Obituari: Affandi Abdul Rahman


Matsushita san, bekas insinyur sipil yang pernah membangun dam di Wlingi – Blitar pada 1977, memperlihatkan sebuah foto orkestra. Di foto itu, dia menunjuk seorang pemuda yang tengah memegang cello di antara puluhan musisi klasik yang berjajar rapi. Itu anak lelakinya. Dia bangga bahwa anaknya bermain musik secara profesional (meski agaknya ia terselip di antara kerumunan yang akhirnya membuatnya jadi anonim).

Namun satu hal: di  Jepang, musik adalah profesi yang serius.

Musik tak hanya soal bermain instrumen atau menulis lagu indah. Musik melahirkan sikap menghargai nada, irama, syair, suasana dan aliran. Aspek-aspek itu tidak hanya lahir, tetapi juga berkembang. Oleh karena itu, sekolah musik di Jepang (seperti di kawasan Kunitachi) bukan hanya bisnis biasa: ia industri yang membentuk manusia.

Seorang guru musik terkenal di Jepang adalah Shin-ichi Suzuki (1898 – 1998). Ia pemain biola terkemuka yang metodenya pernah menimbulkan kontroversi: Metode Suzuki. Metode ini berpandangan bahwa kreativitas dalam bermusik harus dibina sejak belia dalam lingkungan yang penuh dengan musik. Telinga anak harus dibiarkan menyerap musik setiap hari. Metode Suzuki kini populer tidak hanya di Jepang saja, tapi juga negara-negara lain.

Seorang yang cukup berkesan dalam membicarakan musik pernah saya jumpai di Singapura. Beliau adalah mantan pemain band Melayu 1960-an: Affandi Abdul Rahman. Saya kenal dengan Pak Fandi karena beliau adalah ayah dari seorang kawan, yang kamarnya saya sewa di bilangan Cashew Road, Bukit Panjang. Pak Fandi adalah bekas penggebuk drum grup The Swallows.  Beliau meninggal pada 27 April lalu di usia 71 tahun. Beberapa hari sebelumnya, dia terkena stroke yang menimbulkan pendarahan otak (sepertinya stroke hemorrhagic).

The Swallows, Affandi posisi duduk (kiri), Affandi 2010 (kanan)

The Swallows Live in Munich

Bagi generasi 1960-an di Singapura, nama almarhum cukup populer. Pada dekade itu, musik yang populer di Singapura adalah Pop Yeh Yeh, sebuah aliran musik yang dipengaruhi musik pop Amerika Serikat. Band dari generasi Pop Yeh Yeh kadang-kadang disebut garage band.

Karena saya menyukai musik, saya pun ngobrol dengannya tentang perkembangan musik 1960-an dan musik di Singapura. Dari ngobrol itulah saya merasakan satu hal: beliau orang yang halus budinya.

Kata-kata Shin-ichi Suzuki memang ada benarnya:

Musik membentuk warga yang baik

Untuk mencapainya, seseorang harus mendengar musik sejak dini, belajar memainkan alat musik sendiri (secara otodidak), sehingga ia mampu mengembangkan kepekaan, disiplin dan ketahanan. Pada akhirnya, seseorang mendapatkan jiwa nan indah.

Almarhum, yang saya biasa panggil ‘Bapak’, mempelajari musik, khususnya drum, sejak kecil. Karena ayahnya sangat disiplin terutama dalam hal agama, Bapak hanya diperbolehkan main musik setelah mengaji. Jika mengaji belum selesai Bapak tidak akan belajar drum. Jadi, pesan pertama dari beliau adalah agama harus diutamakan dan mendahului kesenangan pribadi lainnya, seperti musik.

Pesan kedua beliau adalah dalam bermusik kita tidak boleh setengah hati. Ini berarti bahwa dalam bermain instrumen kita tidak dapat mengerjakannya kapan-kapan sesuka hati. Bermusik berarti mempelajari instrumen secara individu setiap hari. Sekali lagi: setiap hari! Musik mirip bahasa. Jika kita tidak berlatih setiap hari kita tidak akan kompeten.

Hal ketiga adalah kritik terhadap generasi Melayu hari ini. Dikatakannya, meskipun kita melihat banyak pemuda Melayu di Singapura bermain musik, mereka umumnya punya kelemahan – tidak pandai membaca skor musik (partitur). Beliau menambahkan bahwa musik yang baik tidak akan ditampilkan oleh para pemain band yang bermain musik dengan hanya mendengar (lalu dihafalkan). Ini karena musik yang baik biasanya dimulai dari disiplin membaca partitur bersama-sama, dan berimprovisasi dari partitur itu berdasarkan kreativitas. Intinya: sebuah grup yang baik harus mempelajari partitur sebagai acuan.

Hal keempat adalah bermusik berarti menciptakan karya musik, tidak hanya memainkan musik orang lain. Pada mulanya, orang bisa saja berlatih memainkan musik orang lain, tetapi bukan itu tujuan dari bermusik. Bermusik berarti menciptakan karya besar.

Pernah suatu hari, karena saya tahu bahwa Bapak berasal dari Pulau Bawean (atau Boyan), saya mengajaknya berbicara dalam bahasa Madura (yang saya rasa agak mirip). Ketika ngobrol, ternyata ada banyak perbedaan antara bahasa Bawean dengan bahasa Madura. Namun, saya dapat mengerti kalimat-kalimatnya. Selain fasih berbahasa Inggris dan Melayu, Bapak tidak lupa bahwa beliau berasal dari Bawean, dan terus mengingat bahasanya. Meskipun akhirnya beliau mengakui bahwa bahasa Baweannya kini jauh dari sempurna, beliau pernah mengarang lagu berbahasa Bawean saat bersama The Swallows. Judulnya Angkok-Angkok Bilis (Injit Injit Semut) dan La Obe, yang dinyanyikan Kassim Selamat. Dua lagu ini diciptakannya bersama musisi lain, Yusof Rahmat. The Swallows merilis lagu itu agar band ini nampak berbeda dari band lain.

Demikian empat hal tentang musik yang saya ingat dari almarhum. Singapura, khususnya warga Melayu, telah kehilangan seorang perintis musik semasa Pop Yeh Yeh 1960-an. Mudah-mudahan arwahnya diterima Allah SWT dan keluarga beserta anak-anaknya mendapat rahmat Ilahi. Terima kasih, Bapak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s