Womenomics


Dalam sebuah wawancara dengan koran Mainichi Shimbun, duta besar Amerika Serikat (AS) untuk Jepang John V. Roos mengatakan bahwa aset terbesar Jepang yang belum sepenuhnya diberdayakan adalah kalangan wanitanya. Padahal, jika Jepang berhasil memanfaatkan kemampuan wanitanya maka pendapatan (GDP) Jepang bisa naik 15%. Ini berdasarkan laporan Goldman Sachs antara 1999 dan 2005. Goldman Sachs menyebutnya ‘womenomics’.

Apakah womenomics?

Womenomics secara sederhana berarti pergerakan roda ekonomi yang laju-lambatnya ditentukan oleh kemampuan wanita dalam bekerja untuk menghasilkan uang, menginvestasikan dan membelanjakannya.

Meskipun ekonomi Jepang menurun dua dekade ini, wanita Jepang agaknya masih ‘rajin’ gonta-ganti handphone; mengakses internet; membeli komputer, mobil mini, apartemen, perhiasan dan benda bermerek terkenal.  Wanita Jepang membelanjakan ¥173,183 (Rp 17.3 juta) setiap bulan. Jumlah ini memang lebih kecil dibandingkan pria Jepang yang menghabiskan ¥194,938 per bulan. Namun, kemampuan belanja pria sebenarnya mengalami penurunan 1.6% per tahun, sedangkan kemampuan belanja wanita Jepang malah naik 4.6% per tahun.

Dari uang bulanan sebesar ¥173,183 itu, wanita Jepang memakai 64.6%-nya untuk kebutuhan sekunder (misalnya perabot rumah, pakaian, telepon, barang bermerek dan internet; 24.1%), rumah (20.3%) dan makanan (20.2%). Oleh karena itu, pebisnis Jepang cenderung fokus kepada segmen pasar yang baru, yaitu wanita Jepang.

Selain ‘kemampuan’-nya berbelanja, wanita Jepang juga dikenal berumur panjang. Menurut data menurut Central Intelligence Agency (CIA) jumlah wanita Jepang per Juli 2010 adalah 65.1 juta dari 126.8 juta penduduk Jepang (51.4%). Dalam hal ini komposisi wanita yang berusia di atas 60 tahun lebih banyak dari pria Jepang. Secara rata-rata wanita Jepang mampu hidup sampai 84 tahun, sedangkan lelakinya ‘hanya’ bisa hidup sampai 77 tahun. Rendahnya jumlah pria Jepang sebagian disebabkan oleh bunuh diri.

Mengapa penduduk wanita berumur di atas 60 tahun merupakan aset yang berharga?

Mereka yang berumur di atas 60 tahun umumnya mempunyai simpanan ¥9.6 juta (Rp 960 juta) di bank. Jumlah ini 60% lebih banyak daripada tabungan laki-laki Jepang. Oleh karena itu wanita Jepang usia tua disebut juga ‘investor masa depan’.

Namun, womenomics di Jepang masih menghadapi banyak tantangan. Di Jepang, jumlah wanita karir masih berada pada level 55%. Ini berada di bawah AS atau Inggris, di mana masing-masing berada pada level 62 dan 61%.

Mengapa demikian?

Pertama, ketika berusia antara 25-29 tahun wanita Jepang tidak bekerja secara penuh (full-time); melainkan hanya bekerja paruh waktu (part-time). Ini membuat jumlah pengangguran nampak semakin naik (employment diukur dari jumlah pekerja full-time). Laju pengangguran mencapai 5% tahun 1995. Penyebabnya: perusahaan mengubah status kerja wanita dari pekerja penuh ke paruh waktu. Ini merupakan cara perusahaan Jepang untuk memangkas biaya non-gaji, seperti bonus, asuransi, dan keuntungan yang lain.

Kedua, ketika berumur 30 – 44 tahun, wanita Jepang tidak dapat bekerja karena sibuk mengurus anak. Jumlah penitipan anak (hoikuen) di Tokyo dan beberapa kota besar lainnya sangat sedikit, dan ini membuat wanita tidak sempat bekerja untuk membantu ekonomi rumah tangga.

Ketiga, bisnis di Jepang kurang mendukung karir wanita. Wanita yang bisa meraih posisi tinggi di suatu perusahaan masih sedikit dibandingkan negara maju lainnya. Perusahaan dipandang sebagai ‘wilayah laki-laki’, sedangkan rumah tangga adalah ‘wilayah wanita’. Jenjang pendidikan yang tinggi tidak serta merta membuat wanita bisa menjadi manajer atau direktur di suatu perusahaan. Memang akhir-akhir ini banyak wanita Jepang menjadi anggota parlemen, menteri atau CEO. Namun jumlahnya masih di bawah AS dan negara-negara maju lainnya.

Karena tiga sebab inilah womenomics masih merupakan konsep yang sekuler di Jepang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s