Bingkisan


Setelah sholat Jumat selesai (2013/3/1), seorang staf masjid mengumumkan bahwa Kepolisian Hachioji memberi hadiah untuk jamaah. Masing-masing orang dapat mengambil satu paket. Dalam satu paket ada sekaleng biskuit dan beras instant.

Di sini perlu dijelaskan lebih dulu mengapa kepolisian memberi hadiah. Pertama, karena Kepolisian Hachioji ingin menjalin hubungan baik dengan jamaah masjid. Hubungan itu dapat lebih kuat dengan bingkisan. Ini tradisi yang umum di Asia, atau Jepang. Kedua, Kepolisian Hachioji adalah elemen masyarakat Jepang yang cukup “dekat” dengan jamaah masjid. Kepolisian Hachioji dekat dengan jamaah karena setiap pelaksanaan sholat Jumat mereka menempatkan (atau Jawanya – nandhur) dua orang polisi (Nomura dan Suzuki) untuk menjaga masjid. Mengapa masjid dijaga pada saat sholat? Ini mungkin bentuk paranoid Jepang terhadap peledakan WTC pada 11 September 2001. Terlepas dari kontroversial bahwa dua gedung kembar WTC itu diledakkan secara sengaja atau karena tabrakan pesawat, citra Islam tercoreng karena banyak nama-nama muslim yang terlibat. Yang jelas, efek peledakan WTC itu jadi mendunia. Amerika dan negara aliansinya menjaga dirinya dari Islam. Salah satu efek mikronya adalah pengawasan masjid-masjid di Jepang.

Kembali ke soal paket hadiah dari polisi. Hampir semua jamaah cukup senang dengan paket itu. Memang tidak biasa. Paket yang biasa didapatkan di masjid Hachioji adalah menu makan siang atau makan malam gratis dari restoran Asiana dekat Stasiun Nishi Hachioji. Paket dari polisi berupa biskuit dan beras ini memang berbeda. Yang bisa langsung dimakan adalah biskuitnya. Untuk beras instannya, ia harus dituangi air panas, ditutup dan didiamkan di dalam bungkusnya itu selama 15 menit. Setelah itu, baru nasi bisa dimakan. Pertanyaannya, untuk apa biskuit dan nasi itu? Bukan kombinasi makan yang tepat juga, baik siang maupun malam. Selain biskuit dan nasi instan, kami juga diberi satu booklet berisi instruksi selama keadaan darurat misalnya gempa, kebakaran dan lainnya. Oh, ini baru masuk akal. Jadi, biskuit dan beras instan itu dapat digunakan ketika darurat. Jadi, saya tidak langsung memakan biskuitnya. Saya ingin menyimpannya untuk dimakan di rumah saja.

Sesampainya di rumah, biskuit itu cepat-cepat dibuka dan dimakan satu-satu. Tapi ketika diteliti lebih jauh, biskuit itu ternyata sudah kadaluarsa. Dan yang unik (atau aneh!) biskuit itu tertulis Santa Snack. Pertanyaannya:

  • Mengapa kepolisian memberi “Santa” Snack kepada jamaah masjid? Apakah ada pesan sponsor?
  • Mengapa kepolisian memberi makanan untuk darurat yang sudah kadaluarsa?
    • Biskuit “Santa Snack” (kadaluarsa: 13 Februari 2013)
    • Beras instan (kadaluarsa: Februari 2013)

Jadi, apakah hubungan baik dapat terbina jika didahului oleh bingkisan yang kadaluarsa?

IMG_8822     IMG_8823

 

 

IMG_8824IMG_8825

IMG_8826

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s