Gelandangan


Setelah Amerika Serikat (AS) melakukan serangan ke Irak, ekonomi negaranya terguncang. Akibatnya jelas: pengangguran di mana-mana. Gelandangan pun merajalela di kota besar seperti New York, Chicago dan Atlanta.

Sama dengan Jepang: terhitung sejak 1995 ekonominya merosot dan pekerjaan sulit diperoleh. Tapi penyebabnya bukan perang; lebih ke strategi dagang dan kebijakan ekonomi. Akibatnya juga sama: pengangguran dan gelandangan makin banyak di beberapa tempat (walaupun sepertinya tidak sebanyak di AS).

Ketika suatu pagi berjalan di depan stasiun kereta api Tokyo, saya melihat para gelandangan masih terlelap tidur di dalam karton bekas yang berjajar rapi. Selain di depan stasiun itu, gelandangan di Tokyo juga bisa ditemukan di taman Hibiya, atau tepi sungai Sumida. Kondisi ini membuat gelandangan menjadi isu sosial yang hangat di Jepang.

Data gelandangan di Jepang:

2003: 25,296

2007: 18,564

2008: 16,018

2009: 15,759 (92.4% laki-laki)

Gelandangan ini adalah orang-orang yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) karena banyak perusahaan Jepang yang jatuh bangkrut. Selain di Tokyo, gelandangan terbanyak ada di Osaka, Kanagawa, Fukuoka dan Aichi. Gelandangan ini biasanya berdiam di kota besar. Hal ini wajar karena kota-kota yang lebih kecil tidak memiliki fasilitas untuk membantu mereka.

‘Rumah’ gelandangan di Shinjuku, Tokyo (Courtesy: gruntzooki)

‘Homeless’ sendiri baru saja dikenal di Jepang. Setelah Perang Dunia II, orang yang tak punya rumah di Jepang disebut furou (pengembara) atau runpen (pemalas). Karena isu gelandangan dari AS dan Inggris ramai dibicarakan di Jepang maka Jepang akhirnya mengenal istilah ini. Kata ‘gelandangan’ akhirnya baru punya definisi resmi dalam Undang-Undang Jepang tahun 2002. Gelandangan menurut UU ini mengacu pada pria lajang berusia di atas 55 tahun yang tidur jalanan (rough sleeper). Mereka yang tergolong rough sleeper kebanyakan pekerja konstruksi harian yang tidak mendapat pekerjaan dari sebuah tempat bernama Yoseba. Yoseba adalah pasar pekerja terbuka. Mereka yang kurang beruntung dan tidak laku tenaganya itu terpaksa harus tidur di sekitar Yoseba hingga mendapatkan pekerjaan keesokan harinya.

Karena kata gelandangan baru masuk UU kurang dari 10 tahun, maka hanya sedikit yayasan resmi pendukung gelandangan di Jepang. Pada Desember 2008 ada sekitar 30 yayasan untuk gelandangan di Tokyo. Yayasan ini menampung 2,523 gelandangan. Selain itu beberapa organisasi kecil non-profit juga membantu para gelandangan. Jumlah ini termasuk sedikit dengan jumlah gelandangan yang sedemikian banyak.

Mengapa sulit membantu gelandangan di Jepang?

Pertama, selain karena kata gelandangan baru saja dikenal, gelandangan juga belum dianggap masalah sosial yang serius. Membantu gelandangan belum masuk prioritas. Ada kejadian yang ironis: tahun 2009 pemerintah Osaka membantu kebun binatang dengan mengeluarkan uang sebesar 1.4 juta dolar per tahun untuk memelihara enam koala dari Australia. Kebijakan pemerintah Osaka ini membuat para gelandangan dan pendukungnya marah karena masalah sosial seperti gelandangan malah tidak mendapat perhatian. Seperti sebuah peribahasa:

Anak di ribaan diletakkan, kera di hutan disusui.

Kedua, pesan moral untuk membantu gelandangan belum tersosialisasikan. Menjadi gelandangan masih dianggap sebagai pilihan hidup. Orang melihat bahwa gelandangan itu seharusnya bisa jadi ‘orang biasa’ asal mau bekerja. Mereka harus membantu dirinya sendiri. Demikian setidaknya pendapat umum.

Ketiga, ‘kemiskinan’, sebuah atribut yang dibawa gelandangan, sengaja ditutupi, tetapi tidak diselesaikan. Misalnya, ketika ada acara olahraga internasional atau konferensi internasional, gelandangan ini akan dipindahkan dari taman atau stasiun-stasiun agar tidak mengganggu pemandangan.

Pada 2008, sebuah organisasi kecil bernama Moyai mengumpulkan 500 gelandangan di Taman Hibiya, pusat kota Tokyo. Pendirinya, Makoto Yuasa (39 tahun), ingin membangun kepedulian bersama dan mencari cara bagaimana membantu gelandangan ini. Alih-alih dibantu, Yuasa malah diprotes warga Tokyo karena kelompok gelandangan ini merusak pemandangan. Gelandangan identik dengan kemiskinan: ini harus ditutupi dari ruang publik. Namun berkat kegigihannya beberapa orang mulai membantu Yuasa dengan menyumbangkan bahan makanan dan pakaian hangat.

Tokoh Jepang yang gigih membantu gelandangan adalah mantan Perdana Menteri Yukio Hatoyama. Hatoyama dinilai memiliki kepedulian yang besar terhadap gelandangan ini. Sayangnya beliau sudah lengser karena isu pangkalan militer AS di Okinawa dan skandal keuangan.

2 thoughts on “Gelandangan

  1. yah kak, masalah gelandangan memang miris, kalo ada info lagi tentang gelandangan dan cara ato metode yang tepat dalam mengatasinya share ke aq ya kak … makciii …

    arief
    saya blm pernah mengurusi gelandangan sebenarnya. tp dari bahan bacaan, para gelandangan bisa dikategorikan dua, yaitu mereka yg masih mampu bekerja dan yg tidak mampu (karena sakit atau tua). yg masih mampu bekerja harus dilatih kembali bersosialisasi, menghasilkan sesuatu utk dirinya sendiri, dikembalikan kepercayaan dirinya dan hidupnya. yg sakit atau tua harus dimasukkan ke yayasan (milik sendiri atau organisasi lain). barangkali ini tugas utama pemerintah, tp seringkali ini bukan prioritas mereka.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s