Vitae


Bagian yang biasanya ada di halaman belakang disertasi adalah vitae atau riwayat hidup. Biasanya tidak sampai satu halaman. Setengah atau seperempat halaman saja. Bingung juga mau nulis apa. Kalau nulis riwayat sekolah dan kerja itu sudah biasa. Tapi masa mau nulis riwayat pendakian di gunung-gunung di sekitar Jember hehe. Setelah mencari-cari ide, nemu satu disertasi orang Indonesia dengan vitae yang masyaallah canggihnya.

Ini dia vitae beliau:

The author was born in Amsterdam, The Netherlands, on June 6, 1964. He received his elementary and secondary education in Leiden, Paris and New Delhi. Subsequently he completed his Bachelor of Arts in Graphic Design at Rotterdam School of Arts (1983), Diploma of Engineering at Delft University (1985) and Master of Science in Civil Engineering through a sandwich program between Bandung Institute of Technology and University of Munich (1986). He worked briefly for CASA (Spain) – Indonesian Aircraft Company joint-project before entering the graduate program in Aerospace Engineering Department at Virginia Tech. After graduation, he plans to continue his arts study at Yale University.

Hint: dulu saya pernah diajar oleh beliau ketika kuliah S1. Saat ini saya baru menyadari arti kata prodigy dan makhluk demikian itu memang ada. Bayangkan, menuliskan persamaan selama satu semester kuliah Matematika Teknik tanpa pernah membuka buku sama sekali.

Kayaknya susah dicontek vitae di atas itu hehe.

Mountmag


Wah senang juga hari ini. Ternyata artikel yang dikirim ke Mountmag tentang pendakian ke Gunung Fuji dimuat juga oleh editor. Mountmag adalah e-magazine tentang ekspedisi alam bebas berbahasa Indonesia. Layoutnya bagus. Artikel itu dimasukkan ke bagian Journal. (Thanks Mas Harley Sastha!). Kebetulan 11 Desember adalah hari gunung internasional.

Link: http://mountmag.com/category/journal/

Teman (Doni Sispena 18) meng-capture screennya. Ini dia:

f1  f2  f3  f4

Penguji


Di Jepang, atau lebih tepatnya di kampus saya, prosedur menjelang kelulusan PhD adalah sebagai berikut:

  • Mendapatkan persetujuan dosen pembimbing untuk menulis disertasi (di sini disebutnya dokuta rombun – doctor’s thesis)
  • Memasukkan semua draft bab disertasi kepada pembimbing untuk diperiksa
  • Mengisi formulir pengajuan disertasi yang berisi ringkasan 500-1000 kata dengan perincian bab serta hasil-hasil utama, daftar publikasi selama riset, riwayat hidup dan pekerjaan, nama-nama penguji
  • Memasukkan formulir ke tata usaha, dibarengi tiga kopi draft disertasi
  • Menemui para penguji (yang boleh jadi beda universitas atau bahkan beda kota)
  • Mempersiapkan sidang

Yang cukup menarik adalah bertemu para penguji. Kita bisa melihat respon mereka dan bagaimana mereka melihat hasil karya kita. Yang selalu saya ingat ketika menyerahkan disertasi adalah pesan keempat David Foster dalam “10 tips for songwriter” di Youtube. Konteksnya mungkin beda, tetapi persamaannya adalah kita memproduksi suatu karya. Apa saja.

Don’t be too precious about your craft. We’re making music for the heart, but we’re not curing heart disease. There’s only 26 letters and 12 notes. And, Shakespeare and Beethoven said it better than any of us ever will.

Saya kurang tahu apa pesan yang ingin disampaikan David Foster. Tapi kira-kira begini kalau untuk konteks riset: jangan terlalu bangga dengan hasil riset kita; jangan terlalu ambisius untuk menghasilkan penemuan hebat; yang penting kita bikin berkontribusi untuk ilmu pengetahuan; ikhlas saja; mungkin tidak semua orang beruntung mendapatkan problem yang mahapenting dan akhirnya berhasil mencari solusinya (kemudian mendapatkan worldwide recognition atau Nobel Prize).

Kalau maknanya kurang pas, ya mohon dimaklumi.

Kembali ke penguji. Jadi intinya, setiap kali menemu penguji, saya berusaha ikhlas dan apa adanya. Sudah berusaha maksimal.

Di Jepang, janjian dengan orang harus tepat waktu. Janji jam 10:30. Artinya kita mengetuk pintu jam 10:30. Tapi mungkin ada yang tidak strict, cuma kebanyakan sih tepat waktu. Jadi predictable. Mungkin gara-gara dikondisikan sistem kereta dan bus kota.

Setiap kali mengetuk pintu dosen penguji, saya selalu tepat waktu. Ada tiga penguji. Penguji pertama, dia satu departemen. Jadi lokasinya masih dekat lab. Saya ketuk pintunya, dia menyahut “Haik!” dari dalam. Saya kemudian membuka pintu, dan penguji pertama tersenyum. Dia memang sumeh. Bahasa Inggrisnya agak kurang lancar; mungkin karena tidak terbiasa ngobrol dalam bahasa Inggris. Kemudian dia bilang: saya akan periksa thesis ini dengan hati-hati. Setelah membicarakan rencana ujian lisan, saya pun pamit. Paling hanya lima menit saya ada di ruangannya. Yang unik juga, meja kerja penguji satu ini tersembunyi di balik lemari. Ngumpet. Persis seperti pembimbing saya.

Penguji dua lokasinya di kampus lain, meskipun universitasnya sama. Departemennya lain. Saya janjian pagi hari. Setelah mengetuk pintu, dia juga menyahut “Haik!”. Saya membuka pintu, dia tersenyum menyambut saya. Meja kerjanya pun tersembunyi di balik lemari. Dia kemudian mempersilakan saya duduk. Dia cepat-cepat memeriksa thesis saya. Membuka halaman pertama, memeriksa satu per satu judul babnya. Memeriksa topik-topik per bab. Kemudian ke halaman belakang. Dia mencari daftar publikasi. Kemudian dia menghitung, sudah berapa paper internasional yang saya terbitkan. Setelah dia menghitung, dan mengatakan “Oh sudah tiga paper.” kemudian dia menanyakan kapan mau sidang. Saya bilang akhir Desember dan akhir Januari. Jadi dua kali sidang. Dia kemudian bilang, nanti kita akan rapat bersama pembimbingmu untuk menentukan jadwal. Kemudian, saya mengatakan bahwa penguji saya bernama X. Dia bilang, wah itu penguji tiga kamu ya? Dia orangnya strict. Kalau nanya severe banget. Saya bilang ya gimana lagi, dipilihin pembimbing saya.

Penguji ketiga, yang dibilang strict, adalah orang terakhir yang saya temui. Kantornya di universitas lain. Sebenarnya hanya 30-40 menit naik kereta ke Tokyo pusat. Kampus universitas swasta. Dia dulunya pernah menjadi ketua society untuk bidang saya. Jadi sudah pasti expert sekali dan severe! Dia yang minta draft thesis dikirim lewat email dulu sebelum menyerahkan aslinya. Ketika saya sampai disana, dengan ramah dia menyambut. Seperti biasa, orangnya memang ramah. Murah senyum. Dia sudah memeriksa satu bab. Itu sudah penuh coretan. Dia hanya bilang, saya hanya menandai bagian-bagian yang saya merasa tidak comfortable. Weks! Banyak sekali yang dia tidak comfortable. Bagian yang dia tidak nyaman biasanya yang berupa proposisi atau usulan. Dia menyanggah, mempertanyakan, meyakinkan, benar atau tidak. Saya bilang saya yakin 100%. Ya gimana lagi, kalau tidak yakin ya jangan ditulis. Oiya, dosen penguji ini mejanya tidak tertutup lemari. Kita bisa lihat meja kerjanya, meski tidak menghadap pintu. Menyamping. Kita bisa lihat juga di monitor PC nya dia sedang membuka apa. Dia hanya membuka email. Tipe dosen terbuka, sepertinya. Setelah diskusi sekitar 25 menit, saya pun pamitan. Pulang naik kereta. Dan pada saat naik kereta itu, katanya ada gempa besar. Tidak kerasa. Dan kereta tidak dihentikan.

Saya selalu mengatakan pada diri sendiri, jika penguji itu galak, dalam arti memeriksa dengan rinci apa yang kita tulis, itu memang tugas mereka. Tugas mereka adalah memastikan apa yang kita tulis dapat dimengerti dengan baik dan memberikan kontribusi kepada bidang yang diteliti. Mudah-mudahan tidak ada yang menjatuhkan ketika sidang. I hope God will really take care the rest, after I did my best.