Vogel


Pikiran yang resah, barangkali juga kagum, dapat melahirkan buku yang populer. Pada tahun 1979, Ezra Vogel menerbitkan buku bertajuk Japan as Number One: Lessons for America. Buku ini diinspirasi oleh kemajuan Jepang selama kurang dari dua dekade antara akhir 1950an hingga 70an. Jepang mampu memerintah dengan efisien, mendidik rakyatnya untuk bekerja keras, mencari sumber energi baru, meningkatkan pendidikan formal, menurunkan angka kriminalitas dan pengangguran, mereduksi pencemaran udara dan membuat segalanya sendiri. Kata “demokrasi” yang digaungkan Amerika untuk mencapai kemajuan barangkali tidak dipakai di Jepang. Jepang punya ‘Japanese values‘.

Gagasan Vogel dalam buku ini sebenarnya mengidap dikotomi: ketakutan Amerika karena peradaban dunia dapat pindah ke Jepang, atau Jepang suatu hari nanti (dengan Japanese values-nya) mengalami kemunduran.

Bagaimana peradaban pindah ke Jepang?

Usainya periode Sankoku pada 1868 (periode ketertutupan Jepang  terhadap bangsa asing selama hampir 200 tahun) menandai permulaan jaman yang baru, yaitu Restorasi Meiji. Buku karangan Yukichi Fukuzawa berjudul Gakumon no Susume jadi buku pegangan. Jepang agresif mempelajari ilmu pengetahuan dan teknologi dari AS dan Eropa (khususnya Jerman Barat). Jepang tidak hanya pandai mengadopsi ilmu-ilmu dasar, ia juga pandai mengemas, mencari nilai fungsional dan menjual teknologinya. Proses adopsi teknologi yang dilakukan Jepang kadang cepat kadang juga lambat. Tetapi tujuan akhirnya jelas: suatu teknologi harus dikuasai hingga detil-detilnya.

  • Enam tahun setelah Bell Laboratories AS mempatenkan transistor pertama (baca True Genius: The Life and Science of John Bardeen), Sony Corporation menjual televisi transistor di dunia pada 1958
  • Lima puluh tahun setelah Henry Ford menghasilkan mobil Model-T, Toyota Camry masuk pasar AS pada 1958
  • Lima puluh sembilan tahun setelah Wright bersaudara melakukan terbang perdana di Kitty Hawk, Dayton, Ohio, Jepang mendesain dan menerbangkan pesawat turbo propeller Ys-11 pertama pada 1962 (khusus untuk pesawat terbang, Jepang sudah bisa membuat pesawat tempur pada pertengahan 1930an)

Bareng Olit di depan pesawat YS-11 (Tokorozawa Aviation Museum, Jan 2010)

Peradaban sebuah negara seperti Jepang sehingga mencapai tingkat lanjut (advanced) dibangun dalam sebuah negara yang infrastruktur masyarakatnya (secara multidimensi: sosial, ekonomi, politik, pendidikan) berbeda dari AS.

Sosial: orang Jepang selalu menjaga kompatibilitas sosial (harmoni). Konfrontasi secara terbuka tidak disukai di Jepang. Mayoritas orang Jepang relatif jujur, dan ini juga membuat angka kriminalitas rendah.

Ekonomi: orang Jepang gemar belajar, pekerja keras, produktif dan setia ke tempat kerja. Tidaklah mengherankan jika ribuan perusahaan kecil-menengah (small-medium Enterprises) mampu menciptakan produk-produk terbaru, dan tumbuh menjadi perusahaan raksasa.

Politik: Sejak 1955 Jepang dikuasai Partai Demokrat Liberal (LDP). Para politisi LDP menyediakan kebutuhan pokok hidup orang Jepang seperti kesehatan (untuk warganya panjang usia), pendidikan (untuk warganya tidak buta huruf) dan pensiun (agar warganya tetap hidup layak saat pensiun). Partai ini bertahan hingga 2008; dikalahkan Partai Demokrasi Jepang.

Pendidikan: Kurikulum pendidikan menengah Jepang lebih maju dari negara-negara lain. Dana penelitian Jepang menyaingi AS dan Jerman Barat pada akhir 1970an itu (mencapai 3% dari GDP).

Periode ‘konsentrasi penuh membangun negerinya’ setelah Perang Dunia II membuat Jepang tidak sadar bahwa masalah lain juga muncul. Globalisasi (baca postingan sebelumnya) belum sepenuhnya direspon oleh Jepang. Dalam era global ini semangat internasionalisasi-nya tidak seagresif China atau India. Misalnya, tidak banyak profesor Jepang yang mengajar di AS dan Inggris kecuali mengajar bahasa atau kebudayaan. Orang Jepang juga belum banyak menjadi tokoh-tokoh penting dalam politik internasional maupun perusahaan besar dunia. Selain itu masalah dalam negeri Jepang juga banyak: rendahnya angka kelahiran, tingginya angka bunuh diri, besarnya utang Jepang (hampir dua kali pendapatan), tidak stabilnya politik setelah LDP jatuh, intervensi kedaulatan wilayah, tingginya biaya hidup, dan peningkatan jumlah karyawan non-permanen.

Oleh karena itu, buku Japan as Number One bernafas kontekstual atau terikat waktu. Bahkan mantan Perdana Menteri Jepang, Yasuhiro Nakasone yang berkuasa antara 1982 – 1987 menyatakan bahwa buku itu menceritakan Jepang pada zaman ‘keemasan’ saja. Wajah politik yang digambarkan Vogel sudah tidak ada lagi hari ini. Pada 2001, Vogel menerbitkan satu buku berjudul Is Japan still Number One?. Walaupun judul buku itu nampak apologetik  ia menanyakan hal yang sahih: apakah benar Jepang masih nomor satu?

Menurut Ernst and Young, dalam hal investasi, Cina memiliki daya tarik yang sama dengan dengan Jepang pada tahun 2008. Negara-negara Asia lainnya juga semakin menarik untuk investasi, seperti India, Hong Kong, Singapura, Korea Selatan dan Vietnam. Hari ini ekonomi China sudah mengalahkan Jepang.

Delapan tahun setelah buku kedua buku keduanya terbit, Vogel datang ke Jepang. Seminar pada 30 Oktober 2009 di Canon Institute for Global Studies (CIGS), Tokyo, itu berjudul ‘Japan as Number One Revisited’. Vogel dan pembicara lain tetap optimis bahwa Jepang dapat keluar dari masalahnya. Ini disebabkan Jepang sudah melihat apa dua persoalan besar yang dihadapinya: globalisasi dan angka kelahiran. Tinggal bagaimana pemerintah Jepang yang kini dipimpin Partai Demokratik Jepang menyelesaikan dua masalah itu.

2 thoughts on “Vogel

  1. Pak Arief, bagaimanakah secara detail Jepang bisa mengadposi teknologi dan melakukan revolusi industri pada era Meiji masuk ke abad 20 ? Mengingat sebelumnya Jepang tertutup dengan dunia Luar

    • Terima kasih IDcopy. Detilnya mungkin bisa dibaca di banyak buku atau internet. Setelah 1868, Jepang sebenarnya masih tetap tertutup. Tetapi ia mengirimkan banyak pemudanya ke luar negeri utk mempelajari teknologi Barat yang paling bermanfaat untuk negerinya. Pemuda-pemuda itu kemudian pulang dan menerapkan apa saja yg dipelajarinya, mulai dari membuat bir sampai pesawat tempur. Kadang mereka juga mengundang insinyur Barat untuk mengajar di Jepang. Jepang terbuka menerima sains dan teknologi untuk mempermudah hidupnya, tapi tidak merubah diri manusianya. Manusianya (kebanyakan) tetap mempertahankan nilai-nilai tradisional Jepang. Tidak mudah menjadi terbuka dalam sekejap, jika selama 200 tahun lebih asalnya adalah tertutup. Tapi motivasi yg besar untuk menjadi penguasa Asia, dan minimnya sumber alam, mendorong orang2nya utk terbuka.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s