Menulis dan sedikit tips


Prelude

Menulis pada dasarnya mengabadikan informasi. Informasi ini ada yang berupa berita alias hard news, ada juga yang berupa opini dan fitur (feature). Ketiganya campur-aduk di dunia nyata dan maya. Jumlahnya juga begitu masif, sehingga sulit bagi kita mengingat atau mencernanya; jangan lagi memverifikasi kebenarannya. Tetapi, hidup kita (sayangnya atau untungnya?) sebagian dikendalikan oleh informasi berupa tulisan. Berita, opini, fitur menjadi hegemoni (kekuatan dominan). Yang paling dominan tentunya adalah pemilik kantor berita. Ia dapat mengendalikan opini, pikiran, bahkan emosi pemirsanya.

Saya sendiri sering membaca koran online. Yang dibaca tentunya berita. Kadang-kadang membaca opini atau kolom juga. Tapi sekarang agak mengurangi. Berita-berita, meskipun nyata, seringkali membuat mood jadi murung. Sebabnya sederhana: bad news is a good news. Yang sial dan kontroversial; yang heboh dan tidak senonoh; yang lemah dan berdarah-darah; semua itu menyerap pemirsa. Bisikannya: jangan sampai dilewatkan berita macam ini! Padahal, berita boleh jadi diplintir karena koran juga punya kepentingan: oplaag!

It boils down to money and fame.

Oleh sebab itu, saya lebih suka dokumenter, dan wawancara langsung (live). Keduanya berbeda; tetapi disajikan dengan persiapan yang matang. Dokumenter seringkali mengupas latar belakang sesuatu sehingga meningkatkan pemahaman. Wawancara: kita mampu merekam dan menilai apa yang diomongkan seseorang; bukan apa yang wartawan tulis tentang omongan itu.

Tips menulis

Ketika beres-beres meja hari ini, saya menemukan catatan lama tentang bagaimana menulis berita. Catatan itu saya buat setelah mengikuti workshop penulisan berita dan opini di Tokyo. Ada dua pembicara. Pertama, Richard Susilo, seorang wartawan yang berbasis di Tokyo. Dia punya kursus bahasa Jepang bernama Pandan College. Yang kedua, Agus Fanar Syukri, peneliti LIPI dan penulis lepas untuk koran-koran di tanah air. Apa yang disampaikan mereka cukup bermanfaat, khususnya mengenai bagaimana menulis berita dan opini di koran.

Menulis berita

  • Berita punya ciri ini: hal-hal penting ditaruh di depan (paragraf awal), bagian kurang penting ditaruh di belakang.
  • Berita harus punya judul yang menarik
  • Berita punya elemen berikut: 5W + 1H (what, who, when, where, why, how) atau menurut Richard, disebutnya ASDAMBA (apa, siapa, di mana, mengapa, bagaimana – sayangnya “kapan” kok tidak ada?)
  • Meskipun rinci, berita harus ditulis dengan bahasa yang dapat dipahami anak SD
  • Kalimat berita harus pendek-pendek, berisi elemen subjek + predikat + objek (SPO) atau SPOK (ditambah keterangan)
  • Paragraf pertama dari berita harus menarik, dan membuat pembaca ingin tahu kelanjutannya
  • Ketika menulis berita, kita harus punya kode etik: jangan menjiplak, tulis kenyataannya, referensi harus jelas

Menulis opini

  • Opini adalah tulisan yang berisi pandangan dan wawasan pribadi mengenai suatu masalah yang aktual dan berkenaan dengan kepentingan publik; opini bukan berita atau saduran
  • Menulis opini berarti melapangkan jalan sebagai intelektual publik
  • Elemen opini: masalah – ide – data – kesimpulan
    • Masalah: apa yang tengah dipermasalahkan publik saat ini? Cari masalah/tema yang sesuai keahlian, yang aktual dan sesuai momentum; cari yang luar biasa atau aneh
    • Ide: apa ide anda dalam menyelesaikan masalah itu?
    • Data: data apa yang anda gunakan untuk mendukung ide tersebut? Data harus akurat; sertakan grafik bila perlu; gunakan pendapat para ahli untuk mendukung opini anda
    • Kesimpulan: sebelum menyimpulkan, analisis data-data di atas menurut pandangan pribadi; kemudian simpulkan dengan bahasa yang sederhana
  • Elemen ini mesti tetap ada: 5W + 1H
  • Bahasa harus populer, paling tidak dapat dipahami oleh murid SMP. Meskipun demikian, bahasa yang digunakan harus punya nilai tambah bagi pembacanya: punya karakter atau ciri khas, kaya akan kosakata, sesuai dengan kompetensi
  • Bagaimana meningkatkan kosakata dalam menulis? Banyak-banyaklah membaca buku yang non-fiksi, juga kolom opini; catat kosakata baru yang ditemukan, pahami artinya
  • Paragraf pertama harus menarik; cari tokoh atau sosok untuk menggambarkan kejadian
  • Kalimat harus koheren: kalimat pertama berhubungan dengan kalimat selanjutnya; paragraf pertama berhubungan dengan paragraf selanjutnya
  • Usahakan satu paragraf berisi satu ide saja

Tapi satu hal yang paling penting dari semuanya adalah berlatih menulis. Kemungkinan ini akan memenuhi kaidah 10 jam sesuai dengan usulan Malcolm Gladwell. Belajar menulis selama 10 jam per hari selama 10 tahun tanpa henti, mungkin akan membawa anda memenangkan Pulitzer! Who knows?

Another tips:

10 Cs to become a good writer: commitment, consistent, capability, character, competence, contextual, credibility, cool (ini gak tahu apa maksudnya!), conversation, community.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s