Doktor, Setengah Doktor


Almarhum Prof. Said D. Jenie (mantan ketua BPPT dan guru besar Teknik Penerbangan ITB) pernah menyinggung soal iklan di angkot-angkot kota Bandung. Iklan itu menawarkan gelar master, bahkan doktor. Bagaimana mungkin doktor ditawarkan begitu rupa, dan mendapatkannya pun mungkin tidak lewat susah payah? Pak Said, ketika itu, tidak melanjutkan. Mungkin nampak kecewa saja dengan masyarakat kita yang jor-joran ingin mendapat gelar doktor, tapi tanpa kerja keras.

Setelah Reformasi 1998, gelar doktor adalah komoditi. Ramai orang ingin mendapatkannya, memakainya. Bervariasi pula motivasinya: mulai dari yang murni akademik hingga yang politik. Yang akademik pun ada berbagai jenis. Ada yang supaya bisa dapat jatah mengajar penuh, naik golongan, bisa jadi guru besar dan seterusnya. Ada yang benar-benar ingin mengetahui suatu tema, menguji daya pikir dan ketahanannya. Ada yang ingin mengalahkan senior-seniornya, atau membuat kagum junior-juniornya. Macam rupa motivasinya. Yang politik tentu punya alasan yang lebih naif: betapa menterengnya jika sebuah baliho memajang fotonya yang cakep dengan rentetan gelar seperti mercon Cina. Tapi itu semua tak soal karena manusia memang dibentuk oleh motif yang berbeda-beda pula, yang mungkin tidak saling menabrak. Umumnya, ujung-ujungnya nampaknya satu, yaitu citra.

Orang yang mempunyai gelar doktor biasanya mempunyai citra yang berbeda. Citranya tentu baik dan menguntungkan (favorable). Kesadaran mengenai citra ini biasanya terus melekat, sehingga seseorang mungkin minta diistimewakan, meminta ruang bicara yang lebih luas, membuat haus popularitas (diundang sana-sini). Ini yang kemudian disebut “setengah doktor”. Setelah berhasil mempertahankan disertasinya, seorang doktor kembali ke negaranya, untuk kemudian bekerja seperti biasa. Ia kemudian melakukan rutinitas, sambil terus menanankam kesadaran bahwa dirinya adalah seorang doktor. Kadang media massa terus menyebut gelarnya untuk terus menaikkan citra.

Di lain pihak, yang ‘doktor’ atau sepenuhnya doktor adalah mereka yang setelah meraih gelar doktor berpikir soal kontribusi. Kontribusinya bisa berupa akademik, atau sosial. Aftermath setelah meraih gelar doktor dirasa semakin berat karena ia harus dapat membuktikan kepada kalangan akademik, atau masyarakat, bahwa ilmu-ilmu serta metodologi yang didapatkannya berguna untuk menggali pengetahuan dan menyiarkannya kepada khalayak. Tanggungjawabnya adalah membuat segala sesuatu (khusus bidangnya sendiri) yang obscure (atau kurang jelas) menjadi jelas, dapat dipahami, dapat dimaknai, dapat diproduksi, dapat dikembangkan, bermanfaat serta mempermudah hidup manusia. Seperti halnya Karl Marx (seorang doktor juga) yang menerbitkan magnus opus semacam Das Kapital, ‘doktor penuh’ membicarakan soal manusia, baik dalam hal psikis, fisik dan hubungan sosial. Doktor penuh terus menerbitkan karya-karya, baik yang berhubungan dengan bidangnya atau pun yang meluas hingga sesuatu yang digemarinya. “Karya” dapat berupa hak paten, produk perangkat keras, hak cipta, perangkat lunak, buku, makalah ilmiah, monograf, kebijakan dan lainnya. Bahkan sebuah perdebatan mengenai topik yang spesifik yang dimulainya dapat dianggap sebuah embrio karya asalkan dibahas dalam kerangka ilmiah dan tidak anarkis.

“Setengah doktor” ini banyak sekali kita temui hari ini. Tidak dapat dipungkiri bahwa globalisasi mendorong masyarakat Indonesia ingin berkelana dengan tujuan “to see the rest of the world“. Salah satu jalannya adalah kuliah di luar negeri, bahkan hingga doktor. Ke Amerika, Australia, Jepang, Belanda, Inggris, Jerman, Norwegia, India, Thailand, Singapura, Afrika Selatan, Italia, Rusia atau negeri manapun. Hubungan luar negeri yang baik antara Indonesia dengan negara-negara itu, kemudian kemampuan finansial negara membiayai anak negerinya, membuat kesempatan kuliah hingga doktor sangat terbuka luas. Tetapi persoalannya, apakah ini akan menciptakan individu-individu yang full doktor atau setengah doktor? Jangan-jangan kita semua tengah “memproduksi” yang kedua. Hal ini belum dapat kita ketahui sekarang. Mungkin baru 10-30 tahun lagi kita baru merasakan mana yang sebenarnya kita ciptakan.

Satu contoh full doktor adalah Poerbatjaraka. Sebenarnya ada dua orang Indonesia awal yang meraih gelar doktor. Yang pertama adalah Hussein Djajadiningrat, yang kedua adalah Poerbatjaraka. Keduanya mendapat gelar doktor dari Universitas Leiden, Belanda. Hussein Djajadiningrat mendapat gelar doktor bidang sastra pada 1910 dengan disertasi berjudul Critische Beschouwing van de Sadjarah Banten (Tinjauan Kritis Soal Sejarah Banten) di bawah bimbingan Snouck Hurgronje, seorang ahli sosiologi Islam di Asia Tenggara. Poerbatjaraka, dengan nama asli Leisja, mendapat gelar doktor bidang sastra Jawa pada 1926 dengan disertasi berjudul Agastya in den Archipel (Agastya di Nusantara).

Poerbatjaraka (1884-1964) pernah menyebut dirinya sebagai “bocah kampung Solo yang bergajul (ugal-ugalan)”. Padahal, ia adalah anak laki-laki dari Raden Tumenggung Purbadipura, abdi dalem kesayangan Paku Buwono X. Ia kemudian belajar bahasa Melayu dan Belanda. Ia pernah masuk H.I.S. (setara SD, program 7 tahun) namun dikeluarkan. Alasannya tidak jelas, namun ia merasa bahwa guru-gurunya melihat kalau kemampuan akademiknya “membahayakan” Belanda.

Ia kemudian melanjutkan bahasa Belanda sendiri dengan ngobrol bersama para serdadu Belanda. Para serdadu menyukainya karena perangainya yang terbuka. Ia juga lama-lama fasih berbahasa Belanda. Di lain pihak, Poerbatjaraka yang ketika itu masih bernama Leisja menggemari buku-buku ayahnya yang ada empat lemari. Ia mempelajari sastra Jawa kuno sendiri. Jika ada cerita-cerita yang tidak dipahaminya, ia kemudian bertanya kepada ibunya. Hal ini mendorongnya untuk mengikuti diskusi sastra di Solo. Sayangnya, kritik terbukanya membuat sekelompok sastrawan berang. Ia kemudian disingkirkan dari lingkaran sastra itu, dianggap sombong karena masih muda sudah berani mengkritik. Ia kemudian menulis surat kepada residen Solo, untuk dapat belajar di Belanda.

Ia dikirim ke Batavia dan bekerja di museum. Di museum ia bertemu dengan Dr. Kern, seorang ahli sejarah dan sastra Jawa terkemuka dari Belanda. Selama bekerja di museum itu, Leisja mendapat kesempatan untuk memperdalam kemampuan sejarah dan keahliannya membaca teks Jawa kuno. Ia juga rajin menulis di jurnal-jurnal ilmiah Belanda.

Kern mengirimnya ke Leiden untuk langsung belajar di program doktor. Leiden juga memberinya kesempatan mengajar Jawa Kuno. Padahal, Leisja sama sekali tak punya ijazah formal, bahkan ijazah Sekolah Rakjat sekalipun.

Awalnya, Leiden ingin langsung memberinya doctor honoris causa. Namun, Leiden kemudian mengubah keputusannya, dan memintanya melakukan riset beberapa tahun di Belanda.

Dalam empat tahun, Leisja berhasil meraih gelar doktor dan kembali ke Indonesia. Di Indonesia, tidak ada tempat baginya karena ia dianggap terlalu kritis. Tapi kemudian ia berhasil mendapat posisi di Museum Negara. Di museum ini, ia mengkatalogkan teks-teks Jawa kuno (dalam bidang sejarah, kesempatan membuat katalog ini nampaknya akan membuat seseorang menguasai peta akademik topik tertentu). Ia juga semakin rajin menulis di jurnal-jurnal.

Setelah beberapa waktu, Poerbatjaraka akhirnya mendapat posisi mengajar di Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada dan Universitas Udayana.

Selama bertahun-tahun, hingga akhir hayatnya, karya-karyanya mengenai interpretasi teks-teks kuno Jawa terus mengalir di jurnal-jurnal Indonesia dan Belanda. Kontribusinya sangat besar bagi, misalnya, BKI yang diterbitkan KITLV. Karyanya banyak dipuji sejarawan meskipun awal-awalnya disebut sebagai amatiran karena mencampuradukkan mitos dan temuan/interpretasi ilmiah. Terlepas dari kecerdasannya yang luar biasa (disebut Prof. TH Pigeaud – penerjemah Kakawin Negarakrtagama – sebagai the gifted man), keunggulan Poerbatjaraka adalah vitalitas dan konsistensinya dalam meneliti teks-teks Jawa Kuno. Ia menampilkan sosok yang single-minded dan sangat fokus. Motivasinya adalah memperdalam pemahaman orang Indonesia sendiri mengenai peninggalan-peninggalan sejarah Indonesia. Kata-katanya yang kritis mengenai orang Belanda, namun kurang termasyhur, adalah: “Orang Belanda saja kok mau meneliti sejarah Indonesia … ” Ini bukan merepresentasikan kebencian, bahkan kepada pembimbingnya sendiri, melainkan suatu kesadaran yang ia tanamkan dalam dirinya sendiri bahwa seyogyanya orang Indonesia sendirilah yang mesti meneliti sejarah Indonesia. Asalkan dalam kerangka ilmiah dan tekun, maka berbagai teka-teki sejarah dapat dipecahkan.

Hal inilah yang kini nampak hilang dari kesadaran para calon doktor yang akan ke luar negeri. Inti dari mengambil program doktor adalah mempelajari sesuatu yang spesifik untuk dapat menjawab persoalan-persoalan kontemporer (sosial, teknik, dan lainnya), untuk kemudian dapat membuat kontribusi seumur hidupnya. Prerequisite-nya kadang tidak mudah. Misalnya, Poerbatjaraka sendiri harus menguasai Jawa kuno, bahasa Melayu, Belanda, Inggris, Jerman dan Perancis untuk dapat membedah sosok Agastya. Belum lagi, beliau harus mengasah kemampuan menulisnya yang baik supaya dapat mengkomunikasikan dengan teman sejawat atau bahkan lawan ilmiahnya. Belum lagi, beliau harus mengasah kemampuan seleksi, interpretasi sejarah, pembuktian, logika dan nalar untuk dapat meyakinkan dirinya (sebelum meyakinkan orang lain) mengenai suatu kronik.

Mudah-mudahan Indonesia terus maju, dan memproduksi full doktor.

One thought on “Doktor, Setengah Doktor

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s