Ekonomi Jepang (2)


Lanjutan dari Ekonomi Jepang (1)

Ekonomi Jepang mencapai titik tertinggi pada 1970-an. Pertumbuhan ekonomi mencapai dua angka. Ini membuat Amerika Serikat gelisah karena gelar negara adikuasa bisa pindah ke Asia.

Namun, satu dekade kemudian, Jepang memasuki fase antiklimaks pada 1980-an. Ekonomi Jepang terus menurun meskipun ia masih membayangi Amerika di tempat kedua dalam hal Hasil Bruto Dalam Negeri (GDP) selama hampir dua dekade. Tahun lalu, China mengambil alih tempat Jepang. Jepang kini menjadi nomor tiga. Ini membuat Jepang bak kebakaran jenggot. Ekonomi China meningkat karena banyak negara maju membangun pabrik di sana. Negara maju terus menginvestasikan uangnya karena gaji karyawan di China relatif murah, tetapi daya produksi dan keterampilan karyawan sangat tinggi.

Kini Jepang yang ganti gelisah. Saat ini, Barat dan negara lainnya melihat Asia Timur dengan dua bola mata yang terbagi dua: China dan Jepang. Jepang bukan lagi tujuan tunggal di Asia Timur.

Jepang harus melakukan sesuatu. Oleh sebab itu, ia menyiapkan strategi ekonomi-politik jangka pendek dan jangka panjang.

Strategi Jangka Pendek

Menteri Luar Negeri Jepang, Seiji Maehara, meninjau kembali bantuan pembangunan luar negeri (Overseas Development Assistance atau ODA) ke China yang telah diberikan Jepang sejak 1970-an. ODA berupa bantuan hibah langsung (grant aid) yang berbentuk pinjaman dengan bunga rendah dan kerjasama teknis. Pada 2008, ODA yang diberikan Jepang ke China senilai 5.4 milyar yen. Alasan revisi ODA: ekonomi China sudah cukup mapan, maka bantuan keuangan kepada China sudah tidak diperlukan lagi.

Namun, sejumlah pihak di dalam pemerintahan Jepang sendiri melihat bahwa bantuan untuk China tetap penting  karena menguntungkan secara politik. Bantuan Jepang kepada China dapat

  • Menurunkan sentimen anti-Jepang karena penjajahan Jepang selama Perang Dunia II
  • Mempermudah pedagang Jepang di China dalam melakukan alih teknologi sehingga pabrik-pabrik mereka dapat menjadi lebih produktif

Maehara akan menentukan apakah Jepang masih akan membantu China pada bulan Juni.

Strategi Jangka Panjang

Untuk strategi jangka panjang, Jepang kembali ke hal yang mendasar, yaitu pendidikan globalisasi (penyejagatan). Pendidikan globalisasi dapat berhasil bila sekat sosial antara warga Jepang dengan warga asing semakin tipis. ‘Jembatan’ dengan warga asing dapat dibangun dengan mengajar bahasa Inggris dan pengajaran ini harus dimulai sejak awal.

Jepang sadar bahwa di kawasan Asia, nilai Pengajaran Bahasa Inggris sebagai bahasa Asing (TOEFL) siswanya antara yang terendah – berarti penguasaan siswa Jepang dalam bahasa Inggris juga rendah. Pada 2004 dan 2005, nilai TOEFL Jepang hanya 191. Afghanistan saja melewati Jepang dengan 198. Negara yang paling tinggi di Asia dalam nilai TOEFL adalah Singapura yang siswanya meraih 254. Oleh sebab itu, mulai 1 April 2011 (permulaan tahun fiskal Jepang), bahasa Inggris akan diajarkan kepada siswa sekolah dasar kelas lima dan enam. Pelajaran bahasa Inggris akan diajarkan sekali dalam seminggu.

Sebenarnya sejak 2007, pemerintah Jepang sudah melatih 400 ribu guru sekolah dasar dalam bahasa Inggris. Beberapa sekolah, khususnya di daerah pedesaan, akan mempekerjakan guru pembahasa asli (native speaker). Di Sekolah Dasar itu, guru-guru tidak hanya memperkenalkan kosakata dan ungkapan dalam bahasa Inggris, tapi juga budaya dari luar Jepang.

Sepertinya Jepang agak tertinggal dibandingkan negara Asia lainnya dalam pengajaran bahasa Inggris. Thailand mulai mengajar bahasa Inggris pada 1996; Korea Selatan melakukannya pada 1997; China juga meniru langkah ini dengan mengajarkan bahasa Inggris pada 2001.

Sayangnya, tidak semua orang Jepang setuju dengan rencana jangka panjang ini.

Kumiko Torikai dalam bukunya Ayaushi! Shogakko Eigo (‘Berbahaya! Bahasa Inggris di Sekolah Dasar’) menyatakan bahwa tidak ada bedanya antara mereka yang belajar bahasa Inggris sejak kecil dengan mereka yang belajar ketika dewasa. Torikai setuju jika bahasa Inggris cukup diberikan sejak sekolah menengah.

Meskipun ada protes di sana sini, pemerintah Jepang akan tetap meluncurkan program bahasa Inggrisnya bulan depan. Penyejagatan dalam bahasa Inggris jauh lebih mendesak.

Yang beruntung dari langkah pemerintah Jepang ini adalah lembaga-lembaga bahasa Inggris. Mereka membantu pemerintah dalam merancang kurikulum. Banyak orang tua yang bakal mengirim anaknya untuk mengikuti kursus bahasa Inggris setelah berjam-jam di sekolah atau pada akhir pekan. Ini semua demi penyejagatan.

Ekonomi Jepang (1)


Ditulis 22 Feb 2011

Selama lebih dari empat dekade, Jepang menjadi runner-up Produk Domestik Bruto (GDP) terbesar di dunia, setelah Amerika Serikat. Tapi tidak untuk tahun 2010. China kini menggantikan Jepang dengan GDP sebesar $5.88 bilyun. Pada 2009, GDP China mencapai $4.98 bilyun. Ini berarti kenaikan GDP China mencapai Sebenarnya GDP Jepang juga naik, namun kenaikannya hanya 8% (dari $5.09 bilyun pada 2009 menjadi $5.47 bilyun pada 2010). China menang tipis.

‘Kemenangan’ China dalam GDP ini lebih khususnya disebabkan kenaikan ekonominya pada kwartal kedua (Maret – Juni). Ditambah lagi, ekonomi Jepang yang menciut 1.1% antara bulan Oktober dan Desember 2010. Dua sebab inilah yang agaknya mendongkrak GDP China pada 2010, dan membuat ranking Jepang merosot menjadi nomor 3.

Merosotnya ekonomi Jepang ini sebenarnya sudah dirasakan sejak pertengahan 80an. Namun, meskipun begitu, Jepang masih terus bertahan di posisi dua setelah Amerika. Kemerosotan tahun lalu benar-benar membuat Jepang harus berhati-hati.

Apakah yang terjadi di Jepang tahun lalu?

GDP dapat dihitung dari beberapa aspek, yaitu kemampuan belanja penduduk, investasi, kemampuan belanja pemerintah dan perbedaan (net) ekspor dan impor.

Tahun lalu Jepang mengalami tantangan dalam banyak aspek itu. Tantangan ini juga diperburuk dengan masalah politik dalam negeri yang kurang stabil.

Ketika Yukio Hatoyama yang berasal dari Partai Demokratik Jepang (DPJ) menjadi Perdana Menteri Jepang pada September 2009, penduduk Jepang memiliki harapan besar. Budaya buruk dari rezim sebelumnya, yaitu di bawah Partai Liberal Demokratik (LDP), diharapkan hilang. Harapan rakyat Jepang ini wajar karena Hatoyama memberikan janji politik yang pro-rakyat selama kampanye.

Janji-janji itu, di antaranya, adalah pemindahan pangkalan militer Amerika dari Okinawa. Selain itu pemerintah akan berinvestasi dalam dunia penelitian dan pendidikan. Subsidi anak akan dinaikkan jadi lima kali lipat (dari 5,000 yen menjadi 26,000 yen; 1 yen = Rp 106).  Jepang juga akan mempersiapkan diri menghadapi globalisasi. Bantuan lebih banyak akan diberikan kepada penduduk miskin.

Memang, beberapa janji sudah ditepati Hatoyama, yaitu kenaikan subsidi anak. Namun kenaikannya hanya mencapai 13,000 yen, karena Jepang sendiri sedang krisis. Sedangkan janji-janji lain belumlah terlaksana.

Hatoyama juga pernah terlibat skandal keuangan, yaitu terlambat melaporkan pajak pribadi yang besarnya hampir 500 juta yen. Yang paling kritis: Hatoyama sebenarnya tidak memiliki rencana apapun tentang pangkalan militer di Okinawa! Isu pangkalan militer Amerika ini memang masalah pelik karena Jepang akan mengalami dilema politik. Jepang dihadapkan pada dua pilihan: jika AS hengkang dari Okinawa maka Korea Utara boleh jadi menyerang jepang; tapi jika AS tetap di Okinawa, penduduk setempat merasa terganggu dengan pangkalan-pangkalan itu & Jepang belum ‘merdeka’. Oleh karena itu, pangkalan Amerika masih tetap berada di Okinawa hingga hari ini.

Catatan: di Asia Tenggara, pangkalan militer AS ada di Singapura, Filipina dan lainnya. Indonesia tidak bersedia ditempati AS.

Masalah politik ini agaknya membuat penduduk Jepang putus asa dengan masa depannya sendiri.

Tak lama kemudian, pergantian perdana menteri pun terjadi. Pada 2 Juni 2010, Hatoyama mengundurkan diri. Ia digantikan Naoto Kan yang ketika itu menjabat Menteri Keuangan.

Kan melihat bahwa ekonomi Jepang memang ‘sakit’: kebijakan ekonomi yang pro-rakyat di era Hatoyama membuat utang Jepang mencapai paras 137% dari GDP. Kan berencana memotong anggaran yang tidak perlu agar utang Jepang menurun. Misalnya, kenaikan subsidi anak menjadi 26,000 yen dibatalkannya. Di satu sisi, ini memang menguntungkan ekonomi. Namun, ia membuat penduduk Jepang kecewa. Hari ini, subsidi anak hanya akan diberikan hingga bulan Oktober saja, dan besarnya 13,000 yen per bulan untuk satu anak. Alasannya: membantu korban tsunami dan krisis nuklir di Fukushima.

Subsidi pemerintah Jepang untuk pembelian mobil tidak akan dilanjutkan pada 2010. Ini membuat penduduk Jepang tidak menukar mobil butut mereka dengan mobil yang terbaru. Secara nasional, kemampuan belanja masyarakat Jepang untuk barang mewah juga menurun.

Selain itu, pada 1 Oktober 2010, pemerintah Jepang menaikkan harga rokok hingga 140 yen. Akibatnya jelas: pembelian rokok menurun drastis dan pendapatan pajak rokok juga turun.

Perusahaan mobil terbesar Jepang (bahkan dunia), yaitu Toyota, mengalami kerugian jutaan yen karena harus me-recall mobil-mobilnya dari Amerika tahun lalu. Kondisi ini membuat Toyota tidak mampu menyerap tenaga kerja sebanyak dulu.

Kondisi ekonomi dalam negeri ini juga diperburuk dengan menguatnya nilai yen terhadap dolar Amerika. Satu dolar Amerika mencapai 82.98 yen pada 15 September 2010. Akibatnya pendapatan perusahaan Jepang dari ekspor menurun dengan banyaknya. Bahkan pada 5 Mei lalu, $1 berada di bawah 80 yen.

Untuk masalah tenaga kerja, karena pabrik Jepang sebagian dipindah ke negara-negara yang ongkos buruhnya rendah maka  perusahaan Jepang tidak dapat menyerap tenaga kerja lagi. Sedikitnya 20% lulusan universitas Jepang tidak mendapat pekerjaan tahun ini. Ini pula yang membuat kemampuan belanja di dalam negeri juga turun.

Kembali ke masalah GDP, memang GDP tidak mencerminkan kesejahteraan penduduk. GDP per kapita penduduk Jepang masih 10 kali lebih tinggi dari China. Perbedaan pendapatan di Jepang juga kecil sehingga secara sosial orang Jepang tidak bergejolak. Agaknya, ini juga alasan mengapa Sekretaris Kabinet Yukio Edano menyatakan bahwa Jepang menyambut pertumbuhan China yang sudah mengalahkan Jepang.

Di balik itu, Jepang masih percaya diri bahwa penduduknya masih lebih sejahtera, dan kesejahteraan ini relatif merata. Jepang juga tengah menyiapkan beberapa langkah untuk membantu ekonominya, yaitu dengan menjalin perdagangan bebas dengan India. Pada September 2011, kerjasama Jepang-India akan diresmikan.

Agaknya Jepang memang masih ingin kembali menjadi nomor dua. Untuk menjadi nomor satu agaknya sulit dan mungkin memerlukan waktu beberapa dekade: GDP Amerika masih tiga kali lipat dari Jepang dan China.

Japan Inc.


Akhir-akhir ini warga Jepang di belahan lain dunia dirundung malang.

Di Selandia Baru, gempa 6.3 skala Richter pada 22 Februari 2011 ‘melenyapkan’ 27 siswa Jepang di reruntuhan bangunan CTV King ‘s Education. Di sekolah itu, banyak siswa Jepang belajar bahasa Inggris.

Di Afrika Utara, tepatnya Mesir dan Libya, revolusi politik membuat warga Jepang melarikan diri dari kedua negara itu. Sekitar 200 orang (dari 1.600 penduduk Jepang di Mesir) keluar dari Kahirah dan puluhan warga Jepang keluar dari Libya.

Di Jepang sendiri, ‘Jepang Inc’ (sebutan media Barat untuk Jepang) terancam ‘tutup’ (shut down) pada Juni 2011. Ketika itu semua kantor pemerintah tutup. Harga makanan juga diperkirakan naik. Tutupnya Japan, Inc. ini terjadi jika anggaran 44 triliun yen dari 92.4 triliun yen yang diusulkan Perdana Menteri Naoto Kan yang seharusnya diluncurkan Maret ini tidak disetujui oleh dewan tinggi parlemen.

Berbeda dari negara-negara lain yang memulai tahun fiskalnya pada Desember, lembaran Jepang dimulai pada April. Oleh karena itu, pada Maret ini pemerintah Jepang harus mengusulkan anggaran yang akan dipakai antara April 2011 dan Maret 2012.

Dari 92.4 triliun yen usulan PM Kan, sebagian akan digunakan untuk perawatan sosial (31.1 persen), biaya utang (23.3 persen), keringanan pajak perusahaan (18.2 persen), pendidikan (6 persen), pembangunan fasilitas publik (5.4 persen) dan pertahanan ( 5.2 persen). Sisa 22.5 triliun yen akan digunakan sebagai cadangan. Secara sekilas, usulan anggaran ini memang demi kesejahteraan penduduk Jepang.

Bajet perawatan sosial sebesar 31.1 persen memang cukup besar. Sepuluh tahun lalu, perawatan sosial hanya membentuk 19.7 persen dari seluruh anggaran.

Strategi baru dari PM Kan adalah pemotongan pajak untuk perusahaan watan agar ekonomi Jepang meningkat. Namun, di sisi lain pajak penghasilan akan dinaikkan.

Usulan anggaran, terutama anggaran yang terkait dengan subsidi anak, biaya pensiun, pemotongan pajak perusahaan dan gaji karyawan pemerintah, agaknya sulit menembus parlemen.

Apa penyebabnya?

(1) Faktor eksternal Partai Demokratik Jepang (DPJ).

Dalam perdebatan di parlemen dua minggu lalu, mayoritas anggota Dewan Tinggi tidak mendukung usul anggaran Kan. Dewan Tinggi dikuasai oposisi Partai Demokrat Liberal (LDP) dan Komeito Baru.

(2) Faktor internal DPJ

Perpecahan terjadi di dalam DPJ. Seorang anggota parlemen DPJ secara mendadak mengundurkan diri dan 16 nggota lainnya mengancam akan mundur juga.  Mereka merasa bahwa Kan tidak adil terhadap Ichiro Ozawa, bekas Sekretaris Jenderal yang menjadi arsitek kemenangan DPJ pada pemilu yang lalu. Kejadian itu karena Kan membekukan sementara status keanggotaan Ozawa dalam DPJ. Rendahnya dukungan dari internal parlemen sendirilah yang akan membuat Jepang mengalami krisis bulan Juni nanti.

Namun, Kan bisa mengambil beberapa strategi untuk menghindari krisis. Misalnya, mengubah usul anggaran (yang berarti merubah manifesto DPJ), membuat koalisi dengan Komeito Baru agar usulannya direstui Dewan Tinggi atau memperoleh dukungan 67 persen anggota di Dewan Rendah.

Strategi yang mungkin bagus untuk Kan adalah toleransi politik dengan partai oposisi. Kan harus segera melakukan pertemuan tidak resmi dengan LDP dan Komeito di luar parlemen. Tujuannya untuk mengubah usulan anggaran agar ia juga menampung usulan LDP dan Komeito.

LDP sebenarnya juga prorakyat (membela rakyat). Hanya saja ia menolak usul kenaikan pajak penghasilan. Selain itu, LDP juga ingin produksi – misalnya kenaikan subsidi anak di bawah usia tiga tahun dari 13.000 yen menjadi 20,000 yen sebulan itu – dihapus.

Meskipun krisis dapat dihindari, dukungan DPJ kepada Kan sebagai perdana menteri mungkin menurun. Ini disebabkan kubu Ozawa dan bekas perdana menteri Yukio Hatoyama masih cukup kuat di dalam DPJ.

Penggantian perdana menteri ini bisa terjadi pada 2011 jika Kan kurang berhati-hati. Selain itu, dukungan penduduk Jepang ke Kan memang sudah di level 21 persen. Penyebab turunnya dukungan ini karena Kan tidak mengeluarkan Ozawa dari DPJ. Popularitas Kan masih ‘aman’ oleh kebijakan prorakyat yaitu memberikan subsidi kepada penduduk Jepang. Jadi, jika Kan salah memilih strategi politik, maka ada dua kemungkinan bisa terjadi:

Pertama, Jepang mengalami shut down pada Juni 2011, atau kedua, parlemen (khususnya DPJ) meminta Kan mengundurkan diri dan menggantinya dengan anggota DPJ lain. Menteri Luar Negeri Seiji Maehara agaknya menjadi calon kuat dari DPJ.

Jika Jepang mengalami shut down, berarti kondisi serupa dilalui Amerika Serikat pada akhir 1995 sampai awal 1996. Di era pemerintahan Bill Clinton itu, usul anggaran dibantah Kongres yang dikuasai Partai Republik. Akibatnya, 368 layanan publik di Amerika seperti taman, museum dan monumen ditutup. Layanan imigrasi juga tutup dan gaji pegawai pemerintah tidak dibayar. Ini menyebabkan bisnis di Amerika dilanda kerugian miliaran dolar. Pada akhirnya, penduduk Amerika memang tidak menyalahkan rezim Clinton, melainkan kongres Amerika. Namun, nasi sudah menjadi bubur. Rakyat juga yang menderita.

Agaknya memang ada benarnya ajaran guru saya dulu: ilmuwan masih bisa salah (dalam hal data atau kesimpulan), namun politisi jangan sekali-kali salah karena yang terpengaruh adalah rakyat.

Womenomics


Dalam sebuah wawancara dengan koran Mainichi Shimbun, duta besar Amerika Serikat (AS) untuk Jepang John V. Roos mengatakan bahwa aset terbesar Jepang yang belum sepenuhnya diberdayakan adalah kalangan wanitanya. Padahal, jika Jepang berhasil memanfaatkan kemampuan wanitanya maka pendapatan (GDP) Jepang bisa naik 15%. Ini berdasarkan laporan Goldman Sachs antara 1999 dan 2005. Goldman Sachs menyebutnya ‘womenomics’.

Apakah womenomics?

Womenomics secara sederhana berarti pergerakan roda ekonomi yang laju-lambatnya ditentukan oleh kemampuan wanita dalam bekerja untuk menghasilkan uang, menginvestasikan dan membelanjakannya.

Meskipun ekonomi Jepang menurun dua dekade ini, wanita Jepang agaknya masih ‘rajin’ gonta-ganti handphone; mengakses internet; membeli komputer, mobil mini, apartemen, perhiasan dan benda bermerek terkenal.  Wanita Jepang membelanjakan ¥173,183 (Rp 17.3 juta) setiap bulan. Jumlah ini memang lebih kecil dibandingkan pria Jepang yang menghabiskan ¥194,938 per bulan. Namun, kemampuan belanja pria sebenarnya mengalami penurunan 1.6% per tahun, sedangkan kemampuan belanja wanita Jepang malah naik 4.6% per tahun.

Dari uang bulanan sebesar ¥173,183 itu, wanita Jepang memakai 64.6%-nya untuk kebutuhan sekunder (misalnya perabot rumah, pakaian, telepon, barang bermerek dan internet; 24.1%), rumah (20.3%) dan makanan (20.2%). Oleh karena itu, pebisnis Jepang cenderung fokus kepada segmen pasar yang baru, yaitu wanita Jepang.

Selain ‘kemampuan’-nya berbelanja, wanita Jepang juga dikenal berumur panjang. Menurut data menurut Central Intelligence Agency (CIA) jumlah wanita Jepang per Juli 2010 adalah 65.1 juta dari 126.8 juta penduduk Jepang (51.4%). Dalam hal ini komposisi wanita yang berusia di atas 60 tahun lebih banyak dari pria Jepang. Secara rata-rata wanita Jepang mampu hidup sampai 84 tahun, sedangkan lelakinya ‘hanya’ bisa hidup sampai 77 tahun. Rendahnya jumlah pria Jepang sebagian disebabkan oleh bunuh diri.

Mengapa penduduk wanita berumur di atas 60 tahun merupakan aset yang berharga?

Mereka yang berumur di atas 60 tahun umumnya mempunyai simpanan ¥9.6 juta (Rp 960 juta) di bank. Jumlah ini 60% lebih banyak daripada tabungan laki-laki Jepang. Oleh karena itu wanita Jepang usia tua disebut juga ‘investor masa depan’.

Namun, womenomics di Jepang masih menghadapi banyak tantangan. Di Jepang, jumlah wanita karir masih berada pada level 55%. Ini berada di bawah AS atau Inggris, di mana masing-masing berada pada level 62 dan 61%.

Mengapa demikian?

Pertama, ketika berusia antara 25-29 tahun wanita Jepang tidak bekerja secara penuh (full-time); melainkan hanya bekerja paruh waktu (part-time). Ini membuat jumlah pengangguran nampak semakin naik (employment diukur dari jumlah pekerja full-time). Laju pengangguran mencapai 5% tahun 1995. Penyebabnya: perusahaan mengubah status kerja wanita dari pekerja penuh ke paruh waktu. Ini merupakan cara perusahaan Jepang untuk memangkas biaya non-gaji, seperti bonus, asuransi, dan keuntungan yang lain.

Kedua, ketika berumur 30 – 44 tahun, wanita Jepang tidak dapat bekerja karena sibuk mengurus anak. Jumlah penitipan anak (hoikuen) di Tokyo dan beberapa kota besar lainnya sangat sedikit, dan ini membuat wanita tidak sempat bekerja untuk membantu ekonomi rumah tangga.

Ketiga, bisnis di Jepang kurang mendukung karir wanita. Wanita yang bisa meraih posisi tinggi di suatu perusahaan masih sedikit dibandingkan negara maju lainnya. Perusahaan dipandang sebagai ‘wilayah laki-laki’, sedangkan rumah tangga adalah ‘wilayah wanita’. Jenjang pendidikan yang tinggi tidak serta merta membuat wanita bisa menjadi manajer atau direktur di suatu perusahaan. Memang akhir-akhir ini banyak wanita Jepang menjadi anggota parlemen, menteri atau CEO. Namun jumlahnya masih di bawah AS dan negara-negara maju lainnya.

Karena tiga sebab inilah womenomics masih merupakan konsep yang sekuler di Jepang.

Vogel


Pikiran yang resah, barangkali juga kagum, dapat melahirkan buku yang populer. Pada tahun 1979, Ezra Vogel menerbitkan buku bertajuk Japan as Number One: Lessons for America. Buku ini diinspirasi oleh kemajuan Jepang selama kurang dari dua dekade antara akhir 1950an hingga 70an. Jepang mampu memerintah dengan efisien, mendidik rakyatnya untuk bekerja keras, mencari sumber energi baru, meningkatkan pendidikan formal, menurunkan angka kriminalitas dan pengangguran, mereduksi pencemaran udara dan membuat segalanya sendiri. Kata “demokrasi” yang digaungkan Amerika untuk mencapai kemajuan barangkali tidak dipakai di Jepang. Jepang punya ‘Japanese values‘.

Gagasan Vogel dalam buku ini sebenarnya mengidap dikotomi: ketakutan Amerika karena peradaban dunia dapat pindah ke Jepang, atau Jepang suatu hari nanti (dengan Japanese values-nya) mengalami kemunduran.

Bagaimana peradaban pindah ke Jepang?

Usainya periode Sankoku pada 1868 (periode ketertutupan Jepang  terhadap bangsa asing selama hampir 200 tahun) menandai permulaan jaman yang baru, yaitu Restorasi Meiji. Buku karangan Yukichi Fukuzawa berjudul Gakumon no Susume jadi buku pegangan. Jepang agresif mempelajari ilmu pengetahuan dan teknologi dari AS dan Eropa (khususnya Jerman Barat). Jepang tidak hanya pandai mengadopsi ilmu-ilmu dasar, ia juga pandai mengemas, mencari nilai fungsional dan menjual teknologinya. Proses adopsi teknologi yang dilakukan Jepang kadang cepat kadang juga lambat. Tetapi tujuan akhirnya jelas: suatu teknologi harus dikuasai hingga detil-detilnya.

  • Enam tahun setelah Bell Laboratories AS mempatenkan transistor pertama (baca True Genius: The Life and Science of John Bardeen), Sony Corporation menjual televisi transistor di dunia pada 1958
  • Lima puluh tahun setelah Henry Ford menghasilkan mobil Model-T, Toyota Camry masuk pasar AS pada 1958
  • Lima puluh sembilan tahun setelah Wright bersaudara melakukan terbang perdana di Kitty Hawk, Dayton, Ohio, Jepang mendesain dan menerbangkan pesawat turbo propeller Ys-11 pertama pada 1962 (khusus untuk pesawat terbang, Jepang sudah bisa membuat pesawat tempur pada pertengahan 1930an)

Bareng Olit di depan pesawat YS-11 (Tokorozawa Aviation Museum, Jan 2010)

Peradaban sebuah negara seperti Jepang sehingga mencapai tingkat lanjut (advanced) dibangun dalam sebuah negara yang infrastruktur masyarakatnya (secara multidimensi: sosial, ekonomi, politik, pendidikan) berbeda dari AS.

Sosial: orang Jepang selalu menjaga kompatibilitas sosial (harmoni). Konfrontasi secara terbuka tidak disukai di Jepang. Mayoritas orang Jepang relatif jujur, dan ini juga membuat angka kriminalitas rendah.

Ekonomi: orang Jepang gemar belajar, pekerja keras, produktif dan setia ke tempat kerja. Tidaklah mengherankan jika ribuan perusahaan kecil-menengah (small-medium Enterprises) mampu menciptakan produk-produk terbaru, dan tumbuh menjadi perusahaan raksasa.

Politik: Sejak 1955 Jepang dikuasai Partai Demokrat Liberal (LDP). Para politisi LDP menyediakan kebutuhan pokok hidup orang Jepang seperti kesehatan (untuk warganya panjang usia), pendidikan (untuk warganya tidak buta huruf) dan pensiun (agar warganya tetap hidup layak saat pensiun). Partai ini bertahan hingga 2008; dikalahkan Partai Demokrasi Jepang.

Pendidikan: Kurikulum pendidikan menengah Jepang lebih maju dari negara-negara lain. Dana penelitian Jepang menyaingi AS dan Jerman Barat pada akhir 1970an itu (mencapai 3% dari GDP).

Periode ‘konsentrasi penuh membangun negerinya’ setelah Perang Dunia II membuat Jepang tidak sadar bahwa masalah lain juga muncul. Globalisasi (baca postingan sebelumnya) belum sepenuhnya direspon oleh Jepang. Dalam era global ini semangat internasionalisasi-nya tidak seagresif China atau India. Misalnya, tidak banyak profesor Jepang yang mengajar di AS dan Inggris kecuali mengajar bahasa atau kebudayaan. Orang Jepang juga belum banyak menjadi tokoh-tokoh penting dalam politik internasional maupun perusahaan besar dunia. Selain itu masalah dalam negeri Jepang juga banyak: rendahnya angka kelahiran, tingginya angka bunuh diri, besarnya utang Jepang (hampir dua kali pendapatan), tidak stabilnya politik setelah LDP jatuh, intervensi kedaulatan wilayah, tingginya biaya hidup, dan peningkatan jumlah karyawan non-permanen.

Oleh karena itu, buku Japan as Number One bernafas kontekstual atau terikat waktu. Bahkan mantan Perdana Menteri Jepang, Yasuhiro Nakasone yang berkuasa antara 1982 – 1987 menyatakan bahwa buku itu menceritakan Jepang pada zaman ‘keemasan’ saja. Wajah politik yang digambarkan Vogel sudah tidak ada lagi hari ini. Pada 2001, Vogel menerbitkan satu buku berjudul Is Japan still Number One?. Walaupun judul buku itu nampak apologetik  ia menanyakan hal yang sahih: apakah benar Jepang masih nomor satu?

Menurut Ernst and Young, dalam hal investasi, Cina memiliki daya tarik yang sama dengan dengan Jepang pada tahun 2008. Negara-negara Asia lainnya juga semakin menarik untuk investasi, seperti India, Hong Kong, Singapura, Korea Selatan dan Vietnam. Hari ini ekonomi China sudah mengalahkan Jepang.

Delapan tahun setelah buku kedua buku keduanya terbit, Vogel datang ke Jepang. Seminar pada 30 Oktober 2009 di Canon Institute for Global Studies (CIGS), Tokyo, itu berjudul ‘Japan as Number One Revisited’. Vogel dan pembicara lain tetap optimis bahwa Jepang dapat keluar dari masalahnya. Ini disebabkan Jepang sudah melihat apa dua persoalan besar yang dihadapinya: globalisasi dan angka kelahiran. Tinggal bagaimana pemerintah Jepang yang kini dipimpin Partai Demokratik Jepang menyelesaikan dua masalah itu.

Ekonomi


Majalah TIME bulan Agustus 08 memuat artikel yang ditulis Bill Gates. Judulnya How To Fix Capitalism, Bagaimana Memperbaiki Kapitalisme. Dia memperkenalkan “creative capitalism”, yang sebenarnya bukan teori ekonomi dan bukan alat memperbaiki kapitalisme. Tapi ia adalah sebuah jawaban dari pertanyaan: bagaimana kita menyebarkan keuntungan dari kapitalisme dan kemajuan kualitas hidup kepada masyarakat yang masih tertinggal. Lewat yayasan Bill & Melinda Gates, misinya sederhana: to help create a world where no one has to live on a dollar a day or die from a disease we know how to prevent. Kapitalisme kreatif juga sudah diterapkan di beberapa perusahaan. GAP: setengah dari profit penjualan tshirt PRODUCT (RED) diberikan kepada wanita dan anak-anak Afrika yang terinfeksi HIV/AIDS. TOMS: perusahaan Santa Monica, Calif., dengan misi sederhana: kita beli sepasang sepatu & mereka akan memberikan sepasang sepatu lagi kepada anak yang kurang mampu. Grameen Bank: memberikan pinjaman usaha kecil kepada rakyat untuk memulai bisnis sendiri.

Sekarang, bagaimana masa depan orang miskin di tengah krisis ini?

Resesi ekonomi sudah terasa bulan Agustus itu, tapi TIME hanya membuat satu halaman saja untuk ini. Bulan Oktober, TIME dan juga Newsweek sudah mulai “mengkampanyekan” hancurnya kapitalisme, resesi global, krisis ekonomi ke-2, lewat sampul yang putus asa, seperti misal: uang yang dibakar, antrian panjang untuk free meal di masa Great Depression, kacaunya pasar modal dll. 

Saya tidak mengerti kenapa tiba-tiba ekonomi jadi ambruk, tidak ngerti cara kerja pasar modal, tidak tahu apa yang terjadi di Amerika. Oleh sebab itu, beli majalah Amerika supaya tahu apa yang terjadi. TIME dan Newsweek membicarakan Amerika saja, atau perspektif Amerika terhadap kejadian global, seperti krisis ini. Tapi beberapa bulan terakhir, dua topik hangat adalah pemilu presiden dan krisis.

Obama, yang akhirnya jadi presiden terpilih, punya pekerjaan rumah yang sulit. Sulit karena tak ada yang tahu apa solusinya, dan solusinya (jika ada) hanya bisa diketahui setelah coba-coba melempar kebijakan ini-itu dalam masa beberapa tahun (atau jangka panjang). Obama, yang sangat pandai berpidato, yang sering menggunakan jargon-jargon dan kalimat panjang yang susah dimengerti orang awam, akhirnya mendengarkan penasihatnya: use laymen terms. Ia lalu memperbarui kampanyenya dengan satu solusi pendek: This is what Americans need: J.O.B.S alias pekerjaan. Banyaknya layoff atau PHK membuat pasar domestik jadi lesu, tak ada pembeli, keuntungan pasar menurun. Beberapa kawan di San Jose sudah kena pecat; bukan karena kerja mereka tidak bagus, tapi karena perusahaan tidak mampu lagi membayar gajinya yang tinggi. Tak ada pilihan lain kecuali harus cari pekerjaan baru. Amerika murung. 

Perang Iraq barangkali kutukan. Dulu, ketika AS menduduki Iraq dan berhasil menggantung Saddam Hussein, Bush puas. Tapi AS segera merasakan dampaknya: banyak orang jobless sehingga mereka kembali ke kampus untuk upgrade atau untuk “melarikan diri” dari status pengangguran. Jumlah imigran ke sana makin dibatasi. Beberapa tahun lalu, pasar Amerika bangkit lagi, tapi kemudian bank makin gila memberikan pinjaman ke orang ramai supaya mereka bisa rumah. Satu rumah masih kurang, belilah dua. Ketika dua rumah dimiliki, orang mencari pinjaman lagi untuk mengisi rumah itu dan membeli mobil. Kredit jadi mudah di Amerika. Jika kita tidak qualified, mereka akan menjembatani kita supaya qualified. Karena hutang menumpuk, orang tak sanggup membayar hutang. Apalagi orangnya di-PHK. Kredit macet. Orang yang seharusnya tidak layak dapat pinjaman akhirnya benar-benar tidak bisa membayar hutang. Ini yang dinamakan sub-prime mortgage. Diperparah lagi dengan kenyataan bahwa negara tidak mau menalangi (bail-out). Alasannya: Bush mau cuci tangan. Dia membiarkan Obama atau McCain yang memutuskan. Obama sepertinya mau menalangi utang-utang rakyatnya. Bijakkah? Entahlah. Tidak ada solusi lain untuk membayar hutang kecuali ya membayar hutang itu sendiri (plus bunganya, jangan lupa).

Ekonomi ini ilmu yang paling buram bagi saya. Dia ini non-predictive setelah kita menuhankan kapitalisme. Sentimen pasar jadi penentu. Investasi adalah top-ten terminology. Invest sana, invest sini. Likuiditas dan kapital (bahasa awamnya: lu punya duit berapa di kantong, dan lu punya barang apa di rumah). Bank menjamur. Putar duit lewat investasi dan bunga. I’m lost.

Kapan mulainya krisis ini? Kapan berakhirnya? Tidak ada yang tahu. Namun krisis seperti sekarang ini pernah terasa tahun 1907 di Amerika. JP Morgan mengumpulkan para bankir ternama di Wall Street dan mengadakan rapat dua minggu. Ujungnya, dia berhasil menghimpun dana 25juta dolar dalam waktu 20 menit untuk menalangi krisis. Kini, diperlukan tiga orang, seperti Buffett (investor terkaya di dunia), Dimon (bankir) dan Paulson (Treasury Secretary) untuk melakukan apa yang dilakukan JP Morgan. Penduduk bumi sudah meledak, jadi jumlah yang ditalangi juga besar.

Apa dampak krisis bagi Asia? Karena kita hanya akan beruntung jika memproduksi barang dan dijual ke negeri yang lebih kaya (+ lebih maju), maka ketika kekuatan pasar di negeri itu menurun, keuntungan juga menurun. Produksi jadi macet (seperti juga yang dialami perusahaan saya). Produksi menurun 30%. Efeknya: pegawai dirumahkan (disuruh cuti). Untungnya tidak dipecat. Padahal, PHK sudah ada di mana-mana. DBS Bank sudah memecat 900 karyawannya. Kenapa? Ya, investor tidak ada lagi, kredit macet, pasar modal ambruk. Karena Singapura ini ditopang oleh bisnis perbankan, service dan manufacturing, maka duit dan produk jadi utama. Singapura tidak punya sumber daya alam untuk dimakan, jadinya ya tetap mesti putar duit buat beli dari negeri tetangga seperti Malaysia, Thailand, Vietnam, Indonesia dll. Singapura akan mengalami defisit tahun depan. Pendapatan pemerintah dari pajak lebih kecil dari pengeluaran per tahunnya. Infrastruktur bakal mengalami keterlambatan dalam maintenance, dan pembangunan jadi berkurang. Cina dan India barangkali masih kuat. Mereka punya SDA sendiri. Meski banyak juga perusahaan yang memPHK karyawannya, seperti di Shenzen. Tapi setidaknya mereka masih punya sawah untuk digarap. Sedangkan di Singapura? Nggarap laut ta? Hehe …    

Bagaimana supaya keluar dari krisis? Bagi karyawan seperti saya, mudah saja: berhemat (beli barang yang dibutuhkan saja, bukan yg dinginkan; re-use & share facilities (jangan dikit-dikit beli); tidak berhutang; ataupun kalau punya utang, segera dicicil dan disiplin membayar; menabung (sedikit tidak apa-apa, yang penting nabung). Mungkin, ajaran guru atau ortu kita supaya menabung itu bisa menyelamatkan krisis ekonomi. Tapi sepertinya iya. Karena TIME bilang, bahwa pada akhirnya, yang berhasil menalangi utang global ini adalah penduduk yang bisa berhemat, thrift.