150 karyawan dari 10.000 pelamar) Miyauchi selalu berpesan agar karyawannya berpikir global. Miyauchi sendiri selalu meminta stafnya untuk membaca koran International Herald Tribune setiap hari. Jika sibuk ia menyarankan satu kali membaca IHT dalam seminggu. Selain untuk mengasah kemampuan berbahasa Inggris, karyawan Mitsubishi harus mengetahui apa yang terjadi di luar Jepang dan apa pandangan orang luar terhadap Jepang.

Khusus untuk universitas di Jepang, Miyauchi memberikan dua resep menghadapi globalisasi:

Pertama, lakukan pertukaran pelajar dengan universitas dari India. Jangan hanya melakukan pertukaran pelajar dengan Cina atau Korea karena mereka ini masih satu rumpun. Pelajar dari China masih bisa membaca Kanji. Pertanyaannya: mengapa India? India punya kultur yang sama sekali berbeda dengan Jepang: orangnya berbeda, makanannya berbeda, huruf yang mereka pakai berbeda, kalangan akademisnya pandai berbahasa Inggris dan jiwanya selalu ingin merantau.

Kedua, bekerjasama dengan negara-negara yang mayoritas penduduknya Islam. Jepang harus berusaha memahami orang-orang muslim yang budayanya juga berbeda. Miyauchi yang pernah hidup di Arab Saudi beberapa tahun ini menyatakan bahwa orang Jepang tidak tahu apa itu Islam. Dengan mengundang penduduk muslim datang ke Jepang untuk belajar membuat penduduk Jepang kenal dengan mereka, belajar satu sama lain, menghargai perbedaan dan punya persepsi global.

Dua resep ini mengubah elemen dasar pendidikan yaitu memperkenalkan globalisasi dengan mengundang mahasiswa asing.

Bagaimana dengan posisi puncak universitas, seperti rektor atau dekan universitas?

Dr Soonhung Han dari KAIST (Korean Advanced Institute of Science and Technology), universitas paling terkemuka di Korea Selatan, menceritakan bahwa dua rektor KAIST berasal dari Amerika Serikat. Bahkan dekan sekolah bisnisnya berasal dari India. Tujuh puluh persen profesor di KAIST adalah lulusan Amerika. Dan, KAIST berencana meningkatkan jumlah profesor dan mahasiswa asing hingga 20% dari keseluruhan penduduk kampus.

Jepang, harus diakui, memang agak homogen. Rektor universitas biasanya dari Jepang sendiri. Hampir semua perkuliahan biasanya diberikan dalam bahasa Jepang. Peneliti Jepang seringkali menulis makalah ilmiah untuk jurnal Jepang saja. Peneliti Korea Selatan dan Cina jauh lebih banyak dari Jepang dalam menulis makalah ilmiah di jurnal berbahasa Inggris.

Globalization forum hari itu menghasilkan dua resep dari Mitsubishi dan satu resep dari KAIST. Namun globalisasi merupakan evolusi (perubahan perlahan) ketimbang revolusi (perubahan cepat). Beberapa tahun lagi barulah nampak apa hasil yang diperoleh universitas Jepang setelah menjalankan resep ini.

2 thoughts on “Globalisasi

  1. wah bener sekali Pak, sepakat pada beberapa ide.
    Apa boleh buat, sekarang saya berada pada masa dimana Jepang belum begitu siap dengan globalisasi. Saya mengalami, seolah dipaksa berbahasa Jepang (terutama ketika harus apply beasiswa). Menjadi semakin ‘sebel’ ketika ada salah satu asisten profesor yang juga memaksa berkomunikasi dengan bahasa jepang. Yah, apa boleh buat, namanya juga saya pendatang, tidak bisa berbuat banyak.

  2. Pingback: Japan as Number One « random notes

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s