No Regrets


Sepulang tujuh harian papa di Bondowoso, saya diantar Pak Basiran ke Bandara Juanda, Surabaya. Hari itu (17 April) saya harus kembali ke Jakarta bersama Mbak Lia. Sayang sekali, saya hanya menginap dua hari satu malam di Bondowoso. Padahal, masih kangen dengan Bondowoso … dan kenangan-kenangan bersama papa. Pagi hari, saya menyempatkan merapikan lemari buku yang berisi buku-buku peninggalan Papa. Sepertinya, semua boleh diberikan ke orang lain kecuali buku. Buku-buku mungkin harus diturunkan dan disimpan oleh anak-anaknya; supaya bisa dibaca anak-cucu. Setelah mengelompokkan buku-buku, secara umum buku papa terbagi menjadi empat kategori:

  • Kedokteran/kesehatan
  • Agama
  • Terbitan Time Life dan Ensiklopedia
  • Umum (biografi, manajemen, psikologi, pertanian, dan lain-lain)

Buku terbitan Time Life yang hard-cover itu ingin dibawa Mbak Lia dan Ebi ke Jakarta. Ada “Aneka Hobi Rumah Tangga”, Negara dan Bangsa, Perang Dunia, Tumbuhan, dll. Banyak sekali dan berjilid-jilid. Hanya satu buku yang saya bawa ke Jepang. Buku usang berjudul Chinese Horoscope karangan Paula Delsol yang edisi Bahasa Indonesia. Entah kapan buku itu terbit; mungkin 1980an. Harganya masih Rp 1,500. Saya juga membawa foto-foto masa kecil yang akan saya scan nanti.

Ketika di Bandara Juanda, pesawat ke Jakarta dikabarkan delay. Jadi saya muter-muter di bandara, dan menemukan toko buku. Di toko itu saya membeli satu buku dan dua majalah. Bukunya berjudul “No Regrets – Reflections of a Presidential Spokesman” karangan Wimar Witoelar (Equinox Publishing, 2002) setebal 200 halaman. Buku yang sudah berumur satu dekade, tapi saya tahunya baru sekarang. Selain itu, saya juga membeli buku berjudul Blink – The Power of Thinking without Thinking karangan penulis favorit saya Malcolm Gladwell, dan majalah Forbes Indonesia (yang ada fotonya Dahlan Iskan). Alasan membeli majalah Forbes Indonesia adalah saya ingin tahu apa sih berita-berita yang dibaca orang asing di Indonesia. Media adalah jendela. Forbes Indonesia adalah satu jendela yang dipercaya orang asing (pebisnis, ekonom, politikus, etc) dalam meneropong keadaan Indonesia. Forbes adalah alat untuk memastikan bahwa apakah yang mereka kerjakan di Indonesia aman atau tidak.

Buku No Regrets  membuat saya kecele. Buku yang ditulis dalam bahasa Inggris ini ternyata isinya tentang Gus Dur! Bukan Wimar. Isinya sepak terjang Gus Dur selama jadi presiden, khususnya dari perspektif Wimar Witoelar ketika menjadi ketua juru bicara kepresidenan. Harus diakui tulisan Wimar memang apik; kosakatanya kaya, ekspresinya juga bagus sekali. Entahlah, apakah buku itu sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia atau belum. Ada banyak kalimat hikmah di dalamnya. Ada kelakar juga, yang pasti membuat kita tersenyum-senyum sendiri. Ada rasa kecewa yang mendalam terhadap wapres, ketua MPR dan media massa saat itu. Wimar pernah mengatakan (tidak di buku itu) bahwa Gus Dur is doing the impossible for the ungrateful – Gus Dur melakukan hal-hal yang mustahil (terutama di era demokrasi yang baru seumur jagung pasca kejatuhan Soeharto) untuk orang yang tak tahu berterima kasih (masyarakat Indonesia yang terkaget-kaget dengan kebebasan dan bingung mau berterima kasih kepada siapa!).

Buku No Regrets saya baca secara intermittent: di Starbucks Juanda (1 jam), di pesawat (Sby – Jkt, 1 jam), di Starbucks Cengkareng (1 jam), di pesawat lagi (Seoul-Tokyo, 2 jam). Buku itu menuliskan perasaan Wimar yang begitu tersanjung karena mendapat kepercayaan untuk menjadi juru bicara kepresidenan Gus Dur. Keduanya berasal dari latar belakang yang sama sekali berbeda. Namun, saya lihat keduanya punya kesamaan: rajin muncul di media dengan nada kritis dan sama-sama overweight. Unik sekali pasangan itu. Wimar mengakui bahwa perannya sebagai jubir presiden kurang efektif, sehingga media masih sering salah tafsir terhadap Gus Dur. Wimar menulis bahwa yang dimuat di media seringkali berbeda dengan apa yang sebenarnya terjadi. Media itu jualan oplaag, bukan menyiarkan kebenaran. Jadi yang diingat masyarakat adalah bahwa Gus Dur sering melontarkan pernyataan yang kontroversial, mencla-mencle, tidak konstitusional, punya pembisik dan hal-hal lain. Berita macam itu tentu meningkatkan penjualan. Kalau yang dimuat hal-hal yang serius kan tidak punya audiens to? Wimar mengkritik media massa Indonesia yang tidak berimbang. Tidak hanya itu, ia juga mengkritik media asing seperti Newsweek. Buku ini penting untuk dimiliki karena ia merupakan perspektif orang yang awalnya hidup di luar sistem, dan kritis terhadap pemerintah. Buku itu juga ditulis oleh mantan aktivis 60an. Buku itu memang ditulis untuk mengimbangi hal-hal buruk yang ditulis media tentang Gus Dur. Buku itu ditulis untuk mengkritik Megawati (yang cenderung diam). Buku itu menuliskan sejarah bahwa seorang presiden dapat terpilih dari partai yang kalah, dan dilengserkan secara inkonstitusional oleh teman-temannya sendiri. Politik pasca-Soeharto dalam kurun lima tahun pertama memang susah diprediksi: kawan menggorok kawan. Buku ini menyiarkan perspektif (seperti judul acara yang dipandu Wimar) baru tentang presiden yang unik, yang benar-benar berjuang untuk rakyat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s