Sujiwo Tejo on TEDx


Saya mendengar nama “Sujiwo Tejo” pertama kali pada saat kuliah di Bandung. Bekas wartawan ini dikenal banyak orang sebagai dalang yang ketika itu mampu membawakan cerita-cerita wayang secara populer. Dalam lagunya Titi Kala Mangsa ia mempopulerkan Bahasa Jawa abad pertengahan. Albumnya meledak. Alasannya sederhana: lirik asing (kecuali bagi telinga Jawa) yang dikawinkan musik populer. Tentu, beberapa passage Bahasa Jawa abad pertengahan itu tidak dapat dipahami orang kebanyakan. Bakat ndalang-nya sudah ada sejak lama, barangkali sejak dia kecil. Bakat itu akhirnya ditularkan dan diimplementasikan lewat pendirian Loedroek ITB yang ketika saya kuliah sangat populer di kalangan pembahasa Jawa (populasinya cukup banyak sehingga mungkin bisa dikatakan bahwa bahasa kedua setelah Bahasa Indonesia di ITB adalah bahasa Jawa!). Loedroek ITB sering mengadakan pentas (tapi saya belum pernah nonton). Selain sebagai dalang, penyanyi, Sujiwo Tejo juga piawai memainkan saksofon; selain itu ia bisa memainkan alat musik lainnya, terutama alat musik tiup. Ia juga pandai menulis (kan mantan wartawan), kritis menilai keadaan sosial yang bersifat keseharian (ia tidak doyan politik praktis – lebih suka mendiskusikan teori politik dan fenomenanya). Di balik penampilan yang berantakan dan apa adanya (mungkin lebih mirip seorang resi yang asketik dan hermitik), pikiran Sujiwo Tejo cukup metodis, sigap dalam mencari esensi dan kesimpulan, dan selalu merujuk kepada referensi.

Di kalangan anak Jember yang merantau di Bandung, nama Sujiwo Tejo tentu tidak asing karena beliau pernah hidup di Jember (pernah sekolah di SMAN 1 Jember). Dia lalu melanjutkan kuliah di Matematika ITB, dan tahun keduanya, kuliah double di Teknik Sipil (entah mana yang duluan masuknya, Matematika atau Teknik Sipil). Sayangnya, keduanya tidak selesai.

Image

TEDx event adalah satu acara yang diadakan oleh organisasi nirlaba untuk menyebarkan gagasan (spreading ideas), begitu kira-kira informasi yang ada di website-nya. TED adalah kependekan dari Technology Entertainment Design. Program TEDx yang diadakan di banyak negara ini dibuat untuk merangsang dialog di masyarakat, organisasi dan individu. Format acara TEDx biasanya berisi penampilan atau monolog pendek yang dipersiapkan secara matang tema dan isinya. Tujuannya untuk mengasuh proses pembelajaran, inspirasi dan ke-gumun-an (wonder) sehingga tercipta perbincangan lebih lanjuta mengenai tema dan isi yang sudah disampaikan oleh pengisi acara. Pengisi acara bisa siapa saja, tapi biasanya dipilih mereka yang berkiprah secara nasional di ketiga bidang itu. Bisa tua, bisa muda.

Di dalam acara TEDx yang diadakan di Bandung pada 9 Oktober 2011 itu Sujiwo Tejo diperkenalkan sebagai Ki Jancuk karena dia punya satu komunitas yang bernama Republik Negeri Jancukers. Ketika itu dia tidak membawakan tema dalang atau politik di TEDx. Temanya, menurut dia sendiri, agak berat: Math: Finding Harmony in Chaos. Saya juga tidak menduga Sujiwo Tejo bakal ngomong matematika di TEDx. Terlepas dari profilnya yang mungkin kurang disukai karena kadang vulgar, Sujiwo Tejo menyampaikan sesuatu yang lugas dan masuk akal tentang matematika. Seriously, he’s no-joke and smarter than what he seems to appear, reinforcing the adage that “a smart person does not fit any molds”.

Image

Beberapa hal saya catat dari gagasan atau pandangan Sujiwo Tejo tentang matematika. Intinya untuk mengingatkan diri sendiri, dan mendiseminasikan ke orang lain. Sejak awal bicara (yang hanya 20 menit itu), Sujiwo Tejo sangat straightforward. Orang Jawa bilang, langsungan gak tedeng aling-aling. Jadi, pesan langsung menancap.

  • Indonesia kurang maju karena [kemampuan] matematika [warga]-nya rendah. Problemnya begitu kita mendengar matematika, kita membayangkan hitung-hitungan. Padahal matematika tentang logika dan konsistensi logika kita. Pelajaran terbaik untuk melatih logika dan konsistensi adalah matematika.
  • Matematika adalah bahasa, seperti halnya Bahasa Indonesia, Bahasa Madura, Perancis, Aborigin.
  • Matematika harus diajarkan dengan baik di tingkat dasar. Di universitas, tingkat pertama matematika bila perlu diajarkan oleh profesor terkenal.
  • Matematika itu tentang ketidakpastian, tapi matematika tentang kesepakatan. Contoh: 1+1 = 2 untuk konteks bilangan persepuluhan, tapi tidak untuk bilangan biner, 1+1=0.
  • Sujiwo Tejo terinspirasi Dr Hutahean dari Matematika ITB; matanya dibuka dan dapat menghubungkan antara matematika dengan sastra dan seni.
  • Sastrawan dan seniman yang seharusnya kemampuan matematikanya bagus. Tapi sayangnya tidak. Ini artinya matematika diajarkan secara salah oleh kurikulum Indonesia.
  • Dalam matematika, kita dapat menemukan bahasa-bahasa baru. Kita dapat menemukan, misalnya, dimensi-n. Dimensi yang kita pahami adalah tiga dimensi (x-y-z). Sebenarnya plus 1 yaitu dimensi waktu. Padahal ada dimensi-n yang akhirnya terbukti di fisika astronomi.
  • Matematika dapat membantu insinyur sipil menghitung kekuatan kolom di semua titik (dalam hal ini Sujiwo Tejo ingin membicarakan metode elemen hingga)
  • Kalimat puisi membentuk dunia baru, kalimat matematika juga demikian.
  • Keindahan matematika itu dingin; tapi tetap indah. Hal ini dapat terjadi ketika kita melakukan pembuktian rumus matematika. SJ mencontohkan: cos²α + sin²α = 1
  • Matematika adalah kemampuan menangkap pola dari sesuatu yang semula tidak terpola. Itulah kemampuan matematika yang harus ditanamkan. Soal kemacetan dapat diselesaikan dengan konsep-konsep himpunan.
  • Sedemikian banyak jenis batik di Indonesia sebenarnya hanya enam pola (pattern) – hal ini didapat dari kawan matematikawan SJ yang meneliti batik
  • Mari kita berpikir matematis, tidak sebagai hitung-hitungan, tapi sebagai bahasa karena itu mempengaruhi logika kita
  • Matematika erat kaitannya dengan lagu dan puisi
  • Matematika adalah orkestrasi dari seluruh konsep
  • Inti dari matematika adalah mencari persamaan. Tidak ada pelajaran matematika tentang pertidaksamaan; itu hanya masalah pengecualian. Ada Sunda, ada Jawa, ada Kristen, Islam, mari kita berpikir matematika dan selalu mencari persamaan.

Dan beberapa anekdot yang agak menyimpang dari matematika:

  • Orang yang kuliah [sampai wisuda] adalah orang yang meneruskan sejarah, sedangkan orang yang drop-out itu orang yang menjebol sejarah
  • Cinta tak perlu pengorbanan. Itu kata-kata matematika yang baru. Pada saat kau merasa berkorban, pada saat itu cintamu mulai pudar. Yang ada pengorbanan itu biasanya hasil kalkulasi. Kalau ditanya, kenapa kok cinta sama dia. Jika ada “Karena ini, karena itu ” maka itu bukan cinta; itu kalkulasi.
  • Orang besar itu kalau menyebut nama orang biasanya sering salah. Misalnya, WS Rendra menyebut  Nono A. Makarim jadi Nono L. Karim; Jacob Utama menyebut Emha Ainun Najib dengan Emha Aimum Najib; SJ sendiri menyebut Deni Darco dengan sebutan Deni Cobra.

Image

Liputan TEDx Bandung pada 9 Oktober 2011 dapat dilihat di sini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s