Fudai


Cerita tentang gelombang tsunami (gelombang pelabuhan) barangkali tidak ada habisnya. Tsunami tidak hanya ditakuti di Jepang (tempat asal kata ini) tapi juga seluruh dunia. Gelombang tsunami bisa mencapai tinggi 30 meter, dan efeknya luar biasa: musnahnya manusia dalam sekejap.

Pada 11 Maret lalu, beberapa jam setelah gempa besar 9.0 magnitude, saya menyalakan televisi NHK. Saya melihat gelombang tsunami menyapu rumah-rumah. Pada saat itu juga saya berandai-andai: Kalau saja seluruh pantai timur Jepang mempunyai pelindung raksasa …

Pelindung ini dapat berupa dinding beton yang tinggi, dan dapat dinaikkan setidaknya 15 meter. Dalam hitungan menit pula, dinding harus melindungi kota dari tsunami. Dengan pelindung ini, mungkin ribuan nyawa dapat diselamatkan.

Ah seandainya …

Tapi minggu lalu saya harus mengakui satu hal: Jepang memang visioner dalam teknologi!

Dinding beton itu ternyata bukan angan-angan belaka. Ia sudah pernah dibangun di Jepang pada akhir 60an. Dinding ini dibangun dengan alasan yang sederhana: “tsunami pasti terjadi lagi”. Tsunami selalu datang mengikuti gempa besar, dan ia di luar kendali manusia. Manusia hanya dapat berlindung atau lari saja.

Dua gempa besar yang paling dahsyat dalam sejarah Jepang adalah Gempa Meiji-Sanriku dan Gempa Sanriku. Kedua gempa ini  terjadi di wilayah Iwate. Wilayah ini merupakan epicenter gempa pada 11 Maret lalu.

Gempa Meiji-Sanriku yang berkekuatan 7.8 magnitude terjadi pada 15 Juni 1896. Gempa ini menyebabkan gelombang tsunami setinggi 38.2 meter. Tsunami yang terbentuk lalu menghancurkan 9,000 rumah, dan merenggut 22,066 nyawa.

Pada 2 Maret 1933, gempa terulang di wilayah yang sama. Gempa Sanriku berkekuatan 8.4 magnitude memicu gelombang tsunami setinggi 28.7 meter. Tujuh ribu rumah hancur. Yang meninggal lebih sedikit sebenarnya: ‘hanya’ 1552 orang. Namun itu belum termasuk 1,542 orang yang dinyatakan hilang, dan 12,053 yang cedera. Kota kecil bernama Tarou (sekarang bagian dari Miyako City) kehilangan 42% penduduknya.

Seseorang yang pernah menulis tentang Gempa Sanriku 1933 adalah Kotaku Wamura. Dalam buku berjudul “40 Tahun Melawan Kemiskinan”, Wamura yang berasal dari desa Fudai menulis:

Tatlaka aku melihat mayat digali dari tumpukan tanah, aku tak tahu harus berkata apa. Aku kehabisan kata-kata.

Dua tsunami pada 1896 dan 1933 itu telah merenggut 439 penduduk desanya. Itulah sebabnya mengapa tsunami merupakan keniscayaan bagi Wamura.

Setelah Perang Dunia II usai, Wamura menjadi kepala desa di Fudai. Seperti yang ditulis oleh Tomoko A. Hosaka (Associated Press), ketika pertama kali menjadi kepada desa, Wamura memulai dua proyek besar.

Pertama, ia membangun dam laut (sea wall) setinggi 15.5 meter di belakang pelabuhan nelayan pada 1967. Kedua, yaitu pada 1972, ia membangun lagi satu dam raksasa. Dam ini memiliki dua fungsi: mengalirkan air dari sungai ke teluk kecil, dan melindungi penduduk dari tsunami.

Kala itu, uang relatif mudah didapat karena pemerintah Jepang mengucurkan dana untuk pembangunan kota-kota kecil. Untuk menutupi kekurangannya, Wamura mengumpulkan uang dari penduduk desa dan wilayah di Iwate lainnya.

Penduduk yang memiliki tanah di pantai dipaksa menjual tanahnya. Wamura dengan cepat meratakan tanah-tanah pantai. Tentu sebagian penduduk merasa marah karena tanah-tanahnya dibeli paksa. Sebagian dari mereka malah menentang mega-proyek itu. Pada 1970an, dam sepanjang 205 meter itu dianggap terlalu besar. Lagipula, pembangunannya juga menghabiskan dana lebih dari Rp. 260 milyar.

Jika dibandingkan dengan dinding pelindung di daerah Tarou, dam di Fudai lebih tinggi. Di Tarou, dindingnya hanya setinggi 10 meter. Namun dinding di Tarou itu terbentang sejauh 2500 kilometer sepanjang teluk.

Mereka yang menentang proyek Wamura sebenarnya hanya menentang ukurannya saja, bukan fungsinya. Namun demikian, Wamura selalu berhasil meyakinkan penduduk bahwa dam itu untuk melindungi mereka karena tsunami pasti terjadi lagi.

Proyek dam raksasa pun tetap berjalan, dan selesai pada 1984. Tiga tahun kemudian, Wamura pensiun sebagai kepala desa setelah 10 kali dipilih. Desa Fudai kini siap ‘menyambut’ tsunami.

Dua puluh tujuh tahun setelah dam dibangun, yaitu 11 Maret 2011, gempa berkekuatan 9.0 magnitude terjadi di Iwate. Dalam tiga menit, informasi tsunami tersebar ke penjuru negeri, termasuk ke desa Fudai. Petugas segera menutup empat pintu dam. Satu pintu sempat macet, tidak bisa ditutup secara otomatis. Seorang petugas turun ke dam, dan menutupnya secara manual.

Gelombang tsunami pun datang beberapa menit kemudian. Desa Fudai dihantam gelombang setinggi 20 meter. Pantai Fudai yang indah di depan dam kini musnah. Tapi 3078 orang penduduk Fudai yang tinggal di balik dam itu bersih, tak tersentuh. Penduduk kemudian teringat Wamura yang meninggal pada 1997.

Visi dan kegigihan Wamura empat puluh tahun silam telah menyelamatkan nyawa mereka dari tsunami. Pusaranya sering dikunjungi penduduk Fudai untuk mengucapkan terima kasih. Ketika semua penduduk pantai timur Jepang, khususnya Iwate, Miyagi dan Fukushima, tersapu tsunami, penduduk Fudai tetap beraktivitas secara normal.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s