Sakurai & Kanno


Tahun 2011 merupakan tahun yang penuh cobaan bagi Jepang: krisis kepemimpinan, gempa yang memicu tsunami, ledakan reaktor nuklir dan ekonomi yang merosot.

Namun, di balik itu, dua warga Jepang masuk ke dalam The 2011 Times 100 yang disiarkan pada 21 April lalu. Mereka adalah Katsunobu Sakurai dan Takeshi Kanno. Dua orang ini bersanding dengan tokoh-tokoh dunia lain, seperti Joseph Stiglitz, Barack dan Michelle Obama, Sting, Mark Zuckerberg, Aung San Suu Kyi, Hillary Clinton dan Oprah Winfrey.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, majalah Time membuat daftar yang berisi 100 orang paling berpengaruh di dunia dalam pelbagai bidang. Gagasan dan tindakan mereka dinilai telah memicu dialog dan revolusi. Tahun lalu, hanya satu orang Jepang yang masuk dalam daftar Times 100, yaitu mantan Perdana Menteri Jepang, Yukio Hatoyama.

# Katsunobu Sakurai

Berusia 55 tahun, dia adalah walikota sebuah kota kecil bernama Minami Soma, Fukushima, yang berada 28 kilometer dari Fukushima Dai-ichi, pembangkit tenaga nuklir yang meledak.

Katsunobu Sakurai, walikota Minami Soma, Fukushima

Efek dari ledakan ini cukup hebat: 50,000 dari 71,296 penduduk melarikan diri dari Minami Soma. Tak lama kemudian, pemerintah Jepang mengeluarkan peringatan bagi penduduk yang masih di sana: mereka yang berada di 20 sampai 30 kilometer dari reaktor harus tetap berada di dalam rumah karena radiasi nuklir sangat berbahaya. Di negara yang memiliki disiplin tinggi seperti Jepang, peringatan ini pasti dipatuhi. Akibatnya, hanya penduduk yang masih tersisa, yaitu 20.000 jiwa, yang terisolasi di sana.

Sakurai bingung dan merasa bahwa pemerintah Jepang tidak memberi perintah penyelamatan (evacuation order) yang jelas kepada penduduk Minami Soma. Sakurai agaknya kesal karena pemerintah Jepang ibarat mempermainkan hidup penduduk Minami Soma. Dia ingin menyampaikan kepada dunia bahwa Minami Soma membutuhkan bantuan.

Pukul 9 malam 24 Maret (waktu setempat), Sakurai membuat video selama 11 menit 13 detik yang diunggah di Youtube keesokan harinya. LINK

Dalam video itu ia berkata:

Gempa pada 11 Maret dan tsunami, serta kecelakaan di reaktor nuklir Fukushima Dai-ichi, merusak kota kami. Kami yang berada di antara 20 dengan 30 kilometer dari reaktor kehabisan makanan, padahal pemerintah meminta kami tetap tinggal di rumah. Dan, dengan kurangnya informasi dari pemerintah atau Tepco (Tokyo Electric Power Corporation), kami terisolasi di sini.

Sakurai melanjutkan:

Jumlah penduduk sekarang adalah 20,000. Kami bertanggung jawab terhadap penduduk ini. Kami sulit mendistribusikan bantuan. Bantulah kami. Peringatan pemerintah membuat kami sulit mendistribusikan bahan-bahan logistik.

Dia juga mendorong agar wartawan media menyaksikan sendiri secara langsung kondisi mereka:

Sebagian besar media hanya mendapat informasi melalui telepon. Jika mereka tidak datang ke area ini dan mendapatkan informasi langsung, mereka tidak pernah tahu apa yang sedang terjadi. Kami mendorong mereka agar menyaksikan sendiri apa yang terjadi di sini.

Dalam nada yang tenang ia menutup videonya:

Saya ingin meminta media di seluruh dunia agar membantu kami dalam menyiarkan gempa dan tsunami, dan bahwa kami sedang berjuang menghadapi ancaman radiasi dan polusi.

Dampak dari video itu terasa dua minggu kemudian.

Ratusan wartawan datang ke Minami Soma dan membuat liputan langsung tentang kondisi di sana. Bantuan berupa makanan dan bensin mengalir ke wilayah ini. Sukarelawan membantu evakuasi 20,000 orang yang masih tersisa. Toko-toko pun buka dan mengirim makanan ke rumah-rumah.

Dalam wawancaranya dengan The New York Times, Sakurai mengatakan:

Kami kini sadar betul bahwa kami tidak sendirian.

# Takeshi Kanno

Berusia 31 tahun, dia adalah dokter di Rumah Sakit Shizugawa, Minami Sanriku.

Takeshi Kanno, dokter Rumah Sakit Shizugawa

Ketika gempa terjadi, dia segera memindahkan puluhan pasien ke lantai yang lebih tinggi karena sadar bahwa beberapa menit lagi tsunami akan menghantam rumah sakitnya.

Dari lantai atas, Dr Kanno menyaksikan betapa air laut telah menyapu semua rumah. Dia segera kembali ke lantai satu, dan menyaksikan semua orang telah hilang.

Sampai dua hari kemudian (13 Maret), beliau masih gigih membantu pasien. Ketika helikopter penyelamat tiba, dia memberangkatkan semua pasien ke RS lain. Setelah semua pasien telah diamankan, dia pun berangkat. Dia menjadi orang terakhir yang terbang.

Pada 14 Maret itu, beberapa jam setelah ia mendarat dari helikopter, ia mendampingi istrinya yang melahirkan anak mereka yang kedua. Bayi laki-lakinya diberi nama Rei (artinya kebijaksanaan dalam menghadapi cobaan hidup).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s