Anti Terorisme


Auto RSS feed from https://ari3f.wordpress.com

Kontroversi sebuah buku menutup tahun 2010 di Jepang. Judulnya ‘Bocoran Informasi Keamanan Masyarakat: Semua Data’ (Ryuushutsu Kou’an Tero Jyouhou – Zen Deta). Buku ini berisi informasi (yang seharusnya rahasia) tentang anti-terorisme di Jepang.

Penerbit buku itu, Dai-San Shokan (DSS), mendapatkan 114 dokumen dari sebuah situs pada bulan Oktober 2010. Menurut dugaan, dokumen ini adalah laporan Biro Keamanan Masyarakat, Departemen Polisi Metropolitan Tokyo (MPD) mengenai keberadaan masyarakat muslim di Jepang yang dibuat antara tahun 2004 dan 2009. DSS dengan cepat mengedit laporan-laporan itu, menambahkan kata pengantar dan menerbitkannya dalam sebuah buku pada 29 November 2010.

Mengapa DSS menerbitkan buku setebal 469 halaman ini?

Di tengah Redupnya ‘Japan Inc.’ atau ekonomi Jepang, penerbit itu mungkin ingin meraih keuntungan dari sesuatu yang kontroversial. Namun, direktur DSS, Akira Kitagawa, ingin membela umat muslim dengan buku itu. Ia mengatakan:

Tidaklah benar menganggap muslim sebagai teroris. Dengan menerbitkan buku itu, kami ingin publik Jepang menilai sendiri.

Dalam pengantarnya, buku itu bahkan menulis sebuah kritik: ‘Kebijakan yang merugikan Islam telah dilaksanakan di seluruh Jepang atas nama anti-terorisme’.

Agaknya penerbit DSS kurang teliti dalam menyunting isinya. Meskipun DSS dilindungi hukum kebebasan berekspresi dan publikasi, bukunya memuat profil sejumlah muslim di Jepang. Rupanya niat DSS dalam ‘membela’ Islam kurang mendapat respon positif dari umat muslim di Jepang, khususnya mereka yang nama-namanya ada dalam buku itu.

Seorang yang profilnya masuk dalam buku itu menuntut DSS di pengadilan wilayah Tokyo. Ia tidak menyukai DSS memuat profil tanpa izin, dan ini dapat merugikan keberadaannya di Jepang. Pengadilan daerah Tokyo kemudian menyetujui tuntutannya, dan meminta DSS menghilangkan 4½ halaman yang berisi data-data pribadinya.

Setelah kasus tersebut, ternyata semakin banyak orang yang menuntut DSS.

9 Desember 2010: Enam orang (satu orang Jepang dan lima orang asing yang semuanya muslim) mengeluhkan buruknya kinerja pemerintah dalam menjaga kerahasiaan data pribadi mereka di Kantor Penuntut Umum Wilayah Tokyo.

24 Desember 2010: Tiga belas orang lagi menuntut DSS untuk menghentikan distribusi buku itu. Selain itu mereka juga meminta ganti rugi 42.9 juta yen. Tersiarnya data-data pribadi mereka dalam buku itu agak menyulitkan kehidupan di sini.

Selain insiden itu, pertanyaan yang sebenarnya penting adalah: Apakah dokumen itu asli?

Setidaknya ada 21 nama yang dimuat dalam buku itu. Seorang di antaranya menyatakan bahwa di dalamnya ada hasil wawancara ketika dia dimintai keterangan oleh MPD. Ini berarti bahwa sebagian isinya adalah milik MPD. MPD yang kini disorot berbagai pihak sangat lambat dalam menanggapi kebocoran informasi ini. Padahal kerugiannya sudah jelas: kepercayaan dunia intelijen internasional terhadap integritas penjagaan informasi rahasia oleh MPD semakin berkurang.

MPD sebenarnya sudah mengetahui kebocoran informasi pada 29 Oktober 2010. Namun, MPD secara hati-hati meneliti satu per satu halamannya, mencocokkan dengan dokumen yang mereka punya. Sementara waktu MPD hanya menyatakan bahwa kasusnya masih dalam penyelidikan.

Namun setelah didesak banyak pihak, pada 24 Desember 2010 Kenichi Sakurazawa dari MPD meminta maaf kepada masyarakat Jepang atas kebocoran dokumen ini. Ia menyatakan bahwa sebagian dokumen itu memanglah milik MPD. Dari penelitian atas 114 dokumen itu, MPD menemukan sebuah file yang berisi catatan pribadi. Berkas itu diberi nama ‘kokutero-ka karano rikuesuto’ atau permintaan dari Biro Anti-terorisme Internasional. Catatan pribadi ini, yang lebih mirip sebuah email, juga meminta informasi tentang organisasi Islam di Jepang, termasuk nama-nama masjid, kegiatan masjid dan perayaan-perayaan di kedutaan negara-negara lain di Tokyo. Berkas ini tanpa nama dan tanpa tanggal penulisan. Namun MPD menyatakan bahwa format email ini mirip dengan tulisan seorang atasan di MPD.

Siapakah pihak MPD yang sengaja membocorkan informasi intelijen ini?

Hingga hari ini teka-teki tentang kebocoran 114 dokumen rahasia ini masih berupa tanda tanya. Yang jelas, ketika mencari-cari buku itu di beberapa Toko buku di Machida dan Hachiouji, buku terbitan DSS itu sudah tidak dapat ditemukan lagi.

Dan … seorang polisi berpakaian preman masih tetap berjaga di depan masjid setiap kami sholat Jumat (orang sholat kok dijaga … biar tidak ada yang klakson mungkin … ). Atas nama anti-terorisme?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s