Obituari: Dr H Goenawan Nambar (2)


1

Kadang kala, jika suami-istri memiliki tiga anak biasanya anak tengah kurang diperhatikan. Padahal, setiap anak memerlukan perhatian yang cukup sedangkan ayah-ibu jumlahnya hanya dua. Ayah memperhatikan adik/kakak, ibu memperhatikan kakak/adik. Anak tengah akhirnya diperhatikan orang terdekat lain, misalnya kakek/nenek, pembantu rumah atau kawan sebaya. Efek dari kurangnya perhatian orangtua terhadap anak tengah di luar dugaan, dan sering tidak disadari oleh kebanyakan orangtua. Misalnya, timbulnya rasa rendah diri (minder dan tidak percaya diri), pendiam, dan berontak. Rendah diri menyebabkan si anak tidak berprestasi atau kurang pandai menyampaikan pendapat; pendiam menyebabkan si anak tidak memiliki banyak teman; berontak menyebabkan si anak menjadi anak yang nakal.

Mungkin karena papa membaca buku psikologi, kurangnya perhatian yang diperoleh si tengah ini disadari oleh papa sejak awal. Papa memutuskan untuk memberikan perhatian lebih kepadaku. Kakak dianggap cukup mandiri, adik diasuh oleh mama. Salah satu yang dilakukan papa adalah mengajak aku jalan-jalan berdua. Ke mana saja dan melakukan apa saja yang penting berdua. Ini membentuk ikatan yang kuat antara aku dengan papa, dan sedikit banyak mewarisi cara-cara berpikir dia. Tidak semua dapat aku tiru karena kita memang beda jaman, beda karakter, beda minat dan keinginan. Tapi pergi berdua dengan anak adalah cara jitu untuk membangkitkan kembali rasa percaya diri anak. Dan, ini harus dilakukan sejak dini.

2

Perjalanan berdua kami yang pertama sangat “berkesan”. Ia meninggalkan luka permanen (dalam arti yang sesungguhnya). Beberapa jahitan di pipi dan paha. Tapi setelah perjalanan ini, kami jadi semakin dekat. Ceritanya begini: pada bulan Mei 1984, papa mengajak aku pergi ke Jember. Ini mungkin outing pertamaku dengan papa. Adikku sebenarnya diajak juga, tapi dia ingin di rumah saja. Akhirnya kami pergi berdua, naik mobil dinas ambulans Hiace. Papa menyetir sendiri mobil Hiace itu, dan aku duduk di kiri. Persnelingnya ada di dekat setir mobil, jadi agak menyulitkan papa yang terbiasa menyetir mobil dengan persneling sejajar kursi. Di siang hari yang mendung itu, ketika sampai di desa Suko Jember, mungkin 17 km dari Bondowoso (jarak Bondowoso – Jember: 33 km) mobil melewati belokan. Ban kiri depan masuk ke kubangan, dan mendadak papa kehilangan kendali. Ketika setir dibelokkan ke kiri, mobil berbelok ke kanan. Ketika setir dibanting ke kanan, mobil berbelok ke kiri. Orang bilang keadaan seperti itu namanya selip. Tapi secara teknis, T-rod di bagian bawah setir tidak bisa berpindah sehingga fungsinya tidak sempurna.

Mobil ambulans Hiace yang oleng kanan-kiri itu tidak berjalan kencang, mungkin 50 km/jam. Di depan kami ada truk yang mengangkut tebu. Truk menyadari bahwa mobil kami oleng, jadi dia melambatkan diri. Ketika mobil kami berbelok ke kanan, dan masuk jalur kanan truk membanting setir ke kiri. Jadilah bagian kiri mobil kami menabrak bagian depan truk. Tabrakannya aku rasakan cukup kencang, apalagi aku tidak memakai sabuk pengaman. Tapi sesaat sebelum tabrakan itu, aku menyadari bahwa tabrakan akan terjadi. Jadi aku perlahan bergeser ke kanan, mendekati posisi papa. Sayangnya, agak terlambat, bagian kiri mobil ringsek dihantam moncong truk. Perutku menghantam dashboard, pecahan kaca menghambur ke seluruh tubuh kami, kepala papa terbentur frame window depan mobil. Dahi kanan papa benjol besar sekali, mungkin sedikit berdarah karena pecahan kaca. Sedangkan, aku lemas tak berdaya.

Kondisiku lebih parah dari papa. Serpihan kaca menyayat paha kiriku (aku memakai celana pendek waktu itu), tepi bibir, alis, pipi, dagu, tangan dan lainnya. Untungnya tidak ada yang masuk ke mata. Aku berdarah-darah dan kesulitan bernafas. Aku hanya berkata: “Pa, aku nggak bisa nafas… aku ngga kuat …” Mungkin ini semacam near-death experience. Sungguh sulit bernafas, dan aku sesekali berfikir bahwa waktuku di dunia ini sudah habis. Tapi papa menguatkan aku: “Yang kuat le …” Papa segera membopong aku ke luar mobil, dan mencegat mobil pick-up L300 warna coklat tua yang kebetulan lewat. Mobil pick-up segera meluncur ke rumah sakit Bondowoso sekencang mungkin. Diperlukan waktu 15 menit kira-kira. Selama 15 menit pula aku berusaha bernafas. Tapi mungkin aku pingsan.

Sesampai di RS Bondowoso, kereta dorong segera menghampiriku. RS agak chaotic waktu itu. Suster dan dokter berhamburan ke pintu depan. Mereka dengan sigap membawaku ke ruang operasi. Di sana, aku berpisah dengan papa. Aku juga sempat melihat almarhum eyang putri (Ircham) menangis sambil berteriak-teriak “Cucuku … cucuku ….!”. Suster-suster memeganginya, dan mendudukkannya di kursi roda. Dokter dan perawat segera melakukan operasi. Aku lupa nama dokternya, mungkin Dokter EB Satoto. Dokter menyentuh perutku yang kembung. Ia lalu memotong bajuku, dan mulai menyuntikkan bius lokal. Dia menyemangatiku supaya kuat. Aku tidak menangis, hanya meringis menahan nyeri ketika dokter membersihkan dan menjahit luka-lukaku.

Beberapa jam kemudian, aku sudah ada di kamar tidur pasien. Beberapa orang datang menjenguku, ada mama, adik, kakak. Beberapa saat kemudian aku lihat papa, yang bagian kepalanya diperban. Adikku membawa robot-robotan. Mungkin itu hadiah buatku. Semalaman aku tidak tidur. Ruangan itu serba putih, dan aku tidak suka suasana rumah sakit. Agak menyeramkan, takut-takut ada pocong nongol di jendela. Oleh karena itu, aku ingin pulang. Besoknya aku minta pulang dan dirawat di rumah saja. Besoknya aku dibolehkan pulang. Setiap hari aku memakai sarung karena jahitan di pahaku cukup panjang, sehingga sulit memakai celana pendek. Wajahku penuh tembelan perban. Aku didudukkan di kursi ruang tamu supaya selonjoran. Beberapa hari kemudian ada Bu Murtinah, teman papa-mama yang cukup sepuh. Dia mungkin ketua veteran (pejuang angkatan 45) wanita di Bondowoso. Dia memberiku uang Rp 10 ribu rupiah. Uang itu besar sekali rasanya. Harga krupuk satu biji waktu itu Rp 5, satu mangkuk bakso seharga Rp 50. Aku membayangkan bisa makan 200 mangkuk bakso. Atau membeli mainan. Akhirnya aku gunakan uang itu untuk membeli mainan. Sepeda motor polisi Chip lengkap dengan polisinya juga.

3

Dua bulan setelah itu, lukaku sudah sembuh. Aku mulai masuk kelas satu SD. Pada jaman SD itu aku mulai sering diajak naik becak sama papa. Biasanya, aku diajak pergi pada hari Sabtu jam 8 atau 9 malam, nonton film di bioskop Guntur. Sebelum nonton film, aku kadang diajak makan roti bakar di dekat bioskop. Setelah itu, papa mengajak aku beli camilan. Camilannya selalu sama. Papa beli Buavita Jambu, aku Buavita Orange. Papa membeli emping manis dan rokok Gudang Garam merah (kretek). Rokok itu ternyata diberikan kepada penjaga bioskop. Penjaga loketnya perempuan, dan dia adalah pasien papa. Dia selalu menolak kalau papa ingin membeli tiket. Jadi papa selalu membeli rokok untuk penjaganya. Penjaganya juga kenal dengan papa. Ada dua penjaga, yang satu bapak-bapak berkumis yang murah senyum, satunya lagi anak kecil. Pintu bioskop berupa teralis besi silang, yang dibuka selebar 30 cm (cukup untuk masuk 1 orang saja). Papa suka duduk di deretan nomor lima dari belakang, dan memilih duduk di tengah-tengah. Saat itu, bioskop tidak ber-AC. Orang juga boleh merokok di dalam gedung bioskop. Jadi, di dalamnya penuh asap rokok dan gerah. Film-film yang dipilih papa biasanya film laga, yang diperankan oleh Jackie Chan, Sylvester Stallone, Arnold Schwarzenegger, dan lainnya. Kalau ada adegan ciuman, aku disuruh menutup mata. Kalau ciuman sudah lewat, papa menyuruh aku membuka mata.

Sepulang dari nonton bioskop, aku sudah dalam keadaan ngantuk berat. Sudah jam 11 malam. Ketika naik becak, papa menjelaskan arti judul film yang berbahasa Inggris. “Rambo” tidak ada artinya, dia bilang. Itu nama orangnya: John Rambo, bekas tentara AS yang pernah dikirim ke Vietnam. “Platoon” artinya peleton, satu regu. “Untouchables” artinya tidak dapat disuap (nah, untuk yang ini aku terus bertanya, disuap itu artinya diberi makan??). Sesampainya di rumah, aku digendong masuk rumah. Jaketku dibuka, dan aku dicucikan kakiku. Aku juga disuruh pipis dulu. Bajuku diganti dengan baju tidur. Setelah membaca doa, aku tidur pulas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s