Barentain


Hari ini 14 Februari.

Di Barat atau di negeri yang ter-Barat-kan (westernized), hari ini adalah hari kasih sayang. Ritualnya repetitif selama puluhan tahun: seseorang akan memberikan hadiah bagi kekasihnya, lalu makan malam berdua. Hadiah yang diberikan biasanya berupa coklat, kartu, bunga, atau hadiah lain yang memiliki simbol hati. Namun, ada juga yang memberi penghisap debu.

Pada Hari Valentine ini, saya selalu teringat Rajaa al-Sanea. Wanita Arab Saudi yang kini tinggal di Chicago ini adalah penulis novel Banat al Riyadh (Gadis-gadis Riyadh, 2005). Al-Sanea pernah berkelakar tentang hari Valentine:

Besok akan menjadi hari Valentine kedua bagi saya selama di Amerika Serikat. Perayaannya sedikit mirip dengan apa yang ada di Arab Saudi. Ya, di kedua tempat memang ada istilah ‘dates‘ (dari bahasa Inggris yang berarti buah kurma atau teman kencan). Tetapi di Saudi Arabia, kami memakannya [bukan mengajaknya kencan].

Al Sanea berasal dari negeri di mana hari Valentine dikecam. Di Arab Saudi, ataupun di Iran dan Pakistan, pelbagai  hiasan yang berlambang hati dilarang beredar. Perayaan ini dianggap tidak Islami. Di Indonesia pun, sejumlah orang melakukan demo mengecam hari Valentine. Kelakarnya: mereka merayakan Valentine dengan berdemo.

Di Jepang, Hari Valentine disebut バレンタインデー (Barentain De). Di Jepang, hari valentine sudah dirayakan sejak 1950an. Sama dengan Hari Natal, Hari Valentine bukan hari libur nasional.  Yang jelas, menjelang hari Valentine, banyak pasar swalayan atau mall yang memasang ‘Valentine Sale’ untuk menarik pelanggan. Nuansa itu tidak hanya dirasakan di area Tokyo yang terkenal, seperti Shibuya, Shinjuku dan Harajuku, tapi juga di pinggiran Tokyo.

Saat itu juga saya menyadari bahwa di Jepang segala perayaan berarti bisnis. Pada Hari Valentine ini, kartu, coklat, makanan dan hadiah lainnya sangat laris manis.

Tradisi Hari Valentine di Jepang agaknya berbeda dengan negara-negara lain. Di Jepang, perempuanlah yang memberi hadiah bagi pria di Hari Valentine. Inilah saat perempuan mengutarakan isi hatinya kepada lelaki yang disukainya; bukan sebaliknya.

Perempuan menghadiahkan coklat kepada lelaki idamannya. Coklat ini bernama giri choco (coklat tanda menghormati). Giri choco dapat dibeli di semua supermarket Jepang.

Selang satu bulan kemudian, lelaki yang memperoleh hadiah itu akan membalas dengan memberi hadiah pula (jika kebetulan ia juga menyukai sang perempuan). Hadiahnya diharapkan lebih mahal. Hari pemberian hadiah dari pria disebut Howaito De (yang berasal dari bahasa Inggris ‘White Day’). Pada Hari Putih itu coklat balasannya berupa coklat putih. Namun, hadiahnya tidak hanya coklat. Biasanya coklat putih itu selalu dibarengi hadiah yang lebih mahal. Aturan mainnya: tiga kali lebih mahal dari hadiah perempuannya.

Sayangnya, tradisi memberi hadiah kepada lelaki kurang populer sekarang ini.

Sebuah perusahaan pembuat kue, Ezaki Glico, membuat survey terhadap 400 perempuan Jepang lajang bulan lalu. Tujuan survey ini adalah untuk mengetahui kepada siapakah hadiah coklat akan mereka berikan.

Hasil survey-nya:

  • 71.5% akan memberikan coklat kepada teman perempuan
  • 54.5% akan memberikan coklat kepada ayah, kakak atau adik lelaki
  • 37.5% akan memberikan coklat kepada ibu, kakak atau adik perempuan

Lelaki Jepang boleh gigit jari: Tidak masuk tiga besar target hari Valentine.

Apa yang membuat pandangan perempuan Jepang berubah sekarang ini?

Sebuah kata yang populer pada 2010 di Jepang adalah joshikai. Ini artinya gank perempuan. Gank ini tujuannya hanya kumpul-kumpul dan bersenang-senang. Tidak hanya perempuan muda saja yang punya gank, bahkan ibu rumah tangga pun punya joshikai. Di antara joshikai ini, seorang perempuan lebih bebas mengekspresikan perasaannya tentang apa pun.

Fenomena joshikai sudah terjadi lima hingga sepuluh belakangan ini.

Perempuan Jepang agaknya lebih pragmatis. Mereka memahami bahwa giri choco yang mereka berikan adalah simbol kebaikan hati, bukan simbol cinta. Dan, simbol kebaikan hati seringkali tidak produktif: Ia tidak ‘menghasilkan’ seorang pria idaman.

Ada yang lebih ekstrim: coklat tidak layak dijadikan hadiah karena ia berhubungan dengan kematian. Ketika kecil, beberapa perempuan seringkali bertanya kepada ibunya mengenai tempat hidup setelah kematian, yaitu surga. Surga, kata ibunya, hanya berisi coklat, coklat dan coklat. Tidak ada yang lain. Pikiran ini terbawa hingga dewasa, dan melekat menjadi kesan buruk. Coklat adalah kematian.

Tapi ini ada bagusnya untuk berat badan: Orang Jepang hanya memakan 1.1 kg coklat dalam setahun. Ini pun hanya mereka lakukan di bulan Februari saja. Berbeda dengan orang Amerika yang memakan 5 kg coklat, atau orang Swiss yang memakan 10 kg coklat per tahunnya (dan ini mereka dilakukan sepanjang tahun).

Barentain De di Jepang agaknya tak lagi bermakna cinta, namun bisnis coklat belaka.

One thought on “Barentain

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s