Arubaito


Di Jepang, kerja paruh waktu disebut arubaito (dengan katakana, ini ditulis: アルバイト). Arubaito berasal dari bahasa Jerman, yaitu arbeit (kerja). Arubaito boleh dilakukan siapa saja, asal usianya di atas 16 tahun (barangkali). Pekerja arubaito digaji per jam. Di Hino-shi, Tokyo, gaji arubaito sekitar 800 yen/jam. Kalau di Shinjuku, katanya bisa mencapai 1200 yen/jam. Lewat dari jam 6 sore, gaji arubaito naik 20%.

Kalau saya ditanya apakah saya arubaito. Saya selalu jawab tidak. Legalnya memang demikian. Padahal saya juga  “arubaito”, tapi hanya berupa mengirim artikel koran. Dan, dikirimnya tidak di koran Jepang. Bayaran dari koran itu saya gunakan membayar asuransi anak. Jika dapat tambahan, kadang saya pakai untuk mengirimi saudara.

Beberapa teman mahasiswa Jepang ada yang arubaito. Arubaito diijinkan oleh universitas maksimum 10-15 jam per minggu. Artinya, mereka hanya kerja 2-3 hari per minggu. Rasanya terlalu pendek, tetapi universitas tidak ingin mereka terlalu konsentrasi ke pekerjaan. Mahasiswa Indonesia yang dapat beasiswa tertentu tidak diperbolehkan arubaito. Dengan arubaito ini, uang saku tentunya jadi bertambah. Kalau irit, uang hasil arubaito bisa dibuat membayar sewa kamar. Kalau boros, misalnya sering ikut minum-minum (nomikai), maka keringat (H2O et al) jerih payah arubaito hanya berubah jadi alkohol saja (C2H5OH). He he.

Tapi dua minggu lalu saya dapat panggilan buat arubaito di kampus. Kaget juga karena arubaitonya adalah jadi panitia seminar di kampus. Seminar ini rata-rata yang datang orang Jepang. Praktis, kemampuan bahasa Jepang harus bagus. Padahal bahasa Jepang saya level-nya masih survival. Tapi akhirnya saya datang juga ke briefing arubaito. Tugas saya sederhana: angkat-angkat barang dan jaga stand. Jaga saja, tapi mungkin tidak ngomong. Arubaito mulai jam 10:00 dan selesai jam 17:00. Saya juga dapat kupon makan siang seharga 300 yen. Arubaitonya untungnya tidak full time. Banyak istirahatnya. Setelah selesai, jam 17:00 saya ke meja panitia. Di sana, arubaito dipanggil satu-satu dan diberi amplop setelah membubuhkan tanda tangan atau hanko/inkan (orang Jepang memakai stempel merah untuk tanda tangannya). Setelah saya buka, amplopnya berisi 6,700 yen. Kemungkinan, ini 1000 yen/jam, dan dikurangi kupon makan siang. Lumayan. Uang ini lalu saya tabung. Hasil arubaito (legal) pertama di Jepang!

Ada hal penting lainnya. Dari arubaito ini, kosakata Jepang saya nambah karena harus mendengarkan instruksi ketua panitia. Saya nanya-nanya sama teman Jepang. Dia menjelaskan artinya. Dari arubaito ini pengetahuan kanji saya juga meningkat. Jadi, jika anda ditawari arubaito atau kebetulan sekolah di Jepang dan diijinkan arubaito, arubaito lah! Jangan ditunda. Dari arubaito ini, selain dapat uang saku, anda juga lebih pandai berbahasa Jepang (atau karena terpaksa juga kali ya). Tapi jangan berlebihan, misalnya menerima tawaran kerja permanen di sana. Gajinya biasanya kecil, dan kuliah jadi keteteran.

One thought on “Arubaito

  1. Kalau mau arubaito, selain ijin dari sensei dan kampus, jangan lupa minta ijin ke imigrasi… nanti dikasih tempelan di paspor.

    Kalo dari pemerintah sih batasnya (kalau tidak salah) 20 jam seminggu.

    ari3f: siap pak !

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s