Ginjal


Dr Toshinobu Horiuchi (55 tahun) adalah dokter di sebuah klinik di kawasan Edogawa, Tokyo. Lebih dari dua dekade ia memberi layanan kesehatan kepada penduduk di kawasan itu. Kliniknya adalah peninggalan ayahnya yang juga seorang dokter. Sayangnya, enam tahun terakhir ini bisnis kliniknya kurang bagus. Ia terkena sakit ginjal sejak 2005. Dr Horiuchi lalu menjalani hemodialisis (cuci darah).

Di Jepang, ada 300.000 pasien ginjal yang menjalani cuci darah. Pada 1997 penderita sakit ginjal di Jepang masih 180,000. Namun, pola makan dan minum membuat angkanya naik hampir dua kali lipat dalam 14 tahun terakhir.

Ongkos cuci darah sangat mahal di Jepang. Pasien ginjal harus mengeluarkan 5.3 juta yen dalam setahun. Untungnya, pemerintah Jepang menanggung hampir semua ongkos itu melalui Asuransi Kesehatan Nasional. Pasien hanya membayar 100.000 yen dalam satu tahun. Namun, pasien ginjal di Jepang cenderung memilih transplantasi organ daripada cuci darah. Cuci darah dirasa sangat menyiksa dan perlu dilakukan berkali-kali.

Transplantasi organ (selain kornea mata) adalah pengobatan yang radikal di sini. Jadi, transplantasi hanya bisa dilakukan melalui Jaringan Transplantasi Organ Jepang (Japan Organ Transplant Network).

Ada setidaknya 12,140 pasien ginjal yang sedang menunggu operasi transplantasi ginjal baru. Sayangnya, tahun lalu, hanya 10% saja yang bisa mendapatkan ginjal. Dari sekitar 1,200 pasien itu, 209 mendapat ginjal dari pasien lain yang otak atau paru-paru orang itu tidak berfungsi lagi. Sekitar 1,000 pasien mendapat ginjal dari donor yang masih hidup.

Hukum Jepang mewajibkan donor yang masih hidup haruslah anggota keluarga sendiri, misalnya, anak, istri atau saudara dekat lainnya. Kondisi ini membuat banyak pasien ginjal asal Jepang pergi ke luar negeri untuk menjalani transplantasi organ.

Orang Jepang biasanya pergi ke Cina untuk transfer organ karena biayanya lebih murah. Di Cina, biaya transplantasi organ adalah 7 juta yen termasuk tiket pesawat, hotel dan 20 hari perawatan di Guangzhou di selatan Cina. Namun, Cina melarang transplantasi organ untuk wisatawan sejak 1 Mei 2007.

Dr Horiuchi pergi ke Filipina pada 2008 dengan harapan mendapat ginjal baru. Namun, nasibnya kurang baik. Belum sempat ia mendapat organnya, hukum Filipima melarang orang asing menjalani operasi transplantasi organ di negara itu.

Dr Horiuchi pulang dengan tangan hampa. Karena kecewa, pada 2008 ia dan istrinya mencari ginjal di pasar.

Pada 2009 mereka bertemu Kauzhisa Takino (50 tahun) seorang anggota Yakuza. Takino berjanji akan memberi Dr Horiuchi ginjal setelah mendapat bayaran 10 juta yen. Tiga donor diperkenal kepada Dr Horiuchi. Dr Horiuchi kemudian memerika mutu tiga ginjal di kliniknya sendiri. Dari tiga ginjal itu, Dr Horiuchi memilih ginjal milik bekas gangster bernama Fumihiko Sakagami (48 tahun) teman Takino.

Karena tahu bahwa transplantasi ginjal hanya bisa dilakukan dalam satu keluarga saja, maka Dr Horiuchi mengambil Sakagami sebagai anak angkat. Namun, dua bulan sebelum transplantasi organ, Takino meminta 10 juta yen lagi dari Dr Horiuchi.

Dr Horiuchi menolak dan membatalkan transplantasi organnya. Ia mencari ginjal dari orang lain.

Akhirnya, ia mendapat ginjal dari pemuda berusia 20-an tahun yang berasal dari wilayah Saitama, utara Tokyo. Ia mengeluarkan 10 juta yen untuk membeli ginjal itu.

Pada Juli tahun lalu, Dr Horiuchi berhasil menjalani operasi transplantasi ginjal di Rumah Sakit Uwajima Tokushukai.

Setahun pun berlalu.

Pada 24 Juni lalu lima orang ditangkap polisi. Mereka adalah Dr Toshinobu Horiuchi dan istrinya, Noriko Horiuchi, Kazuhisa Takino, Fumihiko Sakagami dan Hitomi Sasaki (teman serumah Sakagami).

Dr Toshinobu Horiuchi

Kasus ini menjadi sorotan masyarakat Jepang karena perdagangan ginjal ini dilakukan oleh seorang dokter dan melibatkan anggota Yakuza, gangster terkenal Jepang. Kasusnya kini diproses di pengadilan Tokyo.

Dalam buku Yakuza Japan: Criminal Underworld (2003) penjualan ginjal biasanya disebabkan desakan sarakin (kreditor ilegal) pada peminjam uang. Sarakin akan menyuruh penghutang yang tidak sanggup membayar utang agar menjual apa saja termasuk ginjal. Sebuah ginjal dihargai 2.3 juta yen.

Pemerintah Jepang melarang warga Jepang mendapat ginjal dari mereka yang bukan saudara. Ini salah satu sebab mengapa warga Jepang kadang mengambil jalan pintas untuk pengobatan dirinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s