Diponegoro


Meskipun membacanya sepotong-sepotong, buku The Power of Prophecy (Peter Carey, 2007) memang menarik. Buku ini sudah habis cetakannya, tapi bisa didonlod di sini: http://www.kitlv.nl/book/show/1204

Tidak ada orang Indonesia yang tak mengenal Pangeran Diponegoro, pemimpin Perang Jawa (1825-1830) yang termasyhur itu. “Perang Jawa” atau Java War sendiri mungkin nama pemberian sarjana Barat untuk menetralisir nasionalisme atau mitos. Di Indonesia, kita dengan bangga menyebutnya Perang Diponegoro. Buku dengan judul lengkap The Power of Prophecy – Prince Dipanagara and the end of an old older in Java 1785-1855 ini bukan sembarang buku. Ia merupakan turunan disertasi doktoral yang kemudian ditambah-tambahi berbagai informasi dan diceritakan dengan lebih luwes – tidak terlampau akademik (meskipun pada akhirnya jargon-jargon historiografi berserakan di mana-mana). Tetapi buku ini sungguh lengkap menceritakan Pangeran Diponegoro sebagai lelaki biasa, sebagai keturunan darah biru, sebagai pemeluk Islam yang taat, sebagai orang Jawa yang halus dan harmoni, sebagai pejuang yang membenci Barat (plus orang-orang inlander yang sok ke-Barat-an).

Perang antara kolonial Belanda dan rakyat Jawa ini memang legendaris. Ia menghisap finansial Belanda sampai ke kerak-keraknya. Penyebabnya berentet: jatuhnya Jawa ke Inggris pada awal 1800an, Perang Aceh, kemudian disusul Perang Diponegoro. Belanda mesti mencari cara supaya Perang Diponegoro selesai. Tipu muslihat? Tentu. Tetapi Belanda benar-benar mengetahui bahwa Keraton Yogyakarta kurang bersatu. Ada konflik internal yang kemudian dimanfaatkan dengan baik. Selain itu, pasukan Diponegoro juga kehabisan “nafas”.

Diponegoro

Diponegoro digambar dengan arang oleh seorang tukang gambar keraton Yogyakarta saat beliau akan menikahi istri pertamanya; ini merupakan gambar satu-satunya di mana beliau memakai beskap (dari buku Peter Carey)

Buku ini juga mengupas Babad Diponegoro, sebuah buku harian yang ditulis selama tiga tahun oleh Pangeran Diponegoro sendiri dalam bahasa Jawi (bahasa Jawa dalam huruf hijjaiyah gundul). Babad Diponegoro ditulis selama beliau menjalani hidup sebagai eksil di Makasar. Buku ini juga berisi gambar sketsa dan lukisan yang apik. Yang lebih kontroversial mungkin “skandal” Pangeran Diponegoro dengan seorang tukang pijat warga keturunan. Cerita ini ditulisnya sendiri dalam nada yang menyesal; meski pada akhirnya Carey mesti melakukan interpretasi sendiri terhadap makna di balik itu.

Perang Diponegoro memang berakhir dengan kekalahan Diponegoro, dan kembalinya Jawa secara penuh kepada Belanda. Tetapi Diponegoro menyiratkan (bahkan menyuratkan) persona yang dualis (seorang Jawa yang kebetulan memeluk Islam); seseorang yang mempunyai kharisma, daya, dan dana untuk menghancurkan musuh; seorang yang berperangai tenang tapi juga strategis dan heroik; seseorang yang menjadi eksil tanpa perlawanan.

Akhir dari Perang Diponegoro bukan akhir yang tragis. Tapi akhir yang menyebabkan Yogyakarta tak lagi disebut sebagai Versailles of Java, sebuah kota indah dengan ornamen serta langgam penduduk yang sophisticated.

***

Intermezzo: sejumlah lukisan menyerahnya Pangeran Diponegoro menurut beberapa versi dan interpretasi.

1) De onderwerping van Diepo Negoro aan luitenant-generaal De Kock (Menyerahnya Pangeran Diponegoro kepada Letnan Jenderal De Kock), 28 Maret 1830, yang disimpan di Rijksmuseum Amsterdam,  karya Nicolaas Pieneman (yang tidak pernah menjejakkan kaki ke jawa)

Nicolaas_Pieneman_-_The_Submission_of_Prince_Dipo_Negoro_to_General_De_Kock

2) Penangkapan Pangeran Diponegoro, 1857 (Raden Saleh)

capture7126

3) Indieguerillas atau Gerilyawan di Hindia Belanda, 2013 (Santi Ariestyowanti) – dengan meminjam gaya komik Tintin karya Hergé

diponegoro-herge

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s