Empat Hal


Saya tidak menyangka bahwa tulisan “Jepang Tidak Mengubah Kita” ditanggapi orang. Bahkan teman yang sedang liburan di Jakarta pun mengirim pesan. Efek dari tulisan itu sedikit hay-wire. Padahal, tulisan itu untuk saya sendiri; sebagai refleksi, bahwa jika saya ada di posisi mereka, saya berusaha berubah. Seperti yang ditulis sebelumnya:

Inti dari tulisan ini adalah jalan menuju perubahan. Kita harus menemui persimpangan dengan banyak pilihan dulu sebelum tahu tujuan kita. Dalam memilih, kita mungkin melakukan kesalahan seperti yang disebut di atas. Namun, masih ada waktu untuk berubah. Tuhan masih berbaik hati memberikan nafas dan rizki lain yang baik. Tahun ini kita harus berubah. Tinggalkan keburukan di 2011.

Saya tidak apologetik, apalagi berusaha jadi protagonis. Bagi saya orang baik hanya ada di komik, tidak di dunia ini. Nietzsche yang pernah jadi murid Schopenhauer juga memahami ini. Menjadi Hegelian di Berlin kala itu bukan pilihan Schopenhauer atau Nietzsche. Menjadi orang berpihak di satu sisi, bahkan pihak yang kritis, adalah sisi yang lumrah. Ia adalah pilihan.

Tulisan yang baik, konon, adalah tulisan yang menggerakkan. Oleh sebab itu, Das Kapital yang murni buku filsafat dan ekonomi menggerakkan orang untuk berubah melawan kapitalisme yang menggerogoti Eropa. Tapi memang ada euforia di sana. Yang repot, euforia itu juga diderita mereka yang berseragam jenderal dan berbedil. Ketika militer turut menderita euforia Das Kapital, Marx mungkin jadi murung. Ia lalu berkata: “Aku tidak se-Marxis yang dikira”. Tapi Marx tidak apologetik terhadap tulisannya sendiri. Ia pergi ke Perancis untuk menghadiri rapat partai komunisme yang gegap gempita di sana.

Tulisan yang baik, konon, juga bukan hasil asumsi atau konon-kabarnya (hearsays). Tulisan saya sebelumnya, yang ramai mendapat tanggapan, adalah bagian tentang ramainya pojok Indonesia di lembaga penyiaran. Ada empat hal yang ingin disampaikan di sini:

  • Tentang kebisingan. Ketika saya mengambil kuliah Aircraft Loads, saya memahami fatalnya acoustic fatigue. Ini adalah fenomena lelahnya sebuah panel di struktur pesawat yang mengakibatkan terlepasnya panel tersebut. Sumber dari kelelahan ini adalah noise atau kebisingan. Kebisingan itu ada ukurannya. Katakan, dalam satuan dB (decibel). 100 dB tentu memekakkan telinga. Kebisingan itu juga punya frekuensi dan keterjadian: seberapa sering dia terjadi dan kapan saja. Untuk mengkuantifikasi kebisingan suatu mesin, kita tinggal tancapkan acoustic emission sensor dan mengukur secara berkala. Lalu kita simpulkan. Bising atau tidak bising, berisik tidak berisik, ditentukan dari pengukuran itu. Ada yang mengatakan satu kelompok itu berisik, ada yang mengatakan tidak. Ada yang mengatakan kelompok A lebih bising dari kelompok B. Bagaimana mendamaikan ini? Ya harus diukur dan dibandingkan. Jika tidak maka ia jadi relatif. Berisik adalah masalah relativitas sehingga ada orang yang akhirnya membeberkan data. Misal: dalam setahun, kelompok A selalu berisik pada hari Sabtu, dan ini berulang hingga 52 minggu. Itu jika di-plot dalam time-domain. Jika di-plot dalam frequency-domain maka kita bisa tahu berapa magnitude tertinggi dan berapa frekuensinya (ref: Control System). Karena saya tidak melihat (baca: mengukur) sendiri level kebisingan di pojok Indonesia di lembaga penyiaran itu, maka saya tidak tahu level kebisingannya. Dan saya tidak tahu apakah pojok itu lebih berisik/tenang daripada yang lain atau tidak. Saya percaya saja jika ada yang mengatakan bagian itu berisik. Tetapi saya harus memeriksanya sendiri; mengukurnya secara berkala. Sayangnya ini bukan problem di pesawat terbang. Jadi saya tidak berminat untuk mengukur.
  • Tentang asumsi. Tulisan saya tidak menyebut nama lembaga. Ia anonim. Orang memang jadi berasumsi; dengan asumsi pula mereka berargumen. Ini menggelikan. Karena argumen yang berasal dari asumsi itu pasti lemah. Sebelum adu argumen sebaiknya diluruskan dulu, itu lembaga apa sih. Tentu saya tidak akan memberi jawaban karena adalah hak saya untuk merahasiakan. Hak anda juga untuk berasumsi. Tetapi ketika tidak ada kesepakatan tentang nama lembaga atau nama orang, maka argumen tinggallah kenangan. Masing-masing orang jadi bertanya-tanya terus. Kami kah itu? Itu si A ya? Yah, mana saya tahu …
  • Pojok Indonesia? Siapa itu? Di mana mereka? Tidak ada yang tahu.
  • Lembaga penyiaran di Jepang? Siapa itu? Di mana mereka? Tidak ada yang tahu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s