Matsumoto


Kurang lebih empat bulan setelah tiga wilayah di utara Tokyo – Iwate, Miyagi dan Fukushima – dilanda gempa dan tsunami pada 11 Maret lalu, Perdana Menteri Naoto Kan menunjuk Ryu Matsumoto sebagai Menteri Rekonstruksi Wilayah Bencana. Matsumoto saat itu menjabat Menteri Lingkungan Hidup. Pelantikan sebagai menteri baru itu diadakan pada 27 Juni 2011.

Matsumoto ditugaskan mempercepat perbaikan infrastruktur: jalan raya, kantor, sekolah, rumah sakit dan perumahan penduduk. Ia juga harus memulihkan kembali ekonomi tiga daerah itu.

Seminggu kemudian, Matsumoto hendak bertemu dengan gubernur prefektur Miyagi, Yoshihiro Murai, di kantor gubernur. Tak disangka, ketika Matsumoto masuk ruang rapat, gubernur Murai belum ada di ruangan. Matsumoto merasa kecewa karena Murai dinilai kurang tepat waktu. Padahal, Matsumoto lah yang sebenarnya datang terlalu awal.

Beberapa menit kemudian, Murai masuk ke ruang rapat dan hendak bersalaman dengan Matsumoto. Karena kesal, Matsumoto tidak menyambut jabat tangannya. Alih-alih, ia mempersilakan Murai untuk duduk.

Setelah menerima dokumen-dokumen rencana pembangunan dari Murai, Matsumoto mulai mengekspresikan kekecewaannya. Matsumoto menyatakan bahwa dokumen-dokumen itu harusnya disusun dengan baik. Jika Murai tidak melakukannya, pemerintah Jepang tidak akan membantu pembangunan di wilayah itu, begitu ujarnya.

Pernyataan ini sungguh membuat penduduk Jepang marah, terutama mereka di Miyagi. Di tengah-tengah bencana itu, ada saja menteri yang menolak memberikan bantuan karena dirinya kecewa.

Sayangnya, Matsumoto tidak berhenti mengeluh. Ia terus mengungkapkan kekecewaannya. Ia menyatakan kecewa karena harus menunggu tuan rumah beberapa menit. Ia berandai-andai: jika saja Murai pernah bergabung dengan Tim Pertahanan Jepang (Self-Defense) dan memahami arti senioritas, kesalahan semacam itu tidak akan pernah terjadi.

Setelah menyatakan kekecewaannya itu, Matsumoto mengatakan kepada wartawan bahwa kata-kata terakhirnya itu off-the-record. Ia mengancam apabila ada kantor berita yang menyiarkannya, kantor itu akan ditutup.

Pada zaman Internet ini, aliran berita sulit diredam. Siapa saja bisa masuk berita. Kapan saja.

Tidak lama kemudian, tindakan dan kata-kata Matsumoto tersiar ke seluruh Jepang (dan dunia tentunya) melalui situs http://www.youtube.com. Beberapa stasiun televisi juga menyiarkan secara penuh ucapan Matsumoto.

Jepang memang disiplin dalam hal waktu, dan menteri atau orang lebih tua memang selalu dihormati. Namun, kata-kata Matsumoto berada di luar konteks, dan kurang memberi simpati kepada korban tsunami.

Efeknya pun cepat terasa. Ucapan Matsumoto yang kontroversial itu digunakan partai-partai oposisi, terutama Partai Liberal Demokratik (LDP), untuk menjatuhkan kabinet Naoto Kan. LDP memandang Naoto Kan tidak pandai memilih menterinya Karena itu, Sekretaris Jenderal LDP, Nobuteru Ishihara, menuntut Kan agar mengundurkan diri dengan segera.


Partai Demokratik Jepang (DPJ) pimpinan Naoto Kan pun bertindak cepat. Sehari kemudian, Matsumoto mengadakan konferensi pers. Ia menyampaikan permohonan maaf secara terbuka karena telah melukai hati korban tsunami dengan sikap dan perkataannya yang kasar. Ia juga mengundurkan diri dari jabatan menteri padahal beliau pernah termasuk anggota parlemen dengan pendapatan tahunan terbesar di Jepang. Pendapatannya pada tahun 2009 adalah 86.16 juta yen.

Kan menerima surat pengunduran diri Matsumoto, dan menggantinya dengan Tatsuo Hirano, 57 tahun, yang juga wakil Matsumoto. Hirano, yang berasal dari Iwate, diharapkan akan lebih menaruh simpati kepada korban tsunami. Namun demikian, Hirano sebenarnya menyayangkan keluarnya Matsumoto dari kabinet. Ia merasa Matsumoto telah bekerja keras dalam membuat rencana pembangunan wilayah bencana. Sayangnya, rencana tinggal rencana ketika sikap tidak dijaga.

Yang lebih penting sebenarnya adalah anggaran 2 triliun yen untuk pembangunan ketiga wilayah itu mudah-mudahan disetujui parlemen pada 15 Juli ini. Mudah-mudahan siapa pun menterinya, dia bisa menyelamatkan puluhan ribu orang yang kini hidup tanpa rumah.

Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s