Cabe


Cabe (yang pedas!) sulit dicari di Jepang. Kalaupun dijual, cabenya kurang nendang. Orang Jepang nampaknya kurang suka kalau rasa pedasnya menempel di lidah. Padahal, bagi sebagian orang Indonesia (atau Asia Tenggara) makan tanpa cabe atau sambel dan sejenisnya yang pedasnya nempel di lidah itu kurang nikmat. Kurang membangkitkan selera makan.

Cabe rawit, khususnya, sulit dicari di Jepang. Tapi ada dua cara untuk mendapatkannya. Pertama, membeli cabe rawit beku secara online. Kedua, menanam sendiri. Membeli relatif mudah, tetapi harganya relatif mahal. Cabenya mungkin diimpor dari Thailand. Sedangkan menanam cabe itu gampang-gampang sulit. Perlu latihan. Oleh sebab itu, kami membeli tanaman cabe untuk eksperimen selama musim panas. Di Jepang, orang suka bercocok tanam. Di Hino city, banyak petak-petak tanah yang ditanami sayuran atau bunga. Petaninya rajin sekali merawatnya. Kualitasnya juga bagus.

Harga bibit cabe yang dijual di supermarket sekitar 150 yen (Rp 15 ribu). Kami mendapatkan cabe Korea dengan tingkat kepedasan 2/5. Belum tahu rasanya bagaimana. Tapi menurut panduan, cabe tersebut dapat dipanen dalam 3-4 bulan. Kami membelinya pada 19 Mei. Berikut gambar pertumbuhan cabe dari waktu ke waktu.

Drawing1

Tinggal menunggu masa panen bulan Agustus atau September!

***

Tapi dua hari lalu tiga cabe sudah dipanen. Dua cabe hijau, satu cabe merah. Ini gambar yang merah.

IMG_0954

One thought on “Cabe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s